
"Hidup Linling, selamat untuk mu kalau kamu yang turun tangan semua pasti selesai dengan sangat cepat!"
Suara teriakan yang terdengar membuat Lingling tersenyum puas, di luar sana semua orang takut padanya tapi di dalam organisasi pembunuh bayaran semua orang menyukainya.
"Benar, aku sangat iri padamu Lingling, andai aku bisa sekuat dan sepintar kamu dalam menyusun strategi aku juga pasti akan berhasil banyak dalam membunuh target," sahut rekan Lingling.
Mendengar perkataan semua rekannya Lingling kembali hanya tersenyum, dirinya sudah menjadi pembunuh bayaran sangat lama mana bisa rekannya yang amatir dan baru beberapa tahun atau beberapa bulan menjadi pembunuh bayaran menandinginya.
Dooooooooor, dooooooooor, dooooooooor.
Di tengah sorakan kegembiraan atas keberhasilan Lingling membunuh targetnya bersama beberapa rekannya suara tembakan menggema beberapa kali dengan sangat keras, semua mata seketika menatap ke arah Lingling mereka yang terbaring bersimbah darah tepat di jantungnya.
"Lingling bangun, kami akan membawa mu ke dokter."
"Tidak Lingling jangan mati," teriak rekan Lingling yang tulus setia mengagumi Lingling.
Semakin lama suara yang mencoba membangunkannya menghilang, Mata Lingling yang sudah tidak kuat lagi langsung terpejam.
Saat itu di ujung kematiannya Lingling masih tidak habis pikir seseorang telah menghianatinya, siapapun yang menembaknya dirinya berharap orang itu akan mendapatkan penghianatan yang sama seperti dirinya.
"Kenapa, kenapa ini harus terjadi padaku." gumam Lingling pelan walau Lingling menebak mungkin ini karma untuknya.
***
"Lingling bangun, ku mohon Lingling bangunlah jangan mati."
Suara teriakan yang berlari ke arahnya membuat Lingling perlahan membuka matanya. Aku di mana, kata itu yang pertama diucapkan oleh Lingling sesaat setelah membuka mata.
Lingling memperhatikan sekelilingnya dengan penuh kebingungan seperti tidak percaya apa yang dilihatnya saat ini, matanya saat itu tertuju pada puluhan orang yang sedang menyerang hewan legenda yang hanya pernah dibaca di dalam buku cerita saja.
"Bukannya itu Naga?" ucap Lingling tidak percaya apa yang dilihatnya saat ini.
"Aku terlahir kembali. Hahahahaha, aku terlahir kembali," sambung Lingling berteriak keras.
"Lingling, aku tau tidak semudah itu kamu untuk mati," ucap seseorang yang berjalan ke arah Linglingmembawa bambu di tangannya.
__ADS_1
Lingling hanya diam menatap wanita yang berjalan ke arahnya, belum sempat dirinya bertanya siapa dan di mana sekarang dirinya berada tiba-tiba Lingling merasa kepalanya sangat sakit dan tak lama samar-samar ingatan dari pemilik tubuh sebelumnya berputar di kepalanya.
Seorang gadis lemah berusia 17 tahun dari keluarga An yang sangat polos terpaksa mengikuti perburuan naga karena permintaan sang Kakak tiri, tujuan sang Kakak tiri sangat jelas untuk menjebak Lingling agar selamanya lenyap dari muka bumi.
"Kamu kenapa?" tanya Nari teman dekat Lingling seorang kultivator dasar.
"Aku tidak apa-apa," sahut Lingling.
Lingling bergegas mengambil pedang usang di sampingnya dan langsung berdiri, Lingling menatap sosok Naga besar yang tidak jauh darinya berdiri, mata Lingling tidak berkedip melihat Naga itu membunuh semua manusia yang ingin membunuhnya.
"Naga itu sama sepertiku sebelumnya, dia tidak segan membunuh yang mencoba mengancam nyawanya," ucap Lingling sambil tersenyum.
"Kapan kamu pernah membunuh, sama Kakak dan Ibu tirimu saja kamu tidak berani," sahut Nari menggelengkan kepalanya.
"Hei kamu mau ke mana?" teriak Nari yang melihat Lingling berjalan pergi.
"Apa anak itu sudah gila, dia tidak memiliki kekuatan dan tidak bisa bela diri untuk apa dia kembali lagi ke sana, apa dia ingin mati lagi," sambung Nari.
Tidak jauh dari sang Naga yang masih terbang rendah Lingling menghentikan langkahnya dan terdiam, Lingling berpikir apa mungkin dirinya mampu membunuh hewan yang dianggap mitos olehnya dulu.
"Aku tidak ingin membunuhmu, aku sangat yakin aku bahkan tidak bisa melukaimu," sahut Lingling.
"Apa kamu bisa mengerti yang aku katakan?" tanya sang Naga heran.
"Tentu saja, memangnya kenapa?" tanya Lingling balik.
"Hahahahaha. Akhirnya aku menemukan manusia yang selama ini aku cari," ucap sang Naga tertawa keras.
Lingling yang kebingungan hanya mengernyitkan dahinya, apa maksudnya manusia yang dicari sang Naga memangnya apa yang sudah dilakukannya pikirnya.
Sang Naga perlahan turun dan duduk tidak jauh dari Lingling yang kebingungan, tatapan membunuh yang sebelumnya ditunjukan sang Naga ke Lingling kembali menjadi tatapan biasa seperti sebelumnya.
"Kemarilah," ucap sang Naga meminta Lingling berdiri tepat di depannya.
"Apa kamu ingin membunuhku?" tanya Lingling ragu untuk maju, Lingling masih menyayangi nyawanya.
__ADS_1
"Aku tidak akan membunuhmu, kemarilah," sahut Sang Naga.
Lingling berjalan pelan ke arah arah sang Naga, sebagai pembunuh dikehidupan sebelumnya saat ini dirinya tidak boleh menjadi pengecut yang hanya bisa melarikan diri.
Tepat saat berdiri di depan sang naga yang hanya berjarak beberapa meter Lingling baru menyadari ada permata bersinar terang di kepala sang Naga Lingling yang terus menatap permata berwarna keunguan itu tiba-tiba saja melihat permata itu terbang ke arah kepalanya dan masuk ke dalamnya.
"Akhirnya aku bisa beristirahat," ucap suara sang Naga.
Lingling merasa kaget melihat Naga di depannya yang tiba-tiba menghilang, hanya suara tanpa wujud yang didengarnya membuatnya semakin kebingungan apa yang sebenarnya terjadi.
"Lingling ke mana Naga itu?" tanya Nari yang berdiri di belakang Lingling.
Nari merasa kaget melihat Naga di depan Lingling yang menghilang begitu saja, dia tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Lingling dan sang Naga.
"Aku juga tidak tau, setelah berbicara denganku Naga itu menghilang," sahut Llingling.
"Hahahaha, jangan bercanda manusia tidak bisa mengerti bahasa Naga," ucap Nari tidak percaya.
"Semua manusia tidak bisa berbicara pada Naga, hanya kamu yang bisa mengerti dan berbicara dengan para Naga," ucap suara dari dalam diri Lingling.
"Hem, ternyata seperti itu," dalam hati Lingling menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah karena Naganya tidak ada kita pulang saja," ucap Nari masa bodoh.
"Suruh saja dia pulang duluan, aku akan melatihmu menjadi sedikit kuat," ucap suara Naga yang kembali didengar Lingling.
"Kamu duluan saja, aku masih ingin di sini sebentar," sahut Lingling
"Kalau begitu berhati-hatilah, jaga diri baik-baik. Apa perlu aku temanin?" ucap Nari.
"Tidak perlu, aku bisa jaga diri," sahut Lingling.
"Haaaaaah, kalau begitu baiklah," ucap Nari pasrah walau sebenarnya tidak tega membiarkan Lingling sendirian.
Nari menepuk pipinya sendiri mencoba menepis apa yang dipikirkannya, bagaimana bisa dirinya merasa Lingling yang terbangun setelah kematian terlihat berbeda, Lingling tetap temannya teman terbaiknya.
__ADS_1