Pendekar Naga Wanita

Pendekar Naga Wanita
Para Ketua


__ADS_3

Ketua Ayi menatap Lingling yang berdiri di depannya, dua Ketua lainnya yang berdiri di sampingnya juga serentak mengarahkan pedang mereka ke leher Lingling, Melihat kedua Ketua lainnya ingin menghabisi Lingling saat itu juga ketua Ayi ikut menarik pedangnya dan mengarahkan ke Lingling ketya Ayi merasa itu memang kesalahan Lingling yang membuat menara kehilangan energi sang Naga api dan tentu saja Lingling pantas menerima hukuman.


"Tidak tau bagaimana caramu membuat sang Naga menghilang dari dalam menara, kamu membuat menara ini kehilangan sesuatu yang berharga," ucap Ketua Meng.


"Sebagai Ketua kami akan memberimu hukuman, kematian adalah hukuman yang sangat pantas untukmu," sahut Ketua Den.


"Ingin sekali aku membuat perhitungan pada mereka," ucap Naga keempat.


"Ambil alih saja tubuhnya," sahut Sai.


"Heeeeh, bocah aku pinjam tubuhmu sebentar," ucap Naga keempat yang langsung mengambil alih tubuh Lingling tanpa menunggu jawaban.


Belum sempat Lingling menjawab Naga keempat sudah berhasil menguasai tubuhnya sepenuhnya. Tubuh Lingling dipenuhi sisik berwarna merah darah, kuku Lingling seketika menjadi panjang, dari hidungnya asap terus ke luar sama seperti saat Naga api sedang bernapas.


Ketua Ayi merasa sangat kaget dengan perubahan Lingling, anak muda di depannya bagaimana bisa berubah seperti Naga hanya dengan hitungan detik pikirnya.


"Heeeeeeh, manusia aku sudah menantikan hari ini sangat lama. Kalian sangat senang merantai ku bagai hewan peliharaan kalian bukan! sekarang saatnya aku menuntut perhitungan pada kalian," ucap Naga keempat yang menguasai tubuh Lingling.


Naga keempat menyeringai memperlihatkan gigi runcingnya, ketiga ketua langsung berjalan mundur, saat ini wanita muda di depan mereka bukan lagi manusia melainkan Naga, ketiganya ragu haruskah menyerang sang Naga agung yang mengendalikan seorang wanita muda itu pikir mereka.


"Kenapa kalian mundur? majulah, mari bertarung, aku ingin melihat seberapa kuat manusia yang berani merantai ku seperti hewan peliharaan," ucap Naga keempat.


"Bukannya kita ingin menghukum anak muda itu untuk apa kita mundur, tidak peduli saat ini sang Naga atau anak itu sendiri yang berada di tubuhnya kita tetap harus menghabisinya," ucap Ketua Den.


"Ketua Den benar kita tidak boleh takut, kerahkan semua kekuatan untuk membunuh anak ini dan mendapatkan kembali sang Naga api," sahut Ketua Meng.


Naga keempat yang bisa mendengar perkataan para manusia hanya tertawa kecil, memangnya mereka bisa apa? ingin membunuhnya apa mereka mampu untuk itu.


"Kita serang," ucap Ketua Den.


Wheeeeeeeeesssssssss.


Wheeeeeeeeeeessssssssss.


Pedang Ketua Den dan Ketua Meng terbang ke arah Naga keempat dengan sangat cepat, kedua Ketua mengendalikan pedangnya menggunakan Mana angin untuk menyerang tubuh Lingling dari jarak jauh.

__ADS_1


"Hahahaha."


Naga keempat tertawa sangat keras melihat pedang yang mengarah padanya, tidak ingin tubuh Lingling terluka Naga keempat mengeluarkan api dan membentuknya menjadi pedang untuk menangkis kedua pedang tidak berguna milik Ketua menara suci.


Wheeeeesssssssssssss.


Praaaaaaaaaaaaaaaaang.


"Ambil kembali pedang rusak itu," ucap Naga keempat melempar kedua pedang kembali ke Tuan masing-masing.


Ketua Meng yang melihat pedangnya terbakar di tanah hanya bisa diam, tidak lama pedang yang berada di bawah kakinya menghilang sama seperti milik Ketua Den, Keduanya menatap Naga keempat yang tersenyum dari senyumannya seolah mengejek Kedua Ketua itu.


"Sepertinya senjata tidak akan mempan padanya, bagaimana kalau kita..." bisik ketua Ayi.


"Aku setuju," sahut Ketua Meng.


"Atur formasi," teriak Ketua Den.


Ketua Ayi dan Ketua Meng langsung berpencar, setelah berada di tempat yang sudah mereka tentukan ketiganya melirik satu sama lain dan menganggukkan kepala serentak.


"JURUS Pemusnah MAKHLUK FANA."


Boooooooooooooooooom.


Tanah bergetar hebat, asap dan debu yang bertebaran dari tempat Lingling berdiri memenuhi tempat sekitar membuat Ketua Meng dan Ketua Den merasa puas, berbeda dengan kedua rekannya Ketua Ayi merasa sangat yakin kalau anak muda yang mereka serang tidak akan mati semudah itu.


"Apa sudah selesai kalian merasa senang, sekarang giliranku," ucap Naga keempat yang bergerak cepat ke arah satu persatu.


Hoooooooooooooooossssssssss.


Satu semburan api langsung di arahkan Naga keempat ke Ketua Meng, tidak berhenti di situ Naga keempat juga bergerak cepat ke arah Ketua Den dan menyemburkan apinya sama seperti Ketua Meng.


"Panas, panas."


Melihat kedua rekannya terbakar Ayi menelan ludah, sekarang pasti gilirannya, dirinya akan menyusul kedua rekannya yang mati hangus terbakar.

__ADS_1


"Kenapa diam saja, menyesal juga tidak berguna lihatlah kedua manusia sialan itu yang sudah menjadi abu, bersiaplah menyusul mereka," ucap sang Naga.


"Sudah cukup."


Lingling berusaha mengambil alih kembali tubuhnya, Lingling yang terus memaksa dan tidak mau kalah dengan Naga keempat membuat Naga keempat ke luar dari tubuhnya.


"Sialan, selalu seperti ini," ucap Lingling memegangi kepalanya yang masih sakit.


Ayi menatap wanita muda di depannya yang sudah kembali seperti semula, tidak ingin melewatkan kesempatan Ayi langsung menarik pedangnya menusuk Lingling.


"Aku tidak peduli barusan kamu menolongku atau bukan, hukuman tetap harus dilaksanakan kematian Kedua ketua lainnya tidak boleh sia-sia," ucap ketua Ayi


Tangan Lingling yang masih memegang kepalanya turun memegang pedang yang hampir menusuk jantungnya, Lingling menarik pedang Ketua Ayi begitu saja dari tubuhnya hingga membuat darahnya terus mengalir.


"Kamu harus mati," teriak ketua Ayi.


"Ahhhhhhh, bodohnya aku kenapa berniat menyelamatkanmu, karena ini balasanmu pergilah menyusul rekanmu yang sudah mati itu," ucap Lingling menarik pedangnya.


Wheeeeeeeeeeeeeeeeessssss.


Ketua Ayi yang tidak menyangka Lingling masih memiliki tenaga untuk mengayunkan pedangnya tidak sempat menghindari tebasan pedang Lingling, kepala ketua Ayi terlepas dari lehernya bertepatan dengan darah yang terus menetes di pedang Lingling.


Duuuuuuuuuuuaaaaaaaar.


Duuuuuuuuuuuuuuaaaaaar.


Lingling menatap ke asal suara pemanggil bantuan, tubuhnya yang saat ini terluka tidak mungkin bisa melawan banyaknya anggota menara suci lainnya, jalan satu satunya untuknya adalah melarikan diri.


Menggunakan energinya yang tersisa Lingling menghilang dari tempatnya berdiri, tanpa tau ke mana arah dan tujuannya malah membuat Lingling berpindah ke rumah seseorang, Lingling tidak peduli rumah siapa itu dan terus meringis.


"Ahhhhhhh, aku benar-benar sial," ucap Lingling yang masih memegangi bagian dadanya.


Lingling perlahan bangkit berdiri dan bersiap pergi, baru beberapa langkah dari tempatnya berpindah Lingling mendengar suara seseorang di belakangnya.


"Menjauh dariku," ucap Lingling memutar badannya sambil mengarahkan pedangnya.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud seperti itu, kamu terluka parah kalau tidak segera diobati bisa saja kamu tidak tertolong," ucap seorang pria, raut wajahnya terlihat sangat kasihan melihat Lingling tapi tetap berniat menolongnya.


"Tenang saja aku tidak berniat mencelakai mu," ucapnya lagi.


__ADS_2