Pendekar Naga Wanita

Pendekar Naga Wanita
Pemberian Adik Kakak


__ADS_3

Di dalam sebuah rumah kecil Lingling bisa merasakan kehangatan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya, Yusran dan Yuwan menganggap Lingling adalah tamu penting dan mereka mengeluarkan semua makanan yang mereka miliki dan menyajikannya di depan Lingling ngan penuh kebahagiaan.


Lingling yang belum pernah diperlakuan istimewah hanya tersenyum, Lingling benar-benar menikmati hidangan di depannya walau hanya seadanya.


"Ayo Kak, tambah lagi," ucap Yuwan yang merasa senang Lingling makan dengan lahap.


"Aku tidak akan sungkan," sahut Lingling.


Yusran hanya tersenyum melihat Linling yang makan dengan lahap sama seperti adiknya dia juga merasa sangat senang, Yusran tidak menyangka ada yang mau mampir ke rumah kumuhnya dan makan bersamanya dan adiknya.


Heeeeeek..


Linglng yang bersendawa selesai makan disambut tertawa kecil Yusran dan Yuwan, walau seorang wanita Lingling sama sekali tidak canggung makan bersama mereka.


"Ahhhh, baru kali ini aku makan sekenyang ini," ucap Lingling sambil bersandar.


"Hahahaha, aku senang melihat Kakak makan masakan kami," sahut Yuwan penuh kebahagiaan.


Selesai makan Lingling langsung beristirahat, walau sebelumnya dirinya sudah meminum pil penyembuh luka dan penambah energi tetap saja dirinya membutuhkan istirahat agar pulih sepenuhnya dan bisa kembali melanjutkan perjalanannya.


Di rumah kecil Yusran Lingling tertidur pulas tanpa waspada sedikitpun walau dirinya adalah seorang wanita, tidak tahu kenapa Lingling merasa dirinya aman dan nyaman di rumah asing yang baru pertama didatanginya itu.


Huuuuuuuuaaaa.


Lingling yang baru bangun tidur langsung berjalan keluar rumah, tepat di depan pintu Lingling mengangkat tangannya ke atas dan memutar badannya berulang kali.


"Baru kali ini aku merasa tidur sangat nyenyak," ucap Lingling.


"Aku bisa merasakan disekitar rumah di pasang pelindung, tebakanku Kakak dan Adik itu bukan orang biasa," sahut Sai.


"Aku juga menduganya seperti itu, tapi kenapa mereka yang jelas bukan orang biasa tinggal di tempat seperti ini,"ucap Lingling.


"Masalah pribadi setiap orang siapa yang tahu,"sahut Sai agi.


Lingling menganggukkan kepala membenarkan perkataan Sai, mungkin benar Yusran dan Yuwan memiliki masalah sendiri dirinya tidak berhak bertanya, tapi untuk membalas budi dirinya tidak bisa pergi begitu saja tanpa memberikan apapun.


"Sudah bangun," ucap Yusran yang tidak tahu sejak kapan berdiri di belakang Lingling.


"Baru saja," sahut Lingling sambil memutar badannya.


"Aku harus kembali melanjutkan perjalanan, terima kasih sudah memberikanku tempat tinggal dan makan," sambung Lingling.


"Kakak sudah mau pergi," ucap Yuwan yang berjalan menghampiri Lingling.

__ADS_1


"Iya, aku harus kembali melanjutkan perjalanan," sahut Lingling.


"Aku menyiapkan ini untuk Kakak jangan lupa dimakan," ucap Yuwan sambil memberikan makanan yang dibungkus daun dengan rapi.


"Tidak perlu, aku tinggal disini semalam saja sudah merepotkan, aku tidak mau tambah merepotkan kalian lagi," sahut Long Xu.


"Sama sekali tidak merepotkan, terima saja," ucap Yunan.


"Kalau begitu aku akan menerimanya," sahut Long Xu.


Long Xu yang menerima pemberian Yuan membuat Yuan senang. Long Xu tersenyum kecil, seharusnya dirinya yang diberi yang merasa senang bukan malah yang memberi yang merasa sangat senang.


"Ayo aku akan mengantarmu keluar dari perkampungan ini," ucap Yusran.


"Tidak perlu, aku sudah mengingat jalannya," sahut Lingling berbohong, dirinya hanya tidak ingin menyusahkan Yusran dan Yuwan lagi.


"Benarkah, kalau begitu berhati-hatilah," ucap Yusran.


"Tentu, sebelum aku pergi bisakah aku meminta satu permintaan," sahut Lingling.


"Permintaan apa Kak, katakan saja," ucap Yuwan penuh semangat.


Lingling ergegas mengeluarkan beberapa keping emas dari dalam tasnya, dengan gerakan cepat tangan Lingling memegang tangan Yusran dan memberikan kepingan emas yang ada di tangannya.


"Ini, ini tidak perlu emas sebanyak ini kami tidak bisa menerimanya," sahut Yusran.


"Itu permintaanku, terima saja," ucap Lingling.


Setelah berjalan cukup jauh Lingling merasa seseorang sedang mengejarnya, Lingling yang mengira dunia bawah kembali mengirim utusannya langsung menarik pedangnya.


"Kamu," ucap Lingling sambil menurunkan kembali pedangnya.


"Maaf aku tidak bermaksud mengikuti mu, aku hanya ingin memberikan ini," sahut Yusran.


"Apa ini?" tanya Lingling matanya menatap bungkusan kain yang dipegangnya.


"Buka saja sendiri, kamu pasti membutuhkannya," sahut Yusran yang tiba-tiba menghilang.


Lingling terdiam melihat Yusran yang menghilang tepat di depannya, setinggi apa tingkat pelatihan Yusran saat ini hingga membuatnya bisa menghilang seperti itu pikrnya.


"Kalau hanya menghilang bahkan tingkat sepertimu juga bisa, hanya saja kamu membutuhkan kitab jurus untuk itu," ucap Sai seakan tahu apa yang dipikirkan Lingling.


"Kitab jurus, jangan-jangan," sahut Lingling yang langsung membuka bungkusan kain yang ada di tangannya.

__ADS_1


Mata Lingling melotot tak percaya setelah membuka bungkusan, ternyata isi dari bungkusan di tangannya adalah 3 kitab jurus.


"Sudah aku duga," ucap Sai.


*Menghilang.


*Pukulan tanpa batas.


"Bayangan ganda.


Lingling membaca satu persatu judul kitab yang dipegangnya, setelah membaca ketiganya mata Lingling tidak sengaja melihat tulisan kecil di bagian bawah kitab.


"Perguruan Legenda. Apa maksudnya tulisan ini?" ucap Lingling.


"Perguruan Legenda adalah perguruan tingkat tinggi yang berada sangat jauh dari sini, di perguruan itu murid-murid dilatih sama seperti perguruan lainnya hanya saja...." sahut Naga Ketiga tidak melanjutkan perkataannya.


"Hanya saja apa?" tanya Lingling pensaran.


"Perguruan Legenda sudah menutup diri dari lima tahun yang lalu, semua murid mereka keluarkan dan tidak pernah menerima murid baru, untuk alasannya aku sendiri tidak mengetahuinya," ucap Naga Ketiga.


"Wah sayang sekali, apa semua itu ada kaitannya dengan Yunan dan Yuan," sahut Lingling.


"Sudah aku bilang tadi,aku tidak tahu," ucap Naga Ketiga.


"Tunggu apa lagi? cepat kuasai ketiga jurus itu sekarang juga," sahut Sing.


"Baiklah, aku akan mencari penginapan di sekitar sini," ucap Lingling sambil terus berjalan.


Lingling yang sudah menemukan penginapan bergegas masuk ke kamarnya, Lingling langsung menaruh 3 kitab di depannya sambil mempersipkan diri.


Lingling perlahan membuka matanya. Saat itu Lingling tersadar dirinya berdiri di ujung tebing yang sangat curam, satu langkah kecil saja bisa membuatnya terjatuh ke bawah jurang yang dirinya sendiri tidak tahu seberapa dalamnya jurang di depannya.


"Majulah, semua butuh pengorbanan," ucap suara dari bawah jurang.


"Apa maksudmu," sahut Lingling.


"Bukannya kamu mau menguasai jurus menghilang," ucap suara dari bawah jurang.


"Memang benar aku ingin menguasai jurus itu, tapi siapa kamu kenapa aku harus mengikuti perkataan mu,"sahut Lingling yang semakin mundur perlahan.


Lingling tahu tidak semua jurus bisa dikuasainya dengan mudah, setiap jurus pasti memiliki cara untuk memilih apakah orang itu cocok menguasainya atau tidak dan itu yang saat ini terjadi padanya.


" Aku sama sekali tidak bodoh," ucap Lingling melompat jauh ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2