Pendekar Naga Wanita

Pendekar Naga Wanita
Menguasai Keahlian Naga Keempat


__ADS_3

Deg deg, deg deg.


Melihat Lingling yang berjalan menjauh detak jantung Wei Tan berdetak sangat cepat, baru pertama kali baginya merasakan perhatian seseorang, Wei Tan sangat berharap walau Lingling tidak mendapatkan obat untuknya suatu hari nanti mereka tetap bisa bertemu kembali.


Lingling yang berjalan pergi masih teringat tentang cerita Wei Tan, Lingling berpikir bagaimana bisa ada orangtua yang tega membiarkan anak mereka dari kecil hidup sendiri di hutan selama beberapa.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Sai.


"Tidak ada, aku hanya kasihan padanya," ucap Lingling.


"Kasihan atau karena kamu menyukainya," sahut Naga keempat.


"Aku tidak pernah bilang kalau aku menyukainya," ucap Lingling cepat.


"Kamu bukannya mau tau apa yang bisa menghilangkan noda di wajah pria itu," sahut Naga kedua.


"Hemmmmm, benar, pil apa yang bisa menyembuhkannya?" tanya Lingling.


"Kalian bagaimana, apa sebaiknya aku kasih tau saja atau tidak," ucap Naga kedua bertelepati pada Naga lainnya.


"Kalau aku tidak masalah, kalau dia memang bisa menyelamatkan kita bukannya kita berhutang Budi padanya," sahut Sai.


"Aku setuju," sahut Naga ketiga tiba-tiba.


"Aku juga tidak masalah," ucap Naga keempat.


Lingling yang tidak mendengar suara dari keempat Naga mulai berpikir, sepertinya obat itu masih ada hubungannya dengan para Naga dan Naga kedua tidak bisa mengambil keputusan sendiri.


"Sebenarnya obatnya akan kamu dapatkan suatu hari nanti, 88 tetes darah Naga yang berbeda obat dan penawar racun paling ampuh," ucap Naga kedua.


"Ternyata benar dugaan ku," sahut Lingling menganggukkan kepalanya.


"Tenang saja kami semua pasti bersedia menyerahkan darah kami, karena kalau kamu benar-benar berhasil kami berhutang Budi padamu itu akan menjadi salah satu balasan kami," ucap Naga kedua.


Lingling terus berjalan tanpa menjawab perkataan Naga kedua, memang tidak mudah karena masih harus mencari beberapa Naga lainnya dan mengumpulkan puluhan Naga yang tersebar serta menyelamatkan dunia Naga, yang lebih penting apakah selama itu masih ada harapan untuknya bertemu kembali dengan Wei Tan.


***

__ADS_1


Di dalam tubuh Lingling keempat Naga bercerita tentang saudara mereka lainnya, Sai bertanya pada Naga kedua siapa yang pernah menyerangnya, saudara mereka ke berapa yang dikendalikan oleh manusia serakahn


"Aku belum menjelaskannya padamu, yang dikendalikan oleh manusia adalah Adik kembar kelima dan keenam," ucap Naga kedua.


"Siapa manusia itu? kenapa sampai Naga kembar berani menyerangmu hanya karena manusia itu?" tanya Sing.


"Kalau tidak salah nama manusia itu adalah Zuxi, ketua utama perguruan Matahari Darah," ucap Naga kedua.


Sai naga ketiga dan Naga keempat terkejut mendengar ucapan Naga kedua. Perguruan Matahari Merah adalah salah satu dari 3 perguruan terkuat, tidak heran Naga kelima dan Naga keenam mengikuti ketua itu pikir ketiganya serentak.


"Asal kalian tahu adik kelima dan keenam menyerang ku secara bersamaan bahkan memintaku untuk tidak lagi muncul dihadapan mereka berdua," ucap Naga kedua.


"Itu benar-benar keterlaluan," ucap Sai yang terlihat sangat marah.


Lingling yang mendengar pembicaraan keempat Naga dari awal tiba-tiba menghentikan langkahnya, Lingling sengaja diam saja dari awal karena tidak ingin mengganggu pembicaraan serius mereka.


"Siapa ketua Zuxi itu? seberapa kuat dia?" tanya Lingling.


"Dia jauh lebih kuat darimu saat ini, umurnya saja hampir 200 tahun, sebagai manusia dia aku rasa kekuatannya sudah di atas rata-rata," sahut Sai.


"Bukannya begitu," ucap Sai bingung bagaimana menjelaskannya.


"Kamu terlalu lemah tidak akan bisa menang melawannya, tapi masih ada waktu untukmu berlatih sepanjang jalan sebelum tiba di perguruan Matahari Darah," sahut Naga ketiga.


"Kalau begitu aku tidak akan membuang-buang waktu lagi," ucap Lingling mengepalkan tangannya.


Lingling tidak bisa menyangkal kalau dirinya masih sangat lemah, terakhir naik tingkat saja setelah menyerap paksa batu jiwa tingkat tinggi saat ini sudah waktunya dirinya menerobos tingkat lagi.


"Keempat sekarang giliranmu yang mengajarkannya Mana api, dasar-dasar menggunakan mana aku sudah mengajarkannya, kamu hanya tinggal mengarahkan sedikit saja padanya," ucap Naga kedua.


"Tenang saja aku mengerti tugasku," sahut Naga keempat.


Sembari menunggu persiapan dari Naga keempat Lingling mencari tempat yang tenang untuknya berlatih, melihat ada sebuah pohon besar yang berada tidak jauh darinya Lingling langsung berjalan ke arah pohon itu dan duduk di bawahnya.


"Bagaimana apa kamu sudah siap?" tanya Naga keempat.


"Iya, tentu saja aku siap," sahut Lingling.

__ADS_1


"Karena tidak ada api kamu harus memulainya dari pemanasan. Atur tanganmu berhadapan satu sama lain, coba rasakan secara perlahan hawa panas dari kedua tanganmu," ucap Naga keempat.


Mendengar perkataan Naga keempat Lingling langsung mengarahkan tangannya berhadapan, Lingling mencoba tetap tenang sambil terus berusaha merasakan hawa panas diantara kedua telapak tangannya.


Setelah merasa panas Lingling membuka matanya, benar saja dari kedua telapak tangannya asap perlahan ke luar seperti tumpukan sampah yang masih belum terbakar.


"Tetap fokus, setelah kamu rasa semua cukup panas dekatkan satu sama lain tanganmu dengan sangat perlahan. Matamu harus terus fokus melihat asap-asap itu, bisa saja asap itu menghilang karena kamu tidak bisa mengontrol ketenanganmu," ucap Naga keempat.


Tangan Lingling semakin mendekat satu sama lain, jarak antara telapak tangannya yang hanya beberapa sentimeter membuat asap semakin banyak dan mengarah ke wajah Lingling.


Tetap tenang, tetap tenang," dalam hati Lingling menghela nafas pelan.


Whuuuuuuuuuusssssssssssss.


Api muncul di tengah-tengah telapak tangan Lingling menggantikan asap sebelumnya, Lingling mencoba mengendalikan apinya dengan tangan satu dan berhasil menguasai apinya yang membesar, mengecil sesuai keinginannya.


"Tunggu, aku bahkan belum memberitahumu cara agar Mana apimu bisa kamu kendalikan dengan sempurna, bagaimana caramu melakukannya?" ucap Naga keempat kebingungan.


"Tidak perlu kaget seperti itu," sahut Sai Naga kedua dan Naga ketiga serentak.


"Apa maksud kalian?" tanya Naga keempat lagi.


"Anak ini berbeda dengan anak muda biasa, pemahaman dan kecepatannya dalam menguasai jauh lebih cepat," ucap Sai.


"Ahhhhhhn, ternyata seperti itu. Tidak heran kalau begitu," ucap Naga keempat menganggukkan kepalanya.


Tidak mempedulikan pembicaraan keempat Naga Lingling masih sibuk dengan api di tangannya, Lingling memperhatikan dengan teliti api yang dikeluarkan menggunakan Mana sebenarnya tidak ada bedanya dengan menggunakan energi, hanya saja bedanya dirinya tidak mudah lelah karena tidak lagi mengeluarkan energi hanya untuk membuat api dan mengendalikan air.


Whuuuuuussssssss.


Lingling melemparkan apinya ke arah pepohonan kering dan langsung membakarnya, melihat api yang semakin membesar Lingling mengeluarkan air menggunakan Mana nya memadamkan api yang membakar tiga pohon di depannya.


"Bagus sangat bagus, tidak heran kalau kamu memang benar yang ada di dalam ramalan Naga," ucap Naga keempat.


"Walau sudah menguasai Mana air dan api kamu masih harus menguasai Mana angin dan tanah, Mana angin adalah kemampuan saudara kelima sedangkan Mana tanah adalah kemampuan saudara keenam kamu juga harus menguasainya nanti," sambung Naga keempat.


"Tenang saja aku tidak akan menyerah," ucap Lingling dengan semangat yang menggebu-gebu.

__ADS_1


__ADS_2