Pendekar Naga Wanita

Pendekar Naga Wanita
Iblis


__ADS_3

Lingling bergegas pergi setelah tau sang Iblis menyadari kehadirannya, Lingling berlari sekencang mungkin sebelum sang Iblis mengejarnya.


"Makananku mau lari ke mana, bau wanita muda menyegarkan," teriak sang Iblis yang langsung mengejar Lingling.


Lingling terdiam mematung saat melihat sang Iblis sudah ada di depannya menghalangi jalannya, melihat Iblis secara langsung dengan matanya membuat Lingling menelan ludah.


"Ternyata seperti ini bentuk Iblis," dalam hati Lingling.


"Daging muda segar, jadilah makanan yang baik jangan lari-lari lagi," ucap sang Iblis menjulurkan lidahnya.


"Kalau kamu hanya diam saja kamu pasti mati," ucap Sai.


"Jadi apa aku harus melawannya," sahut Lingling pelan.


"Tentu saja, walau tidak ada harapan untukmu menang itu lebih baik dari pada hanya diam," ucap Sai.


Lingling menatap sang Iblis di depannya yang terus menjulurkan lidahnya, Lingling merasa sedikit ngeri sendiri membayangkan kalau sampai dirinya dimakan Iblis di depannya.


"Matilah kau," teriak Lingling yang langsung memukul dan menendang Iblis di depannya.


Buuuug buuuuug buuuuug.


Lingling terus menyerang sang Iblis tanpa henti, setelah menyerang cukup lama sang Iblis yang tidak kesakitan sedikitpun membuat Lingling kelelahan sendiri.


"Makanan tidak boleh memukulku lagi, gadis wanita muda memang yang terbaik," ucap sang Iblis menyeringai.


Lingling berusaha menghindari setiap serangan sang Iblis yang sangat cepat, serangan yang memang beda level dengan Lingling saat ini membuat Lingling berulang kali hampir tertangkap.


"Tidak bisa seperti ini terus," dalam hati Lingling yang menatap iblis dengan kesal.


Lingling memutuskan berhenti menghindar, pukulan biasa memang tidak bisa menyakiti sang Iblis tapi bagaimana dengan jurus, saat ini dirinya harus mencobanya sebelum sang Iblis menyerangnya lagi.


"JURUS TINJU PEMBELAH DUNIA."


Lingling berteriak dengan lantang dan mengarahkan kepalan tangannya ke arah sang Iblis bertubi-tubi, pukulan jurusnya terdengar menggema sangat keras.


Buuug buuuuuug buuuuuuuuug.


Tinju bertubi-tubi yang dilayangkan Lingling dari jurusnya membuat sang Iblis terlempar, walau sudah terkena jurus Lingling sang Iblis masih bisa bangkit berdiri dengan sisa tenaganya yang ada.


"Ini harus diakhiri secepatnya," ucap Lingling.


Lingling menarik pedang sayap Naga dan bersiap mengayunkannya, melihat sang Iblis yang berlari ke arahnya Lingling langsung mengayunkan pedangnya dengan cepat.


"Matilah," teriak Lingling keras.

__ADS_1


Wheeeesssssssss.


Duuuuuaaaaaaaaaaaaaarr.


Satu ayunan pedang Lingling membuat tubuh sang Iblis meledak, darah hitam sang Iblis yang muncrat membasahi pedang Lingling seketika membuat pedangnya bersinar kemerahan sangat terang.


"Huuuuuuh, akhirnya," ucap Lingling menghela nafas lega sambil terduduk di tanah.


"Lumayan ada kemajuan, aku tidak menyangka kamu bisa mengalahkan Iblis pemula itu. Walau masih pemula seharusnya Iblis itu jauh lebih kuat darimu," sahut Sai.


"Aku hampir saja mati di tangan Iblis itu," ucap Lingling.


"Permisi Nak," suara yang terdengar dari belakang Lingling yang baru saja merasa tenang.


Lingling yang memutar badannya menatap seorang pria tua berdiri di depannya, Lingling yang mengira pria tua itu sang Iblis bersiap mengayunkan kembali pedangnya.


"Tunggu dulu Nak, aku manusia jangan membunuhku," ucap Pria tua mengangkat tangannya ke atas.


"Oh," sahut Lingling kembali menurunkan pedangnya.


"Aku kepala desa di sini, terima kasih sudah membunuh Iblis itu," ucap pria tua sambil menundukkan kepalanya berulang kali.


"Aku tidak berniat membantu desa ini, aku hanya ingin menyelamatkan diri," sahut Lingling.


"Sepertinya Anak muda itu bukan Anak muda sembarangan, sayang sekali Iblis itu mati di tangannya," dalam hati pria tua sambil menyunggingkan bibirnya.


"Walau dia manusia aku bisa merasakan aura jahat darinya," ucap Sing.


"Hem, Instingku juga mengatakan dia bukan orang baik, aku tidak butuh terima kasih darinya," sahut Lingling.


"Kalau begitu kenapa tidak kamu bunuh saja," ucap Sai.


"Dia tidak menggangguku untuk apa aku membunuhnya," sahut Lingling sambil terus melanjutkan perjalanannya.


"Sangat manusiawi," ucap Sai.


"Lupakan tentang Iblis itu, kenapa pedangku bersinar terang setelah mengenai darah sang Iblis?" tanya Lingling penasaran.


"Apa Ayahmu tidak memberitahumu tentang pedang itu?" tanya Sai balik.


"Tidak," sahut Lingling.


"Pedang itu bernama sayap Naga bukan hanya karena lambang sayap Naga di bagian pedangnya, bukan juga karena gagangnya berbentuk Naga. Pedang itu sendiri sebenarnya terbuat dari tulang sayap Naga generasi kedua. Apa kamu ingat Ayahmu pernah bilang kalau pedang itu bisa terbang bukan," ucap Sai menjelaskan.


"Iya, lalu," sahut Lingling.

__ADS_1


"Pedang itu bisa terbang setelah mata pedang terkena 1001 darah, yang pasti bukan darah hewan," ucap Sai.


"Jadi aku harus membunuh 1000 kali lagi tidak peduli itu manusia atau Iblis asal bukan hewan saja karena tidak terhitung," sahut Lingling.


"Memang seperti itu, tapi aku tidak yakin kamu bisa membunuh sembarang orang," ucap Sai.


"Aku memang tidak mau membunuh sembarang orang tapi bukan berarti aku tidak berani membunuh, aku bisa saja membunuh manusia pendosa dan menganggapnya sebagai hukuman dari langit," sahut Lingling.


"Heeeeh, kamu semakin menarik saja, Sebelum itu aku akan memberitahumu sesuatu, kamu harus ingat di atas langit masih ada langit jadi buatlah dirimu semakin kuat jangan menunda untk melatih dan meningkatkan pelatihan mu," ucap Sai.


"Tentu saja," sahut Lingling.


***


Tidak terasa beberapa hari berlalu begitu saja setelah Lingling meninggalkan rumahnya, persediaan keping emas yang dibawanya hanya tinggal beberapa keping saja, untuk kedepannya dirinya harus mencari cara agar bisa mendapatkan kepingan emas untuk bekal perjalanannya.


"Semua salahmu sendiri, siapa yang suruh kamu boros menghabiskan kepingan emas mu untuk membeli makanan setiap mampir ke desa," ucap Sai.


"Apa salahnya, sebagai manusia makanan itu sangat penting," sahut Lingling yang masih memakan makanannya.


"Memang sangat penting lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Sai lagi.


"Entahlah," sahut Lingling yang masih santai.


Lingling kembali berjalan memasuki sebuah kota kecil, di jalan Lingling tidak menyangka mendengar sesuatu yang membuatnya tersenyum sendiri.


"Apa kamu sudah mendengar beritanya? Aula Mei kembali mencari petarung untuk melawan Alang," ucap seorang pemuda berambut panjang.


"Dengar-dengar yang menang mendapatkan 25 keping emas," sahut pemuda lainnya.


Lingling langsung menghampiri dua pemuda yang tidak jauh darinya, kesempatan seperti itu tidak mungkin dilepasnya begitu saja.


"Seberapa hebat pria bernama Alang itu?" tanya Lingling.


"Alang seorang pria dari bangsa Elf, dia sangat kuat," ucap pemuda gondrong penuh semangat.


"Bagaimana dengan kultivasinya?" tanya Lingling lagi.


"Bangsa Elf tidak memiliki kultivasi seperti manusia, tapi kekuatan tubuh dan sihir bangsa Elf sangat kuat," sahut pemuda lainnya.


"Oh seperti itu," ucap Lingling menganggukkan kepalanya.


"Kalau kamu berniat melawannya lebih baik lupakan saja, harapan menang untukmu tidak ada," sahut kedua pemuda serentak.


Lingling hanya tersenyum mendengar kedua pemuda itu meragukannya, tapi kesempatan seperti itu tidak mungkin datang dua kali jadi tidak ada salahnya.

__ADS_1


__ADS_2