
Lingling berlari memutar dengan cepat ke arah Ning Xi, sesuai apa yang dipikirkannya Ning Xi kebingungan ingin mencambuk Lingling ke arah mana.
Wheeeeeessssss.
Wheeeeeeesssssssss.
Lingling menyeringai sambil mengayunkan pedangnya dua kali berturut-turut ke arah Ning Xi, dua sayatan pedang yang sengaja diarahkan ke tangan Ning Xi membuat Ning Xi tidak lagi bisa mengayunkan cambuknya.
Arrrrrrrrkkkkkhhhhh.
Jeritan Ning Xi disambut senyum lebar oleh Lingling, tanpa mempedulikan jeritan Ning Xi Lingling yang berdiri di depan Ning Xi bersiap kembali mengayunkan pedangnya.
"Jangan bunuh Anakku," teriak Ibu tiri Lingling.
"Tapi kenapa? bukankah ini pertarungan hidup dan mati," ucap Lingling.
"Haaaah, ya sudahlah. Ini benar-benar membosankan, orang lemah berpura-pura kuat berakhir seperti ini memalukan," sambung Lingling menyunggingkan bibirnya.
"Nak Lingling sudah menjadi kuat ya, sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa menindasmu," ucap Bibi Cie.
"Terima kasih karena Bibi mempercayaiku," sahut Lingling sambil tersenyum.
Dari kejauhan Ayah Lingling yang baru datang merasa sangat terkejut, Lingling yang menang namun tidak membunuh Ning Xi membuatnya terharu.
"Heeeeh, kenapa kamu tidak membunuhnya?" tanya Sai.
"Membunuh Yang lemah tidak membuatku menjadi keren," sahut Lingling.
"Apa itu keren?" tanya Sai kebingungan.
"Ah itu aku juga tidak tau artinya," sahut Lingling sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sebenarnya Ayah Lingling masih tidak percaya apa yang dilihatnya, bagaimana bisa Anaknya yang tidak bisa bela diri dan tidak memiliki kultivasi bisa mengalahkan Ning Xi yang berbakat dari lahir.
Ayah Lingling berjalan mendekati Linglinh yang berdiri di depan Bibi Cie pengasuhnya, kedakatan Lingling dan Bibi Cie membuat Ayah Lingling sadar bahwa dirinya sangat jarang memperhatikan Putrinya itu.
"Kamu menang ikutlah denganku," ucap Ayah Lingling.
__ADS_1
"Tunggu dulu, bagaimana dengan hukuman untuknya," sahut Lingling.
Ayah Lingling menghentikan langkahnya menatap Istrinya, dirinya telah berjanji akan memenuhi syarat dari Lingling untuk menghukum Istrinya tapi hukuman apa yang pantas untuknya.
"Kamu mau aku menghukumnya seperti apa?" tanya Ayah Lingling.
"Kalau aku yang menentukan hukumannya tentu saja aku akan memenggal kepalanya," sahut Lingling.
Ayah Lingling melotot kaget mendengar perkataan Putrinya itu, hukuman penggal kepala adalah hukuman tingkat tinggi dirinya tidak berani melakukannya.
"Bagaimana kalau hukumannya aku hanya memberikan 2 keping emas setiap bulan selamanya, apa itu bisa membuatmu puas," ucap Ayah Lingling.
"Suamiku kamu tidak bisa seperti itu, 2 keping emas tidak cukup untukku," sahut Ibu tiri Lingling yang langsung berlari ke arah Suaminya.
"Ahh karena hukumannya memotong jatah bulanan itu masih belum cukup, aku mau dia dan Anaknya hanya mendapat 10 keping perak setiap bulannya," ucap Lingling.
100 keping perak sama dengan 1 keping emas, kalau hanya 10 keping perak dibagi berdua dengan Ning Xi itu tidak akan cukup pikir Ibu tiri Lingling sambil menggaruk kepalanya.
"Tidak, komuhon jangan suamiku, aku tidak bisa hidup dengan 10 keping perak dibagi dua sama Ning Xi, mau ditaruh di mana wajahku sebagai Istri saudagar kaya raya," ucap Ibu tiri Lingling.
"Mudah saja, tinggal mencari wanita lain untuk menggantikan wajah burukmu bukannya itu cukup bagus Ayah," sahut Lingling sambil tersenyum.
"Tidak, jangan seperti itu suamiku," sahut Ibu tiri Lingling yang terduduk lemas menatap langit.
Melihat Ayahnya berjalan pergi Lingling bergegas mengikutinya, akhirnya dendam pemilik tubuh lama sudah terbalaskan dirinya hanya tinggal melanjutkan langkahnya untuk membantu Ras Naga.
Sampai di ruang senjata pusaka Lingling cukup terkejut, saat ini di depannya penuh senjata pusaka beraneka macam, Lingling sudah tidak sabar ingin memilih salah satunya.
Lingling menyentuh satu persatu senjata pusaka di depannya, baru menyentuh beberapa senjata pusaka dari ujung ruangan pedang bergagang dan berukiran Naga menarik perhatian Lingling.
"Itu pedang sayap Naga," ucap Ayah Lingling yang melihat Lingling memegang sebuah pedang.
"Sepertinya ini pedang istimewah," sahut Lingling.
"Tentu saja, itu salah satu pedang tingkat tinggi dan bisa terbang," ucap Ayah Lingling.
"Kalau begitu aku akan mengambil yang ini saja," sahut Lingling
__ADS_1
"Ambil saja, aku merasa pedang itu cocok untukmu," ucap Ayah Lingling.
"Baiklah, urusanku dengan keluarga ini sudah selesai, aku pergi sekarang," sahut Lingling sambil berjalan ke luar ruangan senjata pusaka.
"Tunggu dulu Nak, apa kamu serius ingin pergi dari keluarga Xi, di mana kamu tinggal nantinya?" tanya Ayah Lingling.
"Itu urusanku, mulai saat ini aku tidak lagi memiliki hubungan dengan keluarga Xi," sahut Lingling.
Lingling berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang, karena dendam pemilik tubuh sebelumnya sudah dibalas kannya tidak ada alasan untuk Aying tetap memiliki hubungan dengan keluarga Xi.
"Seharusnya kamu tidak perlu sampai memutuskan hubungan dengan keluargamu, bukannya setelah kamu membantu ras Naga kamu bisa kembali bersama keluargamu," ucap Sai.
"Itu tidak perlu, aku merasa keputusanku saat ini sudah benar, karena dirinya akan melakukan apa saja yang menurut ku benar," sahut Lingling.
Lingling berjalan pergi memulai misinya membantu Sai, saat ini dirinya harus menjadi lebih kuat karena perjalan ke depannya pasti sangat berbahaya, belum lagi dirinya tidak tahu membutuhkan waktu berapa lama untuk itu.
Belum jauh Lingling meninggalkan kota Lingling memutuskan berhenti di sebuah desa. Linling berjalan sambil memperhatikan sekelilingnya, suasana di desa yang terlihat sangat sepi membuat Lingling berpikir pasti ada yang tidak beres dengan desa yang di pijaknya saat ini.
"Desa ini seperti tidak berpenghuni," ucap Lingling.
"Tidak seperti itu, aku bisa merasakan hawa manusia di desa ini tapi aku juga bisa merasakan ads hawa lain dari desa ini," sahut Lingling.
"Haaaaah, apapun yang terjadi dengan desa ini bukan urusanku, lebih baik aku pergi saja dari sini," ucap Lingling yang langsung memutar badannya bersiap pergi.
Arrrrrrrrkkkkkhhhhh.
Suara teriakan mengejutkan Lingling, belum sempat Lingling memutar kembali badannya suara teriakan kembali terdengar.
"Tidak, jangan, aku mohon jangan makan aku," teriak suara wanita dari belakang salah satu rumah di dekatnya.
Lingling yang merasa penasaran apa yang terjadi bergegas mencari asal suara teriakan, Lingling berjalan ke salah satu rumah di dekatnya dan melihat apa yang terjadi di sana.
Mata Lingling melotot kaget tidak percaya apa yang dilihatnya, sesosok menyerupai manusia berwarna merah dan bertanduk dengan santainya memakan tubuh wanita yang tadi berteriak.
"Apa yang kamu lakukan cepatlah pergi," ucap Sai.
"Manusia macam apa itu?" tanya Lingling.
__ADS_1
"Itu bukan manusia, itu Iblis, cepatlah pergi aku tidak yakin kamu bisa mengalahkannya," ucap Sai.
"Aku mencium bau manusia. Hei manusia, keluarlah jangan bersembunyi," teriak sang Iblis.