
Lingling yang kesal diganggu langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu, setelah membuka pintu Lingling tersenyum sendiri melihat dua wanita yang membawa pedang dan mengarahkan pedang ke arah lehernya.
Melihat dua wanita bodoh ingin mengancamnya Lingling hanya diam, ternyata penjahat tidak memandang jenis kelamin.
"Serahkan semua barang berharga mu jika kamu tidak ingin mati," ucap salah satu wanita memajukan pedangnya ke leher Lingling.
"Wah apa aku sedang di rampok sekarang?" tanya Lingling dengan santai.
"Sudah jelas, masih saja bertanya. Tunggu apa lagi cepat serahkan semua yang kamu miliki," sahut wanita satunya yang terlihat lebih muda bahkan lebih muda dari Yuying.
Lingling berjalan mundur berpura-pura mengambil kepingan emasnya yang ada di dalam kamar, Kedua wanita yang berdiri di depan pintu kamar Lingling tersenyum puas, akhirnya mereka akan mendapatkan jarahan juga hari ini.
"Cepat di mana barang berharga mu," teriak kedua wanita serentak.
Lingling yang baru mengambil pedangnya berjalan kembali keluar, Lingling menaruh pedangnya tepat di depannya dan mengeluarkan tas penyimpanannya.
Dua wanita yang melihat pedang Lingling bukan sembarang pedang langsung menelan ludah, keduanya menatap Lingling yang terlihat sangat santai berisap memberikannya keping emas.
"Bagaimana ini Kak, pedangnya saja senjata pusaka sekali diayunkannya kita pasti mati," ucap sang Adik bertelepati.
"Aku juga tidak tahu harus bagaimana, pemilik penginapan tidak memberitahu sebelumnya," sahut sang Kakak.
Lingling yang sudah mengeluarkan beberapa keping emasnya melihat ke arah kedua wanita di depannya yang terdiam menatap satu sama lain, kaki kedua wanita serentak gemetar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka.
"Kalian kenapa hanya diam, apa tidak jadi merampokku?" tanya Lingling mengagetkan dua wanita di depannya.
"Ampun ampun, kami mengaku salah tidak seharusnya kami merampok anda nona," sahut Keduanya yang langsung berlutut di kaki Lingling.
Hahahahaha.
Ketiga Naga di dalam tubuh Lingling ttertawa bersamaan, mereka mengira kedua wanita itu orang hebat yang memiliki jurus rahasia, siapa yang menyangka ternyata dua wanita itu hanya menggeretak Lingling.
"Ini, bukannya kalian ingin merampokku," ucap Lingling menyodorkan kepingan emas di tangannya sambil berjongkok.
"Tidak, kami tidak berani merampok mu nona, kami mengaku salah tolong lepaskan kami," ucap sang Kakak.
"Kami masih belum mau mati," sahut sang Adik.
__ADS_1
Lingling menutup mulutnya yang tersenyum, sebenarnya dari awal dirinya sudah menyadari kalau dua wanita di depannya hanya menggeretak, dirinya sengaja membawa keluar pedangnya agar keduanya sadar siapa yang akan mereka rampok dengan gertakan itu.
"Bangunlah," ucap Lingling.
"Apa nona melepaskan kami," sahut Sang Kakak menatap Lingling.
"Tentu saja tidak, kalian berani ingin merampokku kalian harus menerima akibatnya," ucap Lingling yang langsung mengangkat pedangnya.
"Jangan bunuh kami, kami berjanji akan setia mengikutimu," ucap sang Kakak sambil memeluk Adiknya.
"Aku akan mengampuni kalian tapi ada syaratnya," ucap Lingling.
"Apa syaratnya," sahut kedunya serentak.
"Jadilah pemandu ku, aku tahu kamu asli warga sini kamu pasti tahu tempat penjualan bahan obat di sekitar sini," ucap Lingling.
"Serahkan pada kami, kami mengetahui semua yang ada di sekitar sini termasuk tempat penjualan bahan obat terbesar," sahut sang Kakak.
"Bagus, sekarang kita berangkat, tapi sebelum itu siapa nama kalian?" ucap Lingling.
"Kenapa tidak bunuh saja mereka?" tanya Naga ketiga.
"Dia berbeda dengan kita, biarkan saja," sahut Sai.
"Kamu sudah seperti orang tuanya yang selalu membelanya," ucap Naga ketiga.
"Sudah, kalian berdua terlalu sering berdebat tidak jelas, bisakah kita menjadi satu fokus untuk melatih anak itu dan mencari saudara lainnya," sahut Naga kedua.
Lingling berjalan pergi meninggalkan penginapannya bersama dua wanita Kakak beradik, Lingling sangat yakin kedua wanita di depannya tidak akan berani mencari masalah lagi dengannya.
Setelah berjalan cukup jauh Yai dan Yi mengehentikan langkah mereka, Lingling ikut berhenti sambil menatap tempat penjualan obat yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
"Di sini semua bahan lengkap, silahkan nona masuk ke dalam," ucap Yi.
"Baiklah aku akan masuk ke dalam, kalian berdua tetap disini jangan kemana-mana," sahut Lingling.
"Nona tenang saja kami tidak berani," ucap keduanya bersamaan.
__ADS_1
Lingling kembali melanjutkan langkahnya berjalan memasuki tempat penjualan di depannya, sampai di dalam Lingling terkagum melihat bahan obat yang berjejer dengan sangat rapi.
"Ambillah itu, ginseng yang sudah berumur tiga ratus tahun lebih sangat bagus untuk membuat pil," ucap Naga kedua.
"Kalau begitu aku akan mengambilnya," sahut Lingling.
Seorang pria berjenggot putih yang melihat Lingling ingin mengambil ginseng 300 tahun bergegas menghampirinya, pria tua itu langsung memegang tangan Lingling yang bersiap mengambil ginseng berharganya.
"Wanita muda ginseng itu bukan untuk main-main," ucap pria tua itu.
Lingling mengernyitkan dahinya, siapa pria tua ini kenapa dia menghalanginya mengambil ginseng yang diminta Naga kedua.
"Aku juga tahu itu, lalu apa masalahnya denganmu" ucap Lingling.
"Kukatakan sekali lagi ginseng itu bukan untuk main-main, kamu tidak tahu apapun tentang bahan obat lebih baik kamu segera pergi dari sini," sahut pria tua itu lagi.
"Ciiiih, lagi-lagi penilaian sepihak, aku tidak tahu kenapa orang tua sekarang terlalu memandang rendah anak muda. Karena aku tahu tentang ginseng itu tentu saja aku tahu tentang bahan obat lainnya," ucap Lingling kesla.
"Hahahahaha, jangan bercanda padaku yang sudah tua ini. Umurmu baru 17 tahun kamu bahkan tidak akan bisa membedakan mana bahan baku dan bahan sampingan," sahut pria tua itu meremehkan Lingling sambil terus tertawa.
"Begini saja, keluarkan semua bahan yang menurutmu tidak aku ketahui aku akan menebaknya, jika tebakanku benar berikan semua bahan yang aku cari secara percuma," ucap Lingling sambil tersenyum.
Pria tua itu menatap Lingling dan membalas senyumannya, karena Lingling sendiri yang ingin mencari masalah dirinya tidak akan sungkan lagi.
"Aku setuju, tapi sebagai persyaratan dariku jika kamu salah menebak kamu harus memberikan semua keping emas yang kamu bawa," ucap pria tua itu.
"Hahahaha, ternyata kota ini penuh dengan penjahat berkedok. Cepat keluarkan bahanmu aku tidak bisa menunggu lebih lama," sahut Lingling.
"Lagi-lagi kamu mencari yang percuma," ucap Naga kedua.
"Aku hanya menuruti apa yang sebenarnya diinginkannya, lagi pula kamu pasti mengetahui semua nama bahan obat itu," sahut Lingling.
"Anggap saja ini pelajaranmu yang baru dariku, jangan mengecewakanku," ucap Naga kedua.
"Tenang saja. Itu tidak akan terjadi," sahut Lingling sambil tersenyum.
"Uangku sepertinya kali ini tidak akan berkurang lagi," dalam hati Lingling merasa senang.
__ADS_1