Pendekar Naga Wanita

Pendekar Naga Wanita
Mendapatkan Dengan Percuma


__ADS_3

Pak tua menyiapkan 3 bahan tersulit yang tidak mungkin diketahui oleh sembarang orang atau orang biasa, sambil berjalan ke arah Lingling pria tua itu tidak berhenti menertawakan wanita muda yang berpikiran sempit berani menantangnya.


"Aku sudah menyiapkannya, jika kamu ingin menyerah sekarang masih sempat jangan membuat malu dirimu sendiri Nak," ucap pal tua menyunggingkan bibirnya meremehkan Lingling.


"Siapa yang akan malu masih belum ada yang tahu, cepat keluarkan saja," sahut Lingling.


"Heeeh, aku ingin lihat sampai mana kamu akan terus berpura-pura dan mempermalukan dirimu sendiri," gumam pak tua yang terus tersenyum.


"Yang pertama aku akan membuka adalah ini, aku beri waktu setengah jam untukmu berpikir apa ini," ucap pak tua memegang rumput berwarna biru gelap di tangannya.


"Hahahaha, itu sangat gampang aku bahkan sudah ribuan kali melihatnya," ucap Naga kedua.


"Apa itu?" tanya Lingling.


Lingling baru pertama kali melihat rumput berwarna biru gelap apalagi sampai menyala seperti itu.


Pak tua yang melihat Lingling hanya diam langsung tersenyum, bahan yang ada di tangannya bukan sembarang bahan dirinya yakin wanita muda di depannya pasti tidak akan mengetahuinya.


"Nama bahan itu adalah rumput puca warna, rumput itu bahan obat terbaik untuk membuat pil air surga, pil tingkat sedang murni," ucap Naga kedua yang disambut anggukan kepala oleh Lingling.


"Aku tahu apa itu," ucap Lingling.


"Katakan," sahut pria tua sambil tersenyum menyepelekan Lingling.


"Rumput puca warna, bahan untuk membuat pil menengah murni, untuk membuat pil air surga," ucap Lingling.


Pak tua menatap Lingling tidak percaya, bagaimana bisa wanita muda yang usianya belum sampai puluhan tahun mengetahui nama bahan yang dipegangnya itu bahkan sampai mengetahui apa kegunaan bahan itu.


"Mustahil, itu pasti hanya kebetulan," dalam hati pak tua itu berusaha menyangkal.


"Benar, tapi kali ini aku yakin kamu tidak akan mengetahuinya," ucap pak tua yang langsung membuka sebuah kotak di depannya.


"Ini kamu pasti tidak akan mengetahui apa ini," sambungnya sambil memegang satu biji berwarna Hijau.


"Ahhhhh, aku juga tahu itu," ucap Naga kedua.


"Biji persik mata Ulat, bahan obat menengah tingkat murni," sambung Naga kedua.


"Itu biji persik mata Ulat" ucap Lingling.


"Bagaimana kamu mengetahuinya," sahut pak tua di depan Lingling yang masih tidak percaya.

__ADS_1


"Aku juga alchemist walau pemula," ucap Linglingnsantai.


"Walau kamu alchemist kamu tidak mungkin bisa menebaknya karena ini bukan sembarang bahan yang bisa di dapat dengan mudah," sahut pak tua itu.


"Lalu kenapa, buktinya aku mengetahuinya," ucap Lingling.


"Kalau begitu aku akan memperlihatkan yang terakhir," sahut pak tua itu sambil membuka kotak berwarna merah di depannya.


"Hahaha, kamu pasti tidak akan mengetahuinya," ucap pak tua dengan penuh percaya diri.


Lingling menatap akar yang dipegang pria tua di depannya, akar yang terlihat sangat familiar membuat Lingling berusaha mengingat nama akar itu.


"Aku pernah melihatnya tapi aku lupa apa namanya," ucap Naga kedua.


"Akar kehidupan berusia 1000 tahun lebih," ucap Lingling.


"Benar, bagaimana kamu mengetahuinya," sahut pak tua itu yang lagi-lagi tidak percaya.


"Bukan urusanmu, aku sudah berhasil menebak ketiganya jangan mengingkari perjanjian," ucap Lingling sambil tersenyum.


"Nama ku Awi aku tidak akan mengingkari perjanjian, ambillah semua bahan yang ingin kamu ambil," sahut pak tua itu.


"Anak muda yang sangat berbakat, aku harus memiliki hubungan dengannya," dalam hati Awi.


Lingling mengambil lebih banyak bahan dari sebelumnya, tidak hanya mengambil bahan yang sama sesuai permintaan Naga kedua Lingling juga mengambil beberapa bahan yang terlihat sangat langka dan mahal harganya.


"Bagaimana, apa kamu sudah mengambil apa yang kamu butuhkan?" tanya Awi yang berdiri di depan Lingling.


"Sudah, terima kasih sudah memberikanku secara percuma," sahut Linglingm


"Tidak masalah, semoga dimasa depan kamu bisa kembali lagi untuk membantuku," ucap Awi.


"Akan aku usahakan asal imbalannya sebanding," sahut Lingling sambil berjalan keluar dan pergi begitu saja.


Awi hanya tersenyum melihat Lingling yang berjalan pergi, untuk berjaga-jaga akhirnya dia menemukan seseorang yang akan menolongnya kelak. Lingling menghampiri Yao dan Yi yang masih menunggunya, keduanya yang melihat Lingling sudah keluar bergegas berdiri tegak menatapnya yang berjalan ke arah mereka.


"Aku harus pergi, karena kalian sudah mengantarku ambillah ini," ucap Lingling memberikan 5 keping emas ke Yai.


"Apa benar ini untuk kami," sahut Yai senang.


"Kalau kalian tidak mau tidak masalah,"ucap Lingling.

__ADS_1


"Tentu saja kami mau, terima kasih nona," sahut Yai danYi serentak sambil menundukkan kepala.


"Nona mau kemana lagi, kami akan mengantar kemanapun nona pergi," ucap Yi.


"Tidak perlu, aku akan meninggalkan Kota ini, kalian berdua hiduplah dengan baik jangan lagi merampok orang lain," sahut Lingling sambil berjalan pergi.


"Benar-benar manusia yang aneh. Kamu menghemat uangmu mengambil bahan tanpa mengeluarkan uang tapi akhirnya kamu memberikan uangmu pada mereka," ucap Naga ketiga.


"Apa salahnya, aku hanya saling berbagi setidaknya aku hanya mengeluarkan 5 keping emas bukannya puluhan," sahut Lingling.


"Terserah kamu saja, itu bukan urusanku. Sekarang pergilah mencari sumber air aku akan melatihmu mengendalikan air tanpa harus menggunakan energimu," ucap Naga Ketiga.


"Baiklah," sahut Lingling sambil terus berjalan pergi.


"Hei aku ingin bertanya?" ucap Naga kedua.


"Tanya saja," sahut Lingling.


"Kamu mengetahui yang terakhir itu dari mana? aku saja bahkan tidak mengingat namanya," ucap Naga kedua.


"Kalau itu tentu saja rahasia," sahut Lingling menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Cih, tadi kamu bilang tanya saja kenapa jawabannya rahasia," ucap Naga kedua.


"Karena memang rahasia," sahut Lingling.


"Tidak mungkin aku memberitahumu kalau aku pernah membaca tentang akar cakrawala itu dikehidupanku sebelumnya," dalam hati Lingling.


Lingling melanjutkan perjalanannya mencari sumber mata air terdekat untuk berlatih, lebih bagus untuknya mencari sungai yang jauh dari keramaian.


Melewati hutan Lingling menemukan sebuah sungai dengan air yang sangat jernih, seketika Lingling merasa ingin sekali berendam di dalam sungai.


"Hentikan, apa kamu tidak merasa ada yang aneh dengan sungai itu," ucap Sai.


"Apa yang aneh aku melihatnya biasa saja," sahut Lingling.


"Kalau begitu aku pinjam tubuhmu sebentar, biar aku yang menyelesaikannya," ucap Sing yang langsung mengambil alih tubuh Lingling.


Sai yang mengambil alih tubuh Lingling mulai memperlihatkan sisiknya, Sai perlahan berjalan ke arah sungai di depannya dan menghentakan kakinya berulang kali.


"Keluar sekarang atau ku hancurkan semua yang ada disini" teriak Sai.

__ADS_1


__ADS_2