
Di dalam tenda Lingling masih terlihat sangat santai walau peperangan sudah berakhir, Lingling sangat yakin sebentar lagi pangeran akan datang mengunjunginya.
"Tinggalkan aku sendiri, aku mau bicara dengannya," ucap suara dari luar tenda.
Lingling tersenyum sambil berpura-pura tertidur, dari luar Pangeran Yan berjalan ke arahnya dan langsung melepaskan ikatan di tangan nya.
"Bangunlah," ucap Pangeran Yan.
"Haaaaah, Baru kali ini aku memiliki tahanan yang sangat santai, masih bisa tidur pulas walau berada di situasi seperti ini wanta yang tidak takut mati," dalam hati Pangeran Yan.
Lingling perlahan membuka matanya, tangannya yang sudah tidak terikat membuatnya langsung mengucek matanya berpura-pura baru bangung dari tidurnya.
"Hooooaaaaam, Bagaimana peperangan nya Pangeran?" tanya Lingling.
"Kali ini pasukan kerajaan Reya mundur lebih cepat, untung aku menuruti perkataan mu," ucap Pangeran Yan.
"Kamu bukan mata-mata musuh bagaimana kamu mengetahuinya, kamu jangan-jangan kamu adalah penyihir?" sambung Pangeran Yan.
"Kenapa banyak yang mengira aku yang cantik ini adalah penyihir, padahal itu semua hanya strategi dan cara mengetahuinya tentu saja menggunakan rumus menghitung," sahut Lingling sambil berdiri.
"Rumus menghitung! Apa itu?" tanya Pangeran Yan.
"Susah untuk menjelaskannya itu juga rahasia, peperangan semalam hanya percobaan dan peperangan sebenarnya adalah hari ini," sahut Lingling.
"Apa!" teriak Pangeran Yan yang terkejut.
"Lebih tepatnya saat matahari berada di atas kepala, peperangan terakhir penentu siapa yang menang baru akan dimulai," sahut Lingling menjelaskan dengan santai.
"Prajurit Ku banyak yang terluka semalam, kalau mereka menyerang aku pasti kalah," ucap Pangeran Yan.
"Sekarang aku percaya kamu bukan mata-mata musuh, bisakah kamu membantuku," sambung Pangeran Yan.
"Apa Pangeran bercanda, aku hanya berada di tingkat emas level 3 akhir, lagi pula aku seorang tahanan kenapa aku harus membantu," sahut Lingling.
"Apa aku tidak salah dengar? anak ini bilang dia hanya tingkat emas level 3 akhir," ucap Naga kedua.
"Jangan kaget walau masih kecil dia ini wanita gila kekuatan, sebelum menjadi sangat kuat dia tidak akan puas," sahut Sai.
"Umurku 20 tahun, aku baru saja menerobos tingkat bumi level 2 akhir sebulan yang lalu. Sedangkan kamu yang sudah tingkat emas level 3 akhir diusia mu saat ini benar-benar jenius menurutku, bisakah kamu membantuku," ucap Pangeran Yan lagi.
"Heeeeh, apa untungnya buat ku?" sahut Lingling membenarkan bawah bajunya yang terlipat.
"Kalau begitu aku berikan ini untuk mu, bagaimana," ucap Pangeran Yan memberikan batu jiwa tingkat tinggi ke Lingling.
"Hahahaha, ternyata apa yang dipikirkan anak itu jadi kenyataan, aku tidak menyangka nya," ucap Sai sambil terus tertawa.
__ADS_1
"Keberuntungan anak itu tidak buruk, sekarang aku sudah yakin menurunkan semua keahlian alchemist ku padanya," sahut Naga kedua.
"Batu jiwa tingkat tinggi," ucap Lingling sambil menatap batu jiwa di tangannya dengan mata berbinar.
"Sekarang bagaimana?" tanya Pangeran Yan penuh harap.
"Baiklah aku akan membantu yang setelah menyerap batu jiwa ini," sahut Lingling.
"Apa kamu yakin, bukannya kamu bilang mereka akan menyerang siang ini," ucap Pangeran Yan.
"Tenang saja aku sangat yakin, Pangeran bisa siapkan pasukan yang ada saja aku akan menyusul," sahut Lingling.
Pangeran Yan berjalan keluar sambil menghela nafas, tiba-tiba saja Pangeran Yan merasa menyesal sudah memberikan batu jiwa tingkat tinggi pada Lingling.
"Aku mendapatkannya, sekarang aku bisa menjadi lebih kuat," ucap Lingling sambil tersenyum.
"Apa kamu yakin ingin menyerapnya sekarang? Apa kamu tahu berapa lama kamu membutuhkan waktu untuk menyerap sepenuhnya batu jiwa tingkat tinggi itu?" sahut Sai.
"Tidak tahu memangnya berapa lama?" tanya Lingling balik.
"3 hari," sahut Sai
"Apa tidak ada cara agar aku bisa lebih cepat menyerapnya?" tanya Lingling.
"Ada, tapi tubuhmu mungkin tidak bisa menahannya," sahut Naga kedua.
"Aku dan pertama akan menghancurkan lautan spiritual mu menggunakan kekuatan kami, setelah kami menghancurkan lautan spiritual mu kamu langsung saja menyerap batu jiwa itu," sahut Naga kedua.
"Baiklah kalau begitu mulai saja sekarang," ucap Lingling.
Arrrrrrkkkkhhh.
Lingling langsung menjerit sambil memegangi bagian dadanya, Sambil menahan rasa sakit yang dirasakannya Lingling duduk bersila menutup matanya, Lingling bergegas menyerap batu jiwa di tangannya tanpa mempedulikan rasa sakitnya.
Jantung Lingling terus berdegup kencang seiring rasa sakit yang dirasanya, Lingling mencoba menahan rasa sakitnya sambil tetap fokus menyerap batu jiwa di tangannya.
Di tempat lain Pangeran Yan membawa seratus prajuritnya yang tersisa ke perbatasan, sampai di sana Pangeran kedua Kerajaan Reya yang juga Panglima perang di Kerajaannya sudah menyambutnya dengan hampir lima ratus prajuritnya.
"Hahahaha, Pangeran Yan sedang bercanda sekarang. Kenapa tidak mengaku kalah saja dari pada hanya membawa seratus prajurit," ucap Pangeran Yaga Pangeran kedua Keraajan Reya.
"Hari ini memang ada yang menyerah tapi yang pasti bukan aku," sahut Pangeran Yan.
"Kalau begitu kita lanjut saja dan lihat siapa yang akan menyerah," ucap Pangeran Yaga.
"Serang!" teriak Pangeran Yaga.
__ADS_1
Teeeeng teeeeeng treeeeeeeng.
Arrrrrrkkkkhhh...
Suara adu pedang yang dipadu suara jeritan meramaikan peperangan, seratus prajuritnya yang hanya tersisa beberapa membuat Pangeran Yan mulai cemas.
"Aku tidak boleh mengecewakan Ayah," ucap Pangeran Yan.
Wheeeeeeeeeesssssss.
Pangeran Yaga mengayunkan pedangnya ke arah Pangeran Yan dengan sangat cepat dan berhasil mengenainya.
Pangeran Yan memegangi lengannya yang terluka terkena pedang Pangeran yaga, serangan tiba-tiba dari Pangeran yaga sama sekali tidak diduga Pangeran Yan.
"Sepertinya harapan menang sudah tidak ada," ucap Pangeran Yan dengan suara pelan.
Wheeeeeeeeeeesssssssss.
Duuuuuuuuaaaarrrr.
Ledakan ditengah prajurit Kerajaan Reya
mengejutkankan Kedua Pangeran, Lingling yang sudah tiba langsung menyerang secara brutal prajurit Kerajaan Reya.
"Dia akhirnya datang," ucap Pangeran Yan.
"Siapa dia?" ucap Pangeran Yaga.
Empat ratus lebih prajurit Kerajaan Riya kalah di tangan Lingling hanya dalam hitungan menit, tepat setelah mengalahkan prajurit terakhir Lingling bergegas menghampiri Pangeran Yan yang terdiam.
"Sebenarnya siapa kamu?" tanya Pangeran Yaga sambil menatap Lingling.
"Ahhhh, aku bukan siapa-siapa, aku hanya membantunya karena dia meminta bantuanku," ucap Lingling.
"Semua sudah berakhir, menyerah saja dan selesaikan semua dengan damai. Aku sengaja tidak membunuh semua prajurit mu," sambung Lingling.
"Kenapa aku harus menyerah, berpihak lah padaku akan aku bayar 3 kali lipat dari apa yang diberikannya," sahut Pangeran Yaga.
"Aku orang yang paling tidak suka melihat penghianat, aku tidak akan melakukan itu jadi pergilah," ucap Lingling.
"Atau kamu mau melihat semua Prajurit Mu mati di sini sekarang juga," sambung Lingling yang langsung mengeluarkan aura mematikan dari tingkat pelatihannya.
"Tingkat bumi level 2 akhir," ucap Pangeran Yan dan Pangeran yaga bersamaan.
"Sama-sama tingkat bumi level 2 akhir tapi auranya sangat mengerikan," dalam hati Pangeran Yaga.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka bisa ada ditingkat yang sama dengannya," dalam hati Pangeran Yan.
Pangeran Yaga menarik kembali prajuritnya mundur, dirinya tidak ada harapan menang dari Lingling walau tetap bertarung satu lawan satu, apalagi aura dari pedang yang berada di punggung wanita ity seperti haus darah dirinya tidak mau mati begitu saja.