Pendekar Naga Wanita

Pendekar Naga Wanita
Pria Yang Menolongnya


__ADS_3

Lingling melihat pria itu berjalan mendekatinya, sampai di sebelahnya sang pria langsung menaruh tangan Lingling ke pundaknya dan menuntunnya berjalan masuk ke rumahnya. Lingling dibaringkan di atas tikar anyaman, setelah membaringkan Lingling sang pria bergegas mengambil air untuk membersihkan darah Lingling yang masih mengalir deras.


Melihat sang pria yang bersungguh-sungguh merawatnya Lingling hanya bisa diam memperhatikan, sesekali Lingling menatap wajah pria itu yang penuh dengan bercak hitam seperti tanda lahir hingga membuat sang pria jauh dari kata tampan.


"Tampan tidak selalu wajah, hati pria ini sangat baik aku menyukainya," ucap Sai.


"Emmmmmmm," sahut Lingling yang tanpa sadar bersuara.


"Maaf-maaf sakit ya, aku akan coba pelan-pelan menjahitnya," ucap pria itu.


"Sebenarnya pria ini sangat tampan yang ada di wajahnya bukan tanda lahir, seseorang sengaja meracuni wajahnya," ucap Naga kedua.


"Apa ada obatnya?" tanya Lingling.


"Heeeeeh, kamu tidak mungkin langsung menyukainya bukan," ucap Naga keempat.


"Aku tidak bilang aku menyukainya, kalau ada obatnya aku ingin mencarikannya untuk membalas Budi, coba kalian lihat dia bahkan menjahit tubuhku secara perlahan dan sangat hati-hati," sahut Lingling.


Sang pria menatap Lingling yang hanya berdiam tanpa bersuara, pria itu langsung menundukkan wajahnya karena mengira Lingling takut atau mungkin alergi dengan wajah jeleknya.


"Sudah selesai, istirahat saja dulu aku akan membuat makan malam," ucap sang pria yang bergegas berdiri.


"Tunggu," panggil Lingling.


"Siapa namamu?" tanya Lingling lagi.


"Wei Tan" sahut pria itu yang kembali berjalan ke dapur.


Wajah Wei Tan tersipu baru kali ini seseorang bertanya tentang namanya, saat pikirannya mulai berpikir sesuatu yang jauh Wei Tan langsung menampar pipinya sendiri dengan sangat keras.


"Sadar diri, dia saja sepertinya takut dengan wajahmu Wei," dalam hati Wei Tan.


Setelah mempersiapkan hidangan di samping Lingling Wei Tan menatap Lingling yang masih terbaring, Wei Tan baru ingat kalau Lingling masih belum bisa bangun untuk makan sendiri, sepertinya dirinya yang harus menyuapinya semoga saja wanita di depannya itu tidak keberatan.


"Maaf bukan maksud tidak sopan, kamu masih belum bisa bangun kalau tidak keberatan aku akan menyuapimu itupun kalau kamu juga tidak merasa jijik dengan wajahku," ucap Wei Tan menundukkan kepalanya.


"Aku tidak keberatan," sahut Lingling.


Wei Tan langsung menatap Lingling tidak percaya apa yang di dengarnya, Wei Tan yang mencoba tetap tenang mengambil makanan yang sudah disiapkan untuk Lingling dan bersiap menyuapinya.

__ADS_1


Fuuuuuuuh, fuuuuuuuuh.


Dengan sabar Wei Tan meniup sup di sendok sebelum menyuapkannya ke Lingling, setelah di rasa cukup dingin Wei Tan menyuapkan sesendok demi sesendok ke mulut Lingling hingga habis.


"Kenapa kamu tinggal di sini sendiri?" tanya Lingling yang baru menghabiskan suapan terakhir.


"Aku di asingkan karena sangat jelek, orangtuaku bilang aku hanya membuat mereka malu saja kalau terus tinggal bersama mereka," ucap Wei Tan menundukkan kepalanya sedih.


Lingling terdiam mendengar perkataan Wei Tan membuatnya teringat tentang pemilik tubuh terdahulu yang dianggap sampah oleh semua orang karena Kakak dan Ibu tirinya, perbedaannya Wei Tan seorang pria dan dirinya adalah wanita.


"Sudah jelek, menyedihkan bukan," ucap Wei Tan yang langsung berdiri.


"Aku istirahat di kamar, kalau butuh apa-apa panggil saja aku," sambung Wei Tan sambil berjalan pergi.


Haaaaaaaaaaaaaaah.


Lingling menghela nafas panjang, Lingling merasa sangat kesal melihat manusia yang selalu saja seperti itu apalagi pada anak mereka sendiri.


"Kamu kenapa?" tanya Sai.


"Ceritanya mengingatkanku saat masih belum bertemu denganmu," ucap Lingling.


"Ya begitulah," ucap Lingling.


Lingling mencoba duduk bersandar dan mengeluarkan pil penyembuh dari dalam tas penyimpanannya, Lingling yang sembarangan mengeluarkan tanpa sengaja malah mengeluarkan pil mahkota Dewi.


"Pil ini," dalam hati Lingling.


"Naga kedua pil mahkota Dewi bukannya pil penawar racun," ucap Lingling.


"Iya, baguslah kalau kamu mengingatnya, lalu kenapa," sahut Naga kedua.


"Bukannya kamu tadi bilang bercak hitam di wajahnya karena diracuni, pil mahkota Dewi apa bisa menyembuhkannya?" ucap Lingling.


"Bisa, tapi racun yang ada di wajahnya sudah melekat cukup lama walau pil mahkota Dewi berhasil mengeluarkan racun itu tapi hitam di wajahnya tidak bisa menghilang begitu saja," sahut Naga kedua.


"Apa ada cara menghilangkannya?" tanya Lingling.


"Ada, tapi itu tidak mudah mendapatkannya," sahut Naga kedua.

__ADS_1


"Tidak masalah, asal ada cara untuk menghilangkannya tidak peduli bahaya seperti apa aku akan mendapatkannya, aku tidak suka berhutang budi," ucap Lingling.


"Setelah kita pergi dari sini aku akan memberitahumu," sahut Naga kedua.


Lingling mengambil pil penyembuh dan langsung menelannya, perlahan luka tusukan yang dijahit Wei Tan mengering, luka di dalam tubuhnya juga menghilang seketika.


Pagi harinya Wei Tan yang baru bangun tidur sangat terkejut melihat Lingling duduk bersila, Wei Tan langsung berlari ke arah Lingling dengan cemas dan duduk di depannya.


"Apa yang sedang kamu lakukan, kamu masih terluka parah jangan bangun, cepat berbaring kembali," ucap Wei Tan.


Lingling membuka matanya, matanya yang baru terbuka bertatapan langsung dengan wajah Wei Tan yang mencemaskan nya.


"Aku sudah baik-baik saja," sahut Lingling.


"Tidak mungkin, tubuhmu terluka parah tidak mungkin sembuh hanya dengan semalam," ucap Wei Tan tidak percaya.


"Lihatlah," sahut Lingling mengangkat bajunya memperlihatkan lukanya yang sudah mengering.


"I itu bagaimana mungkin," ucap Wei Tan.


Tangan Wei Tan tanpa sadar memegang luka Lingling yang benar-benar sudah sembuh, melihat Wei Tan yang tiba-tiba memegang perutnya wajah Lingling memerah, Lingling langsung mengalihkan pandangannya karena tidak ingin Wei Tan melihat wajahnya.


"Ternyata benar sudah sembuh," ucap Wei Tan.


Melihat Lingling yang memalingkan wajahnya Wei Tan baru sadar tangannya memegang tubuh Lingling, Wei Tan langsung menarik tangannya dan mundur perlahan.


"Maaf, aku tidak bermaksud," ucap Wei Tan.


"Tidak apa, terima kasih sudah menolongku, ambillah ini," sahut Lingling memberikan sebuah pil mahkota Dewi.


"Apa ini?" tanya Wei Tan menatap pil yang dipegangnya.


"Itu bisa menghilangkan racun di wajahmu, noda hitam di wajahmu tidak akan menyebar lagi, tapi maaf itu belum bisa menghilangkan noda hitam yang ada di wajahmu. Tenang saja sebagai rasa terima kasih aku akan mencari obat untuk menghilangkannya," sahut Lingling.


"Terima kasih, tapi kamu tidak perlu melakukan itu, aku sudah terbiasa dengan noda ini," ucap Wei Tan.


Lingling langsung berdiri, melihat Wei Tan yang sudah pasrah malah membuatnya bertekad mencari obat untuk menyembuhkannya.


"Sekali lagi terima kasih, aku pergi dulu," ucap Lingling sambil berjalan pergi meninggalkan Wei Tan.

__ADS_1


__ADS_2