
Whuuuuuuuuuussssssss.
Boooooooooooooommmmm.
Duuuuuuuuuaaaaaarrrrrrrrrrrrrr.
Duuuuuuuuuuaaaaaarrrrrrrrrrrrr.
Ratu Elf tidak henti menggunakan sihirnya menyerang Ketua utama, tidak puas hanya menyerang menggunakan sihir Ratu Elf langsung merubah batu dan kayu di depannya menjadi pedang dan bom.
Treeeeeng treeeeeng treeeeeng.
Ketua utama mengeluarkan pedangnya menangkis serangan pedang kayu yang tidak ada habisnya, jimat mantra pelindung yang dibawanya hampir habis untuk menahan bom dan serangan sihir Ratu Elf.
"Ini tidak bagus untukku, bagaimanapun juga aku tidak akan bisa menang melawan Ratu Elf itu," ucap Ketua utama.
"Semua ini salah wanita muda itu, suatu hari nanti aku akan membalasnya dan meminta perhitungan padanya," sambung Ketua utama.
"Kalian berdua tunggu saja, percayalah semua tidak akan berakhir seperti ini saja," teriak Ketua utama yang langsung menghilang.
Ratu Elf mengembalikan batu dan kayu seperti semula, sihir yang digunakannya untuk menyerang Ketua utama perguruan racun hitam disimpannya kembali.
Ratu Elf berjalan ke arah Lingling yang hanya diam menatapnya, Ratu Elf tau saat ini Lingling pasti tidak menyangka apa yang baru saja dilihatnya.
"Kamu bisa membuatnya sampai seperti itu tapi kenapa kamu bisa tertangkap olehnya?" tanya Lingling.
"Manusia-manusia itu menggunakan cara licik untuk menangkapku, setelah aku tertangkap mereka tidak berhenti memberikanku pelemah energi," sahut Ratu Elf.
"Ahh, begitu," ucap Lingling.
"Terima kasih kamu sudah membantuku, aku baru tau ternyata tidak semua manusia itu jahat," sahut Ratu Elf.
Lingling tersenyum sendiri mendengar perkataan Ratu Elf, Lingling merasa dirinya tidak ada bedanya dengan manusia lainnya, di kehidupan sebelumnya dirinya bahkan lebih kejam karena harus membunuh orang yang tidak bersalah hanya karena misi rahasianya.
Lingling bangkit berdiri menatap Ratu Elf di depannya, janjinya menyelamatkan Ratu Elf sudah ditepati kini saatnya dirinya melanjutkan perjalanannya.
"Aku sudah menepati janjiku pada Anak perempuan bernama Canlin, sudah saatnya aku pergi," ucap Lingling.
"Tunggu, sebagai rasa terima kasih ku ambillah ini," sahut Ratu Elf.
Ratu Elf mengeluarkan 1 batu jiwa miliknya dan memberikannya ke Long Xu.
"Aku hanya bisa memberikanmu ini untuk sementara, setelah bangsa Elf kembali seperti semula datanglah lagi aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan," ucap Ratu Elf.
"Aku terima ini, sampai bertemu lagi," sahut Lingling yang langsung berjalan pergi.
Manusia yang sangat menarik," dalam hati Ratu Elf sambil tersenyum.
Lingling kembali melanjutkan perjalannya sambil terus menatap batu berkilau di tangannya, sebenarnya batu apa yang diberikan Ratu Elf itu dan apa kegunaannya, pikir Lingling
"Kenapa diam saja, apa kamu tidak tahu batu apa yang kamu pegang itu," ucap Naga kedua.
"Aku memang tidak mengetahuinya," sahut Lingling terus terang.
__ADS_1
"Batu yang kamu pegang adalah batu jiwa tingkat rendah, batu jiwa itu hanya bisa menjadi bahan tambahan untuk membuat pil," ucap Naga kedua.
"Kalau batu jiwa ini tingkat rendah bagaimana dengan batu jiwa tingkat tinggi, apa kegunaannya?" sahut Lingling.
"Satu batu jiwa tingkat tinggi sama dengan 3 inti hati hewan spiritual level akhir yaitu level 10, untuk mendapatkan inti hati tingkat tinggi tidaklah mudah" ucap Naga kedua.
Untuk sementara simpan saja batu jiwa tingkat rendah itu, nanti kamu pasti akan membutuhkannya," sambung Naga kedua.
***
Di perbatasan dua Kerajaan besar Lingling menghentikan langkahnya, Lingling memutuskan beristirahat di bawah pohon besar sambil menikmati makanan isi daging yang dibelinya
Mantou saat ini lebih enak dari pada mantou dikehidupan ku sebelumnnya," dalam hati Lingling sambil mengunyah dengan cepat.
Kreeeeesssseeeek...
Suara dari balik semak mengejutkan Lingling, Lingling langsung berhenti memakan mantou nya sambil memasang telinganya dengan tajam.
"Siapapun itu keluarlah," teriak Lingling.
Lima prajurit Kerajaan mengarahkan tombaknya ke Lingling, kelimanya mengelilingi Lingling dengan tatapan penuh waspada.
"Kamu pasti mata-mata Kerajaan Reya," ucap pemimpin prajurit.
"Hahahaha, Mata-mata," sahut Lingling yang langsung tertawa sangat keras.
"Mata mata secantik aku, Hahahaha."
"Kita bawa saja dia ke Pangeran, biar Pangeran yang memberinya hukuman," ucap pemimpin prajurit.
Lingling mengikuti para prajurit sambil tetap memakan mantou nya, pemimpin prajurit yang melihat Lingling begitu santai hanya menggelengkan kepalanya.
Sampai di depan sebuah tenda pemimpin prajurit meninggalkan Lingling dan masuk ke dalam, sang pemimpin prajurit melaporkan bahwa dia dan prajurit lain menemukan mata-mata musuh tepat di perbatasan dua Kerajaan.
"Kalau begitu suruh dia masuk, aku sendiri yang akan bertanya padanya dan memutuskan hukuman untuknya," ucap pangeran dengan tegas.
Pemimpin prajurit kembali ke luar, ditatapnya penuh heran Lingling yang masih santai tanpa ada rasa takut sedikitpun di matanya.
"Padahal kamu bisa saja mengalahkan mereka dan pergi, kenapa kamu malah menyerahkan diri," ucap Sai.
"Haaaaah, aku juga tidak habis pikir," sahut Naga kedua.
"Sudah 10 hari kita belum mendapatkan informasi tentang Naga lainnya, bukannya aku juga masih harus menjadi jauh lebih kuat," ucap Lingling.
"Apa hubungannya menjadi kuat dan menjadi tawanan tuduhan mata-mata musuh," sahut Sai.
"Kita berada di perbatasan dua Kerajaan, sebagai anggota Kerajaan semua informasi penting pasti mereka mengetahuinya dan itu menguntungkan buatku yang mencari informasi, satu lagi sebagai anggota Kerajaan pasti memiliki banyak barang berharga siapa tahu saja aku mendapatkan batu jiwa tingkat tinggi," ucap Lingling.
"Jangan terlalu berharap, bagaimana kalau kamu mati dihukum gantung," sahut Sai.
"Itu tidak mungkin tenang saja," ucap Lingling percaya diri.
Pemimpin prajurit menghampiri Lingling dan membawanya masuk ke dalam tenda, sampai di dalam tenda Linglinh disuruh berlutut tepat di depan seorang Pangeran.
__ADS_1
"Ini mata-mata musuh Pangeran Yan," ucap pemimpin prajurit.
"Tinggalkan kami berdua," sahut Pangeran Yan dari Kerajaan Yada.
"Apa Pangeran yakin, bagaimana jika dia menyerang pangeran nantinya," ucap pemimpin prajurit.
"Apa kamu sedang membantahku," sahut Pangeran Yan.
"Kalau begitu prajurit akan berjaga di luar," ucap pemimpin prajurit yang langsung berjalan ke luar.
Pangeran Yan mengambil pedangnya dan mengarahkannya ke Lingling Matanya menatap Linglinh dengan tajam.
"Berani sekali Kerajaan Reya mengirim mata-mata lemah sepertimu, apa Raja Gyu meremehkan pasukanku" ucap Pangeran Yan.
"Hahahaha" Lingling tertawa sangat keras sambil memegangi perutnya, tidak tau kenapa perkataan Pangeran di depannya terdengar sangat lucu.
"Beraninya kamu tertawa di hadapanku," teriak Pangeran Yan.
"Kenapa tidak berani, sebagai seorang Pangeran kamu bahkan tidak tahu apa aku benar mata-mata musuh atau bukan, Apa kamu tidak berpikir bagaimana mungkin mata-mata musuh berada diperbatasan yang sudah jelas banyak prajuritmu berjaga, apalagi mata mata secantik aku itu tidak ada," sahut Lingling santai.
"Kenapa tidak mungkin, mata-mata musuh bisa saja ada dimana-mana," ucap Pangeran Yan.
"Sudah berapa lama peperangan ini berlangsung?" tanya Lingling.
"Dua belas hari," sahut Pangeran Yan.
"Kapan terakhir kali prajurit musuh menyerang?" tanya Lingling lagi.
"Tiga hari lalu," sahut Pangeran Yan menjawab dengan penuh heran.
"Jika tebakanku benar pasti sudah tiga kali penyerangan" ucap Lingling.
"Kamu mengetahuinya karena kamu mata-mata musuh, aku tidak heran," sahut Pangeran Yan.
"Hahahaha, pemikiran yang sangat dangkal," ucap Lingling sambil terus tertawa.
"Aku kasih saran lebih baik kamu bersiap-siap saja, karena tepat tengah malam nanti mereka akan menyerang," sambung Lingling.
"Kalian yang diluar jadikan dia tahanan, jaga dia jangan sampai melarikan diri," teriak Pangeran Yan.
Dua prajurit langsung membawa keluar Lingling, Pangeran Yan walau Ragu dengan perkataan Lingling tetap mempersiapkan prajuritnya.
Tepat ditengah malam Lingling mendengar suara pertempuran, suara adu pedang yang disertai jeritan membuatnya tersenyum sendiri
"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?" tanya Naga kedua.
"Itu rahasia," sahut Lingling.
"Apa kamu penyihir?" tanya Naga kedua lagi.
"Hahaha, tentu saja bukan jangan banyak bertanya," sahut Lingling.
"Aku yakin dia bukan penyihir, tapi aku sendiri tidak bisa menebak bagaimana cara dia melakukannya," ucap Sai penuh heran.
__ADS_1
Strategi seperti itu bahkan pembunuh amatir di kehidupanku yang dulu pasti mengetahuinya, apa lagi pertempuran sekala besar dan kecil yang sudah menjadi keseharianku mana mungkin aku melupakannya" dalam hati Lingling sambil tersenyum.