Pendekar Naga Wanita

Pendekar Naga Wanita
Rumah Pria Tidak Dikenal


__ADS_3

Lingling turun dari kereta kuda dibantu Cixi mendapat sambutan tidak menyenangkan, Mu Xuan Ayah Ciixi menatap Lingling dengan tajam seakan tidak menerima kehadirannya di rumahnya.


"Kamu baru kembali setelah sekian lama, kenapa malah membawa wanita gelandangan bersama mu," ucap Ayah Cixi yang berdiri di depan Lingling.


"Ayah dia yang menyelamatkanku saat berada di laut kematian, aku membawanya karena dia terluka," sahut Cixi.


"Oh ternyata bukan gelandangan hanya pengemis yang ingin meminta obat," ucap Ayah Cixi sambil menyunggingkan bibir.


Mata Lingling langsung melotot dan melepaskan tangan Cixi yang masih berada di pundaknya, selama ini tidak ada yang pernah mengatainya pengemis dan hinaan sebesar itu malah keluar dari mulut orang yang sama sekali tidak dikenalnya.


"Aku bahkan bisa membuat pil, menyembuhkan lukaku tidak sulit bagiku dan kamu bilang aku pengemis," ucap Lingling mencoba menahan diri.


"Benarkah, maaf kalau perkataan ku menyinggung mu, kamu ternyata alchemist, Silahkan masuk anggap saja rumah sendiri," sahut Ayah Cixi yang langsung berubah pikiran dengan sangat cepat.


Lingling perlahan menggerakan tangannya mengambil tas penyimpanannya, Lingling yang sudah mengeluarkan pil penyembuh dari dalam tasnya langsung menelannya.


Ayah Cixi tersentak kaget melihat luka Lingling yang tiba-tiba sembuh, penyesalan telah meremehkan Lingling membuatnya hanya bisa terdiam sambil menelan ludah.


"Heeeeh, aku bahkan tidak butuh obat milikmu, aku kemari karena menghargai anakmu yang ingin menolongku, tapi sambutanmu benar-benar mengecewakan," ucap Lingling yang langsung memutar badannya berjalan pergi.


Cixi yang kecewa dengan Ayahnya berlari masuk ke dalam rumah, Cixi tidak menyangka Ayahnya memandang Lingling yang sudah dianggap seperti temannya itu dengan sangat rendah dan mempermalukannya.


Berbeda dari Ayah Cixi yang menyesal telah menghina seorang alchemist, Mu Xianx Kakak Mu Xixi bergegas menyusul Long Xu yang berjalan menjauh.


"Tunggu Saudara, bisa bicara sebentar," ucap Mu Jix.


"Tidak ada waktu," sahut Lingling terus berjalan tanpa menoleh ke Mu Jix


"Tunggu Saudari, maafkan Ayahku, aku tahu perkataannya telah menyinggungmu," ucap Mu Jix sambil bersujud.


"Baguslah kalau kamu tahu, tenang saja aku tidak akan sekalipun menginjakan kaki ke rumah keluarga Mu," sahut Lingling.


Mu Jix hanya diam melihat Lingling yang berjalan menjauh. Sebenarnya keluarganya sangat membutuhkan alchemist untuk menyembuhkan luka dalam Ibunya yang terkena amukan api gila, walau dirinya tidak tahu Lingling berada di tingkat apa tapi dirinya yakin Lingling pasti bisa membantu menyembuhkan Ibunya.


"Semua salah Ayah, jika Ayah tidak menyinggungnya harapan Ibu untuk sembuh pasti masih ada," ucap Mu Jix yang baru kembali.


"Aku tidak tahu dia seorang alchemist, semua orang pasti tidak menyangka kalau dia alchemist karena tubuhnya penuh luka," sahut Ayah Cixi.

__ADS_1


"Hanya Ayah saja yang tidak tahu, dia bukan hanya alchemist dia juga calon pendekar hebat di masa depan. Selama aku merawatnya saat di kapal aku bisa merasakan aura yang berbeda dari dalam tubuhnya," ucap Cixi.


"Sudahlah, lagipula alchemist bukan hanya dia di bumi ini, apa yang kalian ributkan," sahut Ayah Cixi.


Cixi dan Sang Kakak langsung berjalan pergi, semua memang kesalahan Ayahnya karena terlalu merendahkan orang lain, keduanya hanya berharap semoga masih ada alchemist yang bisa menyembuhkan Ibu mereka.


***


Lingling yang sudah berjalan jauh dari kediaman keluarga Mu bergegas duduk di bawah pohon besar di dekatnya, Lingling langsung mengeluarkan pil penambah energinya yang hanya tersisa satu dan menelannya.


Sambil menutup matanya Lingling mencoba mengendalikan aura Nadinya dan kembali memperluas lautan spiritualnya.


Haaaaah.


Setelah menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan Linglinh merasa tubunya jauh lebih baik, Linglinh yang bersandar di bawah pohon tiba-tiba teringat perkataan Ayah Cixi.


"Sial, baru kali ini aku dihina sebagai pengemis," ucap Lingling memukul tangannya sendiri.


"Biarkan saja kamu tidak ada waktu mengurusinya. Asal kamu tahu kamu kalah dengan utusan Raja dunia bawah karena kamu kurang memiliki jurus jarak jauh, saat ini kamu hanya memiliki satu jurus dan itu juga tidak kamu keluarkan melawannya," sahut Saim


"Memang benar, tapi setidaknya jurusmu bisa menghalangi serangan jarak jauh darinya," sahut Sai.


"Ternyata aku masih kurang dalam berpikir, lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang aku harus mencari kitab jurus untuk menambah serangan ku," ucap Lingling yang langsung berdiri.


Tidak hanya itu, sekarang pilmu berkurang banyak kamu juga harus membuat pil lagi, tapi kali ini pil yang harus kamu buat berbeda dari sebelumnya," sahut Naga Kedua.


"Apa aku harus membeli bahan yang sama seperti sebelumnya?" tanya Lingling.


"Sebagian, sebagian lagi mungkin tidak akan ada di tempat penjualan bahan obat," sahut Naga Kedua.


"Baiklah apapun bahannya aku pasti bisa mendapatkannya," ucap Lingling penuh semangat


"Cih, hanya membuang waktu," sahut Naga Ketiga.


Lingling kembali melanjutkan perjalanannya menyusuri kota. Baru beberapa saat Lingling yang tidak tahu jalan membuatnya tersesat dijalan kecil sebuah perkampungan pinggir kota.


"Sepertinya harus memutar, ini bukan jalan besar kota," ucap Lingling berbicara sendiri.

__ADS_1


"Permisi," ucap suara dari belakang Lingling bersamaan satu tepukan mendarat di pundaknya .


Lingling langsung memutar badannya menatap pria berpenampilan kumuh yang ada di depannya, pria tampan yang ada di depan Lingling hanya berpenampilan kumuh jika dia berpenampilan rapi pasti akan bertampah tampan.


"Kamu tersesat ya," ucap pria itu lagi yang melihat Lingling terdiam.


"Benar apa kamu tahu jalan keluar dari perkampungan ini?" sahut Lingling.


"Tentu saja, tapi ini sudah mau malam kenapa kamu tidak beristirahat saja di rumahku," ucap pria itu lagi.


"Jika tidak merepotkanmu," sahut Lingling.


"Tentu saja tidak, tapi ku harap kamu tidak terlalu memikirkan hanya karena rumah ku kecil" ucap pria itu lagi sambil berjalan menarik tangan Lingling.


"Dia itu pria apa kamu tidak takut?" tanya Sai.


"Apa yang harus ditakutkan, aku yakin dia orang baik," ucap Lingling.


Lingling yang berjalan mengikuti pria tak dikenalnya tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah, rumah yang terlihat lebih kecil dari rumah lainnya membuat Lingling sempat ragu untuk masuk ke dalam.


"Masuklah, maaf jika rumahku kecil bagimu," ucap pria itu.


"Tidak masalah," sahut Lingling perlahan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Kakak sudah pulang," ucap anak laki-laki yang baru berlari keluar.


"Jangan lari-lari nanti jatuh," sahut pria itu sambil mengusap rambut anak laki-laki di depannya.


"Namaku Yusran dan ini adikku namanya Yuwan" ucap pria itu mengalihkan pandangannya menatap Lingling.


"Namaku Lingling, aku pengembara yang tersesat," sahut Lingling.


"Wuuuaaaaah, Kakak hebat sekali seorang wanita yang masih muda sudah menjadi pengembara," ucap Yuwan terkagum menatap Linglingm


"Itu bukan apa-apa," sahut Lingling sambil tersenyum.


Sambutan tidak menyenangkan dari keluarga besar sebelumnya telah tergantikan oleh sambutan hangat keluarga kecil di depan matanya, setelah menjalani dua kali kehidupan Lingling baru tahu harta tidak menjadi jaminan untuk kebaikan hati setiap orang.

__ADS_1


__ADS_2