Pendekar Naga Wanita

Pendekar Naga Wanita
Pria Elf


__ADS_3

Sepanjang jalan menuju Aula Mei Lingling terus berpikir, bangsa Elf tidak memiliki kultivasi melainkan sihir kalau begitu bagaimana caranya agar dirinya bisa menang di pertarungan nanti pikirnya.


"Heeeh, sebenarnya mustahil kamu bisa menang melawan pria bangsa Elf itu, bangsa Elf bisa merubah benda apa saja menjadi senjata, sihir mereka juga sangat kuat," ucap Sai seakan tau apa yang dipikirkan Lingling.


"Setiap makhluk hidup memiliki kelemahan, aku yakin pria Elf itu juga pasti punya kelemahan," sahut Lingling.


Setelah mendaftar Lingling langsung disuruh turun ke arena bertarung, dari arena Lingling bisa melihat pinggiran arena bertarung yang dipenuhi penonton.


Lingling yang berdiri di arena dikejutkan oleh pria tampan yang berjalan ke arahnya, tatapan membunuh dari pria itu sempat membuat Lingling gugup walau hanya sebentar.


"Elf, elf."


"Elf, elf."


"Elf."


Penonton terus bersorak meneriaki nama Alang pria bangsa Elf yang ada di depannya, tentu saja semua penonton akan bertaruh untuk Alang yang sudah sering menang dalam pertarungan.


"Akhirnya kamu sadar juga kalau tidak ada harapan untukmu menang," ucap Sai yang melihat Lingling hanya diam setelah melihat pria bangsa Elf.


"Belum dicoba belum tau hasilnya," sahut Lingling.


Teng teng teng.


Lonceng pertanda pertandingan dimulai telah dibunyikan, Alangnyang ingin pertarungan berakhir dengan cepat langsung menggunakan ikat kepalanya dan merubahnya menjadi bumerang.


"Lihatlah Alang langsung merubah ikat kepalanya, habislah wanita itu," ucap salah satu penonton.


Sial, mereka membuatku tidak bisa berpikir dengan tenang mencari kelemahan pria Elf yang tampan ini," dalam hati Lingling.


"Jangan hanya diam, kalau tidak niat bertarung dari awal jangan maju sekarang sudah terlambat untuk menyerah," teriak Alang.


Lingling menatap Alang kesal pria tampan tidak selalu bermulut manis pikirnya, dikehidupan sebelumnya dirinya tidak pernah diremehkan berani sekali pria bangs Elf itu meremehkannya.


Whuuuuuuuuuuussssssss.


Whuuuuuuuuuuuussssssss.


Bumerang yang dilempar Alang ke Lingling berulang kali dihindari dengan mudah dan sangat cepat, Lingling mencoba mengulur waktu mencari kelemahan pria Elf dan setelah beberapa saat akhirnya menemukannya.


"Heeeh, dapat juga akhirnya," ucap Lingling pelan sambil tersenyum.


Alang yang melihat Lingling terus menghindar merasa sangat kesal, pertarungan yang seharusnya berakhir dengan cepat malah diperlambat oleh manusia wanita lemah di depannya.


Alang melepas gelang di tangannya dan merubahnya menjadi cambuk, tidak ingin membuang waktu lagi Alang angsung mengarahkan cambuknya ke arah Lingling.


"Jangan terburu-buru, kita nikmati saja pertarungannya," ucap Lingling menebar senyum ke Alang.


Lingling sudah mengetahui kelemahan Alang, saat Alang kesal dan marah kontrol sihirnya tidak beraturan, Lingling berniat membuat Alang terus kesal agar sihirnya hilang kendali dan mengambil kesempatan untuk menyerangnya.


"Apa bangsamu sudah tidak lagi memiliki sumber daya hingga membuatmu menjadi petarung di dunia manusia," ucap Lingling.

__ADS_1


"percuma jika hanya tampan tapi tidak berguna sama sekali," sambung Lingling.


Darah Alang mendidih mendengar perkataan manusia wanita yang ada di depannya berani sekali manusia wanita itu yang tidak hanya mengejek bangsanya, Alang berpikir manusia seperti Lingling harus diberi pelajaran agar menutup mulut baunya itu.


"Matilah kau manusia," teriak Alang.


Whuuuuuuuuuussssssss.


Cheeeeeeettttaaaaaaaarrrr.


Cheeeeeeettttaaaaaaaarrrr.


Bumerang dan cambuk Alang terus menyerang ke arah Lingling, Alang yang fokus menyerang tidak sadar pertahanannya melemah membuat Lingling mengambil kesempatan untuk menyerangnya.


"TINJU PEMBELAH DUNIA"


Buuug buuuug buuuug.


Tinju bertubi-tubi yang dilayangkan Lingling membuat Alang terlempar ke belakang. Para penonton menutup mulut tidak percaya melihat Alang yang terlempar dan itu dilempar oleh seorang wanita.


"Aku yakin dia pasti curang," teriak penonton yang langsung menyoraki Lingling.


"Heeeh, itu bukan curang tapi strategi," ucap Linglint sambil tersenyum.


Aku tidak boleh kalah, aku harus menjaga harga diri bangsa Elf," dalam hati Alang sambil berusaha bangkit berdiri.


"Aku sudah mengetahui kelemahan mu menyerahlah," ucap Lingling.


"Kelemahan apa! aku tidak memiliki kelemahan," teriak Alang tidak mau mengaku jika dirinya benar-benar memiliki kelemahan.


"Bodoh," teriak Alang yang langsung menggerakan tangannya.


Wheeeeeeeeeeesssssssss.


Wheeeeeeeeessssssssssssss.


Angin yang awalnya hanya berputar langsung menyerang Lingling, serangan demi serangan yang melebihi tajamnya pisau membuat tubuh Lingling dipenuhi darah.


Angin perlahan menghilang, penonton bertepuk tangan kembali menyoraki nama Alang setelah melihat Lingling yang terluka parah tepat setelah angin menghilang.


"Alang menang, juaraku," teriak salah satu penonton wanita yang merasa terpesona dengan ketampanan Alang.


Suara sorakan untuk Alang membuat Lingling bangkit berdiri, rasa sakit yang dirasakannya saat ini tidak ada apa-apanya dengan sakitnya didetik-detik kematiannya, Lingling tidak berpikir untuk menyerah begitu saja.


"Arrrrrkkkkkhhhhhh, kalau itu yang kamu mau matilah saja," teriak Lingling yang langsung menarik pedangnya.


"Sadar, apa kamu mau membunuhnya," sahut Sai mencoba mengingatkan Lingling yang mengeluarkan aura membunuhnya


"Iya, saat ini aku ingin membunuhnya Aku ingin membunuhnya mencabik-cabiknya sampai hancur berkeping," ucap Lingling.


"Aku tidak bisa membiarkanmu membunuhnya," sahut Sai.

__ADS_1


Arrrrrrrkkkkhhhh.


Suara teriakan Lingling terdengar sangat berat. Sisik Naga di kaki, di tangan dan di leher Lingling yang tiba-tiba muncul mengejutkan Alang.


"Naga. Sebenarnya siapa Anak ini," ucap Alang.


"Aku sengaja mengambil alih tubuh Anak ini, dia ingin membunuh mu," sahut Sai yang sementara mengambil alih tubuh Lingling.


"Kamu Naga?" tanya Lingling.


"Aku memang Naga dan Anak ini adalah manusia pilihan yang akan menyelamatkan para Naga," ucap Sai.


"Aku merasa bersalah sudah mengeluarkan kekuatan penuhku," sahut Alang.


"Aku menyerah," teriak Alang.


"Apa!" teriak penonton kebingungan.


"Kenapa menyerah?" tanya penonton lainnnya.


Bruuuuuuk.


Sai yang keluar dari tubuh Lingling membuatnya langsung terbaring di tanah, Alang bergegas membawa Lingling ke luar arena dan mencoba menyadarkannya.


"Ahhhhh, kepalaku sakit sekali," ucap Lingling sambil memegangi kepalanya.


"Akhirnya kamu sadar juga," sahut Alang yang duduk di sebelah Lingling.


"Cih."


Lingling menyunggingkan bibirnya dan langsung berdiri, Lingling masih kesal karena tidak jadi membunuh pria di sampingnya saat ini.


"Ini hadiah mu," ucap Alang melemparkan tas penyimpanan berisi kepingan emas ke Lingling.


"Aku menang? itu tidak mungkin," sahut Lingling.


"Memang tidak, aku yang sengaja menyerah," ucap Alang berkata sejujurnya.


"Heeeeh, kalau begitu ambil saja aku tidak mau menerima belas kasihan," sahut Lingling.


"Tidak perlu seperti itu, aku menyerah bukan tanpa sebab, aku tau kamu mencari sesuatu ikutlah denganku," ucap Alang.


"Ikuti saja dia," ucap Sai.


"Cepat ikuti aku," ucap Alang lagi sambil berjalan pergi.


Lingling mengikuti Alang dari belakang karena tidak memiliki pilihan lain, perjalanan panjang yang dilaluinya bersama pria Elf memakan waktu selama dua hari dan akhirnya sampai di sebuah hutan rimbun.


"Apa masih jauh?" tanya Lingling.


"Tidak, kita sudah sampai," sahut Alang.

__ADS_1


"Setelah melewati gerbang itu kita akan sampai," sambung Alang yang menunjuk dua pohon berdekatan.


Lingling hanya menganggukan kepalanya walau penasaran apa maksudnya dua pohon yang ditunjuk Alang, apa bisa dua pohon dianggap menjadi gerbang pikir Lingling.


__ADS_2