Pendekar Naga Wanita

Pendekar Naga Wanita
Tingkat Dua


__ADS_3

Memasuki ruangan tingkat pertama membuat tubuh Lingling tiba-tiba gemetar dengan sendirinya, matanya langsung terpejam seketika dan tubuhnya seakan melayang di udara. Jeritan kecil terdengar di telinga Lingling jeritan perlahan semakin keras seiring berjalannya waktu.


"Tidak tolong jangan," teriakan berakhir terdengar tepat setelah Lingling kembali membuka matanya.


Lingling teringat pertama kali dirinya menjadi pembunuh bayaran setelah mendapatkan pelatihan selama belasan tahun, sebagai pembunuh bayaran dirinya yang tidak bisa memilih siapa targetnya membuatnya hanya bisa pasrah menerima misi yang didapatnya, tidak hanya itu syarat pertama yang harus diingat oleh pembunuh bayaran tidak boleh merasa kasihan pada siapapun semakin membuat Lingling tidak berpikir untuk mengasihani siapapun targetnya atau orang terdekat dari targetnya.


Lingling masih mengingat jelas saat itu target yang menjadi sasaran pertamanya adalah seorang anak kecil berusia enam tahun, anak yang tidak tahu apa kesalahannya mati dengan tembakan tepat di kepalanya hanya karena keegoisan orangtuanya.


(Tidak tolong jangan!)


Kata terakhir yang diucapkan anak itu masih terngiang walau Lingling sudah tidak berada di kehidupannya yang dulu, menyesal mungkin itu yang dirasakannya saat ini, tapi yang lalu biarlah berlalu Lingling berharap anak itu reingkernasi jauh dari kekejaman dunia


Lingling terkejut karena tiba-tiba terbentang dengan sendirinya, cambukan dari depan dan belakangnya hampir membuatnya tidak bisa bertahan menahan sakitnya cambukan di badannya yang datang terus menerus.


Lingling menggigit bibirnya mencoba menahan rasa sakitnya, Lingling sadar berteriak dan menggunakan energi untuk menahan sama sekali tidak akan berguna dan malah membuang banyak tenaganya.


Waktu seakan tak berputar bagi Lingling, saat ini Lingling tidak tahu sudah berapa lama dirinya menahan cambukan di badannya. Setiap cambuk menyentuh kulitnya Lingling sadar begini kah rasanya memilih mati dari pada tetap hidup.


Cambuk seketika berhenti, Lingling yang mengira semua sudah berakhir menghela nafas lega walau rasa sakit masih menyelimuti tubuhnya.


Whuuuuuuussssssss.


Dari bawah Lingling tiba-tiba muncul api kecil yang perlahan membesar dan semakin besar, Lingling yang ingin menghindar merasa kakinya ditahan oleh sesuatu.


"Haaaaaaaah, kenapa ada rantai di kaki ku," ucap Lingling berusaha melepaskan rantai di kakinya.


Api langsung membesar menelan Lingling di dalamnya, tidak lagi kuat menahan Lingling mencoba mengeluarkan energinya.


"Arrrrrrkkkkhhh, panas," teriak Lingling.


Rasa sakit yang tadi masih bisa ditahan berbeda dengan panas api yang saat ini membakar habis tubuhnya, semakin banyak Lingling menggunakan energinya semakin menggila api yang membakarnya.


Buuuuuuuug.

__ADS_1


Setelah mencoba bertahan sebisanya api perlahan menghilang, Lingling tidak lagi merasa ada rantai di kakinya.


"Apa ini sudah berakhir," gumam Lingling pelan.


Baru beberapa kali menarik nafas Lingling berpindah ke sebuah tempat dengan lava panas mengelilinginya, Lingling baru tersadar ternyata semua masih belum berakhir.


"Anak muda jika kamu di suruh memilih membatalkan semua yang sudah kamu janjikan dengan para Naga tapi semua berakhir sampai di sini, atau kamu tetap melanjutkan membantu mereka tapi lava ini akan menjadi kolam mandi mu apa yang harus kamu pilih," ucap suara yang tiba-tiba menggema.


Mendengar itu Lingling terdiam pilihan yang sulit datang padanya, Lingling berpikir dirinya sudah berjanji akan menolong para Naga dan para Naga terutama Sai mempercayai dirinya tidak mungkin dirinya mrngingkari janji.


"Tidak, aku akan tetap membantu para Naga," sahut Lingling dengan penuh keyakinan.


"Apa alasannya?" tanya suara lagi.


"Prinsip dan kepercayaanku tidak akan mudah goyah, jika memang berendam di lava ini satu-satunya pilihan aku akan berendam di dalamnya," sahut Lingling.


Lingling memilih menceburkan dirinya ke dalam lava panas di depannya. Beberapa saat kemudian Lingling yang tidak merasakan panas langsung membuka matanya.


"Kamu berhasil anak muda," ucap suara kembali bergema.


"Kamu pikirkan saja sendiri, sekarang kamu bisa naik ke tingkat 2. Tingkat dua bernama penggoda Manusia semoga kamu bisa berhasil walau itu tidak mudah," sahut suara yang langsung menghilang.


"Hanya tingkat penggoda, memangnya apa yang akan terjadi, tapi seluruh tubuh ku masih belum bisa bergerak sekarang" ucap Lingling pelan.


Dengan langkah pelan Lingling menaiki tingkat kedua, baru sampai di anak tangga terakhir Lingling merasa pikirannya mulai tak terkendali lagi sama seperti sebelumnya.


"Kemarilah, datanglah padaku," ucap seorang pria dengan perut kotak-kotak dan tidak memakai baju.


Wajah tampan dengan bentuk tubuh yang sangat menggoda tidak mungkin bisa ditahan oleh para wanita, Tapi tentu saja wanita itu bukanlah dirinya.


"Aku tidak akan tergoda," ucap Lingling meyakinkan dirinya sendiri.


"Ayolah, jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri," sahut sang pria yang langsung memeluk lingling dari belakang.

__ADS_1


"Memangnya kenapa, ini tubuhku aku yang mengendalikannya ku pastikan aku tidak akan tergoda," ucap Lingling.


"Cih dasar manusia menyebalkan, karena kamu bersikeras menolakku kamu harus menerima kemarahanku" sahut sang pria yang langsung menghilang dari belakang Lingling.


Lingling memutar badannya mencari pria yang berani menggodanya, setelah berbicara tidak jelas dan menghilang Lingling tiba-tiba memiliki perasaan tidak enak seperti sesuatu yang buruk akan terjadi.


Suara tawa yang terdengar sangat menyeramkan cukup mengejutkan Lingling, seketika Lingling memutar badannya mencari asal suara yang terus tertawa memekik telinganya.


"Tunjukan wujudmu, aku tau kamu tidak hanya bisa menggoda tapi kamu juga bisa bertarung lawan aku kalau berani," ucap Lingling.


"Wujud, ini wujudku."


Bleeeeees.


Kabut putih mengelilingi Lingling dari dalam kabut seseorang berjalan menghampiri Lingling dan berdiri hanya beberapa langkah di depannya.


"Inilah wujudku, apa kamu terkejut," ucap seorang pria tua sambil menyeringai menunjukkan wujud seramnya.


"Untung saja aku tidak tergoda," gumam Lingling.


"Ternyata penggoda tingkat dua menara suci adalah kakek kakek, bodohnya mereka yang tergoda denganmu," ucap Lingling.


"Hahahaha, semua manusia memang bodoh terutama dirimu. Karena itu kamu harus mati sekarang," teriak pria tua yang langsung menyerang Lingling.


"Sudah cukup," ucap suara yang sebelumnya di dengar Lingling.


"Geeeeeeerrr. Kenapa kamu menghentikan ku, dia harus mati di tanganku karena sudah mengetahui wujud asliku" sahut pria tua itu menggeram tidak senang.


"Itu bukan salahnya, kenapa kamu menunjukan wujud aslimu hanya karena dia meminta, pikirkan lagi itu dengan benar. Untuk kamu selamat kamu berhasil lulus dengan mudah," ucap suara yang langsung menghilang.


Lingling yang membuka mata mendapati dirinya sedang berbaring di tingkat 2 dengan tangan yang telentang ke atas, Lingling langsung bangkit berdiri bersiap menaiki tingkat ketiga tanpa menunggu berhenti lebih dulu.


"Ahhhhh masih harus menyelesaikan beberapa tingkatan lagi," ucap Lingling sambil berjalan menaiki anak tangga dan tersenyum.

__ADS_1


"Selamat, tapi tingkat selanjutnya tidak akan mudah," ucap suara yang di dengar Rui Xi.


__ADS_2