Pendekar Naga Wanita

Pendekar Naga Wanita
Persiapan Lingling


__ADS_3

Lingling yang menaiki tingkat ketiga memasuki sebuah ruangan yang berada di tingkat itu, baru beberapa langkah memasuki ruangan seketika ruangan yang berukuran hanya beberapa meter persegi berubah menjadi ruangan tanpa batas tanpa ujung.


Lingling mencoba tidak mempedulikannya dan kembali melanjutkan langkahnya terus berjalan maju, setelah berjalan cukup jauh Lingling tiba-tiba melihat puluhan Tugu berjejer di depannya. Rasa penasarannya seketika langsung naik saat melihat tulisan demi tulisan di tugu yang sama sekali tidak bisa dibacanya, Lingling terus berjalan tanpa henti matanya memperhatikan satu persatu tugu yang dilewatinya.


Sampai di tugu terakhir Lingling kembali menghentikan langkahnya, Lingling menatap erat tugu di depannya yang lebih kecil dari tugu lainnya, saat matanya terus menatap tugu tanpa sadar tangannya memegang tugu dengan sendirinya hingga membuat tugu di depannya bersinar sangat terang.


Selain tugu yang tiba-tiba bersinar Lingling terheran-heran melihat tulisan yang awalnya tidak bisa dibaca kini bisa dibacanya dengan sangat jelas, tulisan itu tidak berubah Lingling tidak mengerti bagaimana dirinya bisa membacanya.


"Segel abdi jiwa," ucap Lingling.


Whuuuuuuuusssssss.


Getaran yang tiba-tiba dirasakan Lingling membuatnya sangat terkejut, Lingling langsung memutar badannya betapa terkejutnya Lingling yang melihat puluhan tugu seperti ditarik ke bawah dan menghilang


"Selamat segel abdi jiwa mengakuimu menjadi Tuan nya," ucap suara yang tiba-tiba terdengar di telinga Lingling.


"Segel abdi jiwa, apa itu?" tanya Lingling.


"Nanti juga kamu tahu apa itu segel pengendali jiwa."


"Naiklah ke tingkat selanjutnya," ucap suara yang langsung menghilang.


Lingling yang membuka matanya hanya menarik nafas panjang, Lingling menatap sekelilingnya yang saat ini dirinya kembali ke ruangan semula, Lingling bergegas ke luar ruangan tingkat 3 dan menaiki tingkat 4.


Di anak tangga terakhir Lingling menghentikan langkahnya, Lingling menatap ruangan bebas tanpa pintu berbeda dari ketiga ruangan lainnya.


"Duduklah di depanku cepat," ucap seorang pria tua yang tidak tau sejak kapan duduk di tengah-tengah ruangan.


"Anda siapa?" tanya Lingling.


"Jangan banyak bertanya, cepatlah. Duduklah membelakangiku jangan sekali-kali berusaha mencoba penasaran tentang ku," sahut pria tua itu lagi.


Lingling menyipitkan matanya berpikir sejenak, haruskah dirinya menuruti perkataan pria tua itu.


Haaaaaaaaaaah.

__ADS_1


Sudahlah ini tingkat terakhir, kalau memang pria tua itu ingin mengujiku aku akan menerimanya saja agar cepat selesai," dalam hati Lingling.


Lingling berjalan ke arah pria tua yang duduk membelakanginya, tepat di depan pria tua itu Lingling langsung duduk begitu saja.


Duuuug duuuuug duuuuug.


Tiga bagian tulang belakangnya dipukul dengan cepat dan keras, walau kaget Lingling mencoba tetap tenang. Perlahan sesuatu masuk ke dalam tubuhnya dan menghilang begitu saja.


"Tidak salah kamu memang manusia yang ada di ramalan Naga, kamu sudah berhasil membuat tiga Naga berada dalam dirimu," ucap pria tua kagum pada Lingling.


"Apa yang baru saja kamu lakukan?" tanya Lingling.


"Nanti juga kamu akan mengetahuinya," sahut pria tua itu lagi.


"Ikutlah denganku, aku akan membawamu ke bawah menara suci," sambung Pria tua yang langsung berjalan meninggalkan Lingling.


Tanpa mengatakan apapun Lingling langsung mengikuti pria tua di depannya dari belakang, sampai di ujung ruangan dinding berubah menjadi lubang besar hitam. Lingling yang melihat pria tua itu masuk ke dalam lubang bergegas mengikutinya dan masuk ke dalam lubang hitam yang ternyata adalah sebuah portal menuju bagian bawah menara suci.


Bagai berpindah dimensi Lingling mendapati dirinya berada di tempat yang berbeda, hawa panas serta sinar terang yang menyilaukan mata membuatnya berpikir bisakah dirinya bertahan di tempatnya saat ini.


"Panas dan sinar yang ada di sini karena Naga itu terus menghembuskan nafas apinya," ucap pria tua yang bertelepati pada Lingling.


"Berjalanlah ke tengah, lihatlah ke bawah kamu akan melihat Naga yang kamu cari," ucap pria tua.


"Tunggu siapa kamu? bagaimana kamu tau aku sedang mencari Naga," sahut Lingling bertanya tanya.


"Heeeeeeh, aku hanya penjaga menara ini, aku bisa merasakan bagaimana tersiksanya Naga itu yang terkekang di dalam menara ini," ucap pria tua yang masih bertelepati pada Lingling.


"Tapi, bagaimana kamu bisa tau aku sedang mencari Naga api ini," sahut Long Xu.


"Sudahlah anak muda tidak perlu banyak bertanya, waktumu tidak banyak kalau sampai dalam waktu satu hari satu malam kamu tidak berhasil menenangkannya menara ini akan hancur," ucap suara pria tua yang langsung berhenti bertelepati.


Lingling berjalan ke tengah sesuai yang dikatakan penjaga menara suci, benar saja setelah sampai di tengah yang ternyata cukup jauh Lingling tiba di pinggir jurang dengan Naga api yang berada di bawahnya.


"Itu Naga keempat," ucap Sai.

__ADS_1


"Kasihan sekali dia dirantai seperti itu," sahut Naga kedua.


"Manusia-manusia kejam, dia tidak hanya merantai saudara keempat tapi juga memeras kekuatannya," ucap Naga ketiga.


"Kalian semua baik-baik saja," sahut Lingling.


"Tentu saja, memangnya apa yang bisa terjadi pada kami," ucap Sai.


"Aku tidak mendengar suara kalian saat memasuki menara, aku mengira terjadi sesuatu pada kalian," sahut Lingling.


"Kamu tenang saja, kamu tidak bisa saling berkomunikasi pada kami karena di menara ini ada penghalang, tapi itu tidak berbahaya untuk kami," ucap Naga kedua.


"Baguslah, aku bisa tenang sekarang," sahut Lingling lagi.


"Heeeeeh, bocah terima kasih sudah memberi kami tambahan energi," ucap Naga ketiga.


Lingling hanya terdiam walau tidak mengerti energi apa yang dimaksud Naga ketiga, dirinya saja bahkan seperti kehilangan banyak energi bagaimana bisa memberikan energi lebih pada ketiganya.


"Maksud Naga ketiga terima kasih karena ada kamu kami mendapatkan tambahan energi, kekuatan kami bahkan bertambah," ucap Sai yang tau Limgling pasti tidak mengerti maksud Naga ketiga.


"Jadi pria tua itu mengirimkan energinya pada kalian, pantas saja aku tadi seperti merasakan sesuatu masuk ke dalam tubuhku dan langsung menghilang begitu saja," sahut Lingling.


"Tapi kenapa pria tua itu baik pada kalian?" tanya Lingling.


"Kami juga tidak mengerti. Lupakan soal itu, sekarang bagaimana caramu menenangkan saudara keempat kami," sahut Sai


Lingling kembali melihat ke bawah, matanya yang melihat ke bawah tidak sengaja bertatapan dengan Naga api yang melihatnya penuh dengan amarah.


Heeeeeeeeer.


"Manusia sialan, kali ini akan aku akhiri penyiksaan ini," teriak Naga keempat dari bawah.


Lingling langsung mengeluarkan pil 5 penahan api dan menelannya sekaligus, pil yang baru melewati tenggorokannya membuat tubuh Lingling menjadi dingin hawa panas yang menyengat tubuhnya tidak lagi dirasakannya.


"Kamu hanya menelan 5 apa tidak kurang, kenapa kamu tidak menelan semuanya saja?" tanya Sing.

__ADS_1


"Aku masih tidak tau seberapa panasnya api dari Naga itu, kalau aku menelan semua bisa saja dia tidak mengeluarkan semua apinya hingga menunggu efek pil itu habis, lagipula pil itu bukan tingkat murni," ucap Lingling.


"Persiapan semua sudah saatnya turun ke bawah," sambung Lingling yang langsung melompat turun ke Naga api yang ada di bawah.


__ADS_2