Pendekar Naga Wanita

Pendekar Naga Wanita
Laut Mati


__ADS_3

Setelah berjalan selama 8 jam Lingling akhirnya tiba di pelabuhan kecil sebuah kota, Lingling langsung menaiki salah satu kapal yang diperkirakannya akan melewati lautan mati..


Di atas kapal yang mulai berlayar Lingling menyandarkan tubuhnya, Lingling menutup matanya menikmati semilir angin yang terus berhembus, Lingling bahkan hampir tertidur karena angin membuatnya sangat mengantuk.


Brrrrrrrrrrrrraaaaaaaaaaaaakkkk.


Suara keributan membangunkan Lingling yang tidak tahu sejak kapan tertidur, Lingling menatap langit yang sudah berganti malam tanpa tahu sudah berapa lama dirinya tertidur.


"Lepas jangan mengganggu Nona ku," teriak seorang pelayan sambil membentangkan tangannya.


"Diamlah kamu pelayan rendahan, seharusnya kamu tahu jika kapal ini ingin melewati laut mati harus mengorbankan seorang wanita," sahut pria berbadan besar menunjuk seorang pelayan wanita.


"Kenapa harus Nona ku, di kapal ini bukannya banyak wanita," ucap pelayan itu pendiriannya tetap teguh ingin melindungi sang majikan.


"Mau bagaimana lagi, di kepal ini Nona Mu yang paling cantik, Sang Naga pasti akan senang menerima persembahan dari kami dan akan membiarkan kami lewat," sahut pria itu sambil tersenyum.


"Bodohnya mereka berharap seperti itu pada saudara kita, Ketiga tidak akan membiarkan mereka walau mereka memberikan persembahan," ucap naga kedua.


"Biar saja, namanya juga manusia," sahut Sai.


Lingling bergegas berdiri dan berjalan menghampiri kerumunan, sambil tersenyum Lingling langsung duduk tidak jauh dari pelayan yang terus melindungi majikannya.


"Kami tidak ingin berbuat kasar, serahkan wanita itu atau kamu kami habisi sekarang juga," ucap pria berbadan besar sambil mengarahkan pisaunya ke arah sang pelayan.


Plooooooook ploooooooook plooooooook.


Lingling bertepuk tangan tanpa berdiri dari tempat duduknya. Suara tepukan tangannya membuat semua mengalihkan pandangan mereka menatap ke arahnya.


"Dia juga wanita, bahkan parahnya tidak kalah cantik dengan nona ku," ucap pelayan menunjuk ke arah Aying.


"Dia tidak berkelas, sekilas saja kami tahu kalau dia bukan dari keluarha kaya, kalau kamu mempersembahkan wanita itu apa kamu berani menjamin kami semua akan selamat," sahut pria berbadan besar.


"Tunggu, jika memberikan persembahan Apa kamu yakin mereka semua yang hadir di atas kapal ini bisa selamat?" tanya Lingling.


"Tentu saja," ucap pria itu. Tubuhnya bergetar tidak berani menjamin karena ini baru pertama kali baginya.


"Kamu sendiri saja tidak yakin dengan yang kamu lakukan, untuk apa kami harus mempercayaimu, bisa saja setelah menjadikan wanita itu sebagai persembahan kita tetap mati," sahut Lingling.


"Benar apa yang dikatakan wanita muda itu, sial kenapa aku percaya begitu saja padanya," bisik penumpang lainnya.

__ADS_1


"Jangan dengarkan dia, kita harus mencobanya dia hanya ingin menyelamatkan wanita itu karena wanita itu sangat cantik," teriak pria berbadan besar sambil menunjuk ke arah wanita yang hanya diam di belakang pelayannya.


"Siapa juga yang ingin menyelamatkannya, aku tidak kalah cantik darinya aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja, Jadi kalau kamu sendiri tidak yakin bisa menyelamatkan semua orang kenapa kamu harus melakukan sesuatu yang sia-sia, tapi jika kamu tetap bersikeras dengan membuangnya aku juga tidak akan melarang," ucap Lingling.


"Kamu tidak bisa seperti itu pada Nonaku, kenapa kamu tidak membela kami," ucap pelayan wanita yang terlihat kesal mendengar perkataan Lingling.


"Sudahlah Cu aku tidak apa-apa, setelah kamu sampai kota berikan salamku pada Ayahku dan saudaraku," sahut suara wanita yang terdengar sangat indah.


Lingling berjalan kembali ke tempatnya sambil mengangkat bahunya, Nona besar yang hanya bisa pasrah dan meminta pelindungan pelayannya membuat Lingling hanya menyunggingkan bibirnya.


Beberapa jam kemudian kapal berhenti di perbatasan, Wanita yang akan dijadikan persembahan sudah siap untuk dijatuhkan, tangisan pelayan wanita itu membuktikan kesetiannya pada sang majikan.


"Jatuhkan," teriak pria berbadan besar.


Byuuuuuuuuuuur.


Dengan tangan dan kaki terikat wanita itu dijatuhkan ke laut, Lingling yang bersiap menceburkan diri langsung mengeluarkan angin dari energinya dan menarik pria berbadan besar bersamanya, bagi Lingling pria berbadan besar itu lebih cocok mati daripada hanya menjadi sampah saja.


"Kenapa mereka berdua juga ikut melompat," bisik penumpang lainnya penuh heran.


Lingling bergegas menyelam lebih dalam untuk menyelamatkan wanita yang dijadikan persembahan, setelah menemukannya Lingling langsung melompat membawanya kembali ke atas kapal.


"Nona," teriak pelayan sambil berlari memeluk sang majikan.


"Dan untuk kamu cepat gantikan bajunya," sambung Lingling berbicara dengan pelayan wanita yang diselamatkannya.


"Terima kasih sudah menyelamatkan Nona mu," sahut sang pelayan sambil menundukkan kepalanya.


Byuuuuuuuuuuuuur.


Lingling kembali menceburkan diri, sebelum menyelam ke dasar laut Lingling melihat ke arah mayat pria yang dibawanya menceburkan diri tadi.


"Baru jatuh ke air sebentar saja sudah mati," dalam hati Lingling sambil menggelengkan kepalanya.


Lingling langsung menyelam ke dasar laut matu, dari dasar laut sang Naga seperti sedang menunggu kehadiran Lingling.


"Hoooo hooo, aku kedatangan tamu rupanya" ucap Naga itu.


Lingling berdiri tepat di depan sang Naga dengan santai, pil yang diminum saat berada di kapal memudahkan Lingling bernafas di dalam air.

__ADS_1


"Biasanya aku yang mucul kepermukaan untuk mencari mangsa, tapi sekarang mangsa malah mendatangiku," ucap sang Naga terlihat sangat senang.


"Aku menjadi mangsamu? Apa kamu layak," sahut Lingling.


Sang Naga menatap Lingling dengan penuh heran, bagaimana bisa ada manusia mengerti apa yang dikatakannya.


"Menarik, sangat menarik," ucap sang Naga yang langsung berdiri bersiap menyerang Lingling.


"Kamu datang kemari pasti dengan persiapan, tunjukan padaku yang sudah kamu persiapkan jangan mengecewakan aku," sambung sang Naga.


"Kalau begitu majulah," sahut Lingling.


Bleeeb bleeeeeeb.


Sang Naga langsung mengibaskan ekornya ke Lingling ingga membuat gelombang menyerangnya, Lingling yang tahu itu akan terjadi mengeluarkan air dari energinya untuk membuat pelindung.


"Ternyata alchemist yang ingin menjadi lawanku, sekarang semua menjadi semakin menarik," ucap sang Naga.


"Kenapa diam saja, serang lagi," sahut Lingling sengaja ingin memancing amarah sang Naga.


"Ingin mati lebih cepat akan aku kabulkan," ucap sang Naga sambil membuka mulutnya menyedot air.


"Ini dia yang ku tunggu" dalam hati Lingling.


Limgling sengaja ikut tersedot masuk ke dalam mulut Sang Naga, tepat setelah berada di dalam mulut naga langsung saja Lingling melemparkan 3 pil pelemah kekuatannya ke tenggorokan sang Naga.


Ohooook ohoook.


Sang Naga yang terbatuk membuat Lingling bergegas keluar dari dalam mulutnya, Lingling menatap Naga di depannya yang terlihat melemah karena menelan pilnya.


"Kamu sengaja melakukannya," ucap sang Naga menatap Lingling.


"Benar, aku memang sengaja melakukannya," sahut Lingling.


"Sudah cukup lama aku berada disini, aku tidak menyangka masuk ke dalam jebakan manusia apalagi manusia yang masih sangat muda," ucap sang Naga.


"Sebenarnya aku hanya ingin berbicara baik-baik padamu, tapi aku tahu semua itu akan percuma jika aku tidak melemahkan kekuatanmu, itu alasan aku membuatmu menelan 3 pil pelemah kekuatan," sahut Lingling.


"Bicara, manusia sepertimu ingin berbicara padaku, Sekarang apa yang ingin kamu bicarakan hingga membuatmu rela mengambil resiko dengan nyawamu sendiri," ucap sang Naga.

__ADS_1


Lingling hanya tersenyum, semua berjalan sesuai dengan rencananya, sekarang dirinya tinggal berbicara mengenai kedua Naga yang berada dalam tubuhnya dan semua akan selesai.


Tidak ada darah yang tumpah dan dirinya juga tidak kehilangan banyak tenaga, semua jauh lebih baik pikir Lingling sambil tersenyum.


__ADS_2