
"Itu manusia temannya Alang," ucap Canlin.
Lingling yang berdiri di depan rumah Alang hanya tersenyum, Lingling merasa kasihan pada Anak-anak yang dijaga Alang karena masih kecil sudah harus berpisah dari orangtua mereka dan semua itu karena perbuatan manusia.
"Heeeeeh manusia, Alang sudah pergi," ucap Canlin menatap Lingling.
"Kalau begitu aku juga pergi sekarang," sahut Lingling yang langsung memutar badannya bersiap pergi.
"Tolong kami."
Ucapan Canlin membuat Lingling menghentikan langkahnya, Lingling menatap anak perempuan Elf yang menangis dengan keras.
"Tolong selamatkan Ratu kami, hanya dengan Ratu kami selamat orangtua kami juga bisa selamat," ucap anak Elf itu.
"Iya, aku pasti akan menyelamatkannya," sahut Naga kedua mengendalikan suara Lingling.
Suara pria yang keluar dari mulut Lingling sama sekali tidak mengejutkan anak itu, Canlin malah melihat Lingling penuh harap.
"Itu bukan aku yang bicara," ucap Lingling pelan.
"Aku tau tidak semua manusia itu jahat, aku percaya kamu bisa menyelamatkan Ratu kami, Jika kamu berhasil menyelamatkan Ratu kami semua akan membiarkanmu bersama dengan alang," ucap Canlin sambil menggenggam tangan Lingling.
"Aku akan berusaha sebisaku, tapi sepertinya Kalian salah paham aku tidak memiliki hubungan apapun padanya," sahut Lingling.
"Tidak apa-apa perlahan juga pasti bisa ,aku percaya padamu," teriak Canlin yang melihat Lingling berjalan menjauh.
Haaaaaaah.
Lingling menghela nafas Panjang dirinya Sebenarnya bukan orang baik tetapi melihat anak kecil itu Lingling tidak bisa menolaknya, Tapi tentu saja dirinya melakukannya bukan untuk mendekati Pria Elf yang tampan itu.
"Naga kedua bagaimana bisa kamu mengendalikan suaraku?" tanya Lingling Sambil mencoba menepis dikatakan oleh Mama tadi
"Itu kelebihanku," ucap Naga kedua.
"Anggap saja kamu mendapatkan guru baru, dengan begitu dia pasti akan mengajarkan keahliannya padamu suatu saat nanti," sahut Sai.
"Heeeeh, itu tidak mungkin. Aku mau dia belajar menjadi Alchemist selain itu aku tidak mau mengajarkannya," ucap Naga kedua.
Melewati gerbang sebelumnya membawa Lingling kembali ke Dunia manusia, Lingling teringat wajah anak yang tadi yang penuh harap padanya tapi Lingling tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Arrrrrrhhhhhh, ke mana aku harus mencari sekarang," ucap Lingling mengacak-acak rambutnya.
"Lupakan itu untuk sementara waktu, dari pada kamu berjalan sambil berpikir tidak jelas kenapa tidak kamu coba membuat api dari energi Qi mu saja," sahut Naga kedua.
__ADS_1
"Aku tak tahu caranya, bagaimana caranya kamu bukankah harusnya memberitahuku dulu," ucap Lingling.
"tidak ada yang sulit kamu hanya tinggal mengumpulkan energi mu di tangan, pusatkan pada Qi mu," ucap Naga kedua.
"Lalu," sahut Lingling.
"Perlahan padatkan energi mu dan keluarkan secara perlahan," ucap Sai.
"Apa begini caranya?" tanya Lngling di tangannya api hijau berkobar pelan dan teratur.
Naga kedua yang melihatnya masih tidak percaya, pelatihan seperti itu memakan waktu paling sedikit 3 hari tapi apa yang dilihatnya sekarang, Lingling bahkan berhasil hanya hitungan menit.
"Sudah kubilang dia berbeda dari manusia lainnya," ucap Sai mengulang kembali perkataannya.
"Aku masih ragu, tapi aku yakin itu hanya kebetulan," sahut Naga kedua.
"Heeeh Lingling biarkan dia melihat kalau kamu berhasil menguasainya bahkan karena kebetulan saja, lakukan sama seperti itu tapi kali ini kamu harus merubah energimu menjadi air atau angin," ucap Naga kedua.
Lingling kembali melemaskan tangannya, tanpa banyak bicara Lingling mengumpulkan energinya seperti sebelumnya dan memusatkannya di tangannya.
"Apa yang seperti ini benar," ucap Lingling yang kembali mengeluarkan api berwarna hijaunya bersamaan dengan air di tangan satunya lagi.
Air di telapak tangan Lingling membuat Naga kedua terdiam, sebenarnya siapa Anak itu kenapa dia sangat berbakat.
"Apa seperti ini," ucap Lingling di tangannya pusaran angin kecil terkendali dengan baik.
"Kamu berhasil melakukannya," sahut Naga kedua yang mau tidak mau harus mengakui keberhasilan Lingling.
Mengeluarkan cukup banyak energi membuat wajah Lingling pucat, Lingling langsung bersandar di bawah pohon yang berada tepat di sampingnya.
"Dia masih sangat lemah, baru mengeluarkan energi sedikit saja wajahnya sudah pucat," ucap Naga kedua.
"Heeeeh, bukannya itu wajar bagi pemula," sahut Sai.
Perlahan energi Lingling kembali terisi, walau energinya telah kembali tetap saja perutnya yang lapar tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
Krucuuuuuk.
"Di mana kota terdekat aku sangat lapar," ucap Lingling sambil memegangi perutnya.
"Kota masih sangat jauh, tapi di depan sana ada gubuk tidak ada salahnya kamu ke sana saja," sahut Sai.
"Haaaah, aku tidak memiliki pilihan," ucap Lingling yang langsung berdiri dan berjalan pergi.
__ADS_1
Sampai di depan sebuah gubuk Lingling terdiam, Lingling sedikit ragu gubuk di depannya ada penghuninya.
"Sudah sangat lama aku tidak kedatangan tamu, katakan saja Nak apa yang bisa Nenek tua ini bantu untuk mu," ucap seorang Nenek yang tiba-tiba keluar dari dalam gubuk dan tersenyum menatap Lingling.
"Maaf Nek, aku singgah karena lapar kota masih sangat jauh," Lingling mengatakan kebenarannya.
"Oh lapar, mari masuk Nenek masih ada sedikit makanan di dalam," ucap sang Nenek yang langsung masuk ke dalam.
Di dalam gubuk sang Nenek Lingling terdiam, banyaknya barang di gubuk itu sama sekali tidak seperti yang diperkirakan Lingling.
"Nenek hanya ada ini," ucap sang Nenek sambil memberikan beberapa buah-buahan ke Lingling.
"Tidak apa Nek, ini juga sudah cukup," sahut Lingling.
Lingling langsung memakan buah-buahan di depannya dengan sangat lahap, hanya tinggal sedikit Lingling baru tersadar di mana Nenek itu mendapatkan buah sedangkan sepanjang jalan dirinya tidak menemukan pohon yang berbuah.
"Memang ada yang aneh dengan Nenek itu, tapi aku tidak merasakan ada tanda-tanda niat jahat," ucap Sai.
"Walau begitu ada baiknya aku cepat pergi, tidak seharusnya aku datang ke sini tanpa curiga sedikitpun," sahut Lingling.
"Ada apa Nak? apa yang kamu pikirkan?" tanya sang Nenek yang duduk di samping Lingling.
"Terima kasih jamuannya Nek, aku pergi dulu," ucap Lingling.
"Tunggu Nak, aku tahu kamu curiga padaku tapi kamu tenang saja aku tidak memiliki maksud jahat padamu," sahut sang Nenek.
"Tenang saja aku juga tidak berpikir anda memiliki niat jahat padaku," ucap Lingling.
"Duduklah, ada yang ingin aku tanyakan padamu," sahut sang Nenek.
"Apa kamu ingin menyelamatkan Ratu Elf?" pertanyaan sang Nenek mengejutkan Lingling dan membuatnya berpikir dari mana wanita tua itu mengetahuinya.
"Benar, dari mana anda tau?" tanya Lingling balik.
"Tidak penting aku tau dari mana. Setelah keluar dari sini berjalanlah terus ke Utara, di sana kamu nanti akan menemukan sebuah perguruan dan di sana Ratu Elf saat ini berada," ucap sang Nenek yang tiba-tiba menghilang.
"Tunggu," teriak Lingling yang melihat sang Nenek dan gubuknya menghilang.
Lingling baru sadar kalau ternyata dirinya saat ini sedang duduk di tanah, tak ada piring dan cangkir di depannya saat ini tapi masih ada bekas sisa buah yang digigitnya waktu tidak habis tadi.
"Telanlah pil yang ada di tanganmu sebelum kamu memasuki perguruan itu, Pil anti racun itu sangat berguna untukmu nantinya," ucap suara sang Nenek.
Lingling menatap tangannya yang memegang pil berwarna hitam, pil anti racun itu pasti diberikan oleh wanita tua yang sekarang sudah menghilang pikirnya.
__ADS_1