Pendekar Naga Wanita

Pendekar Naga Wanita
Mana


__ADS_3

Sai terus menatap sungai yang tenang di depannya, Sai bisa merasakan aura siluman yang sangat kuat di sekitarnya walau siluman itu tak mau menampakan wujudnya saat ini.


"Aku peringatkan sekali lagi jangan mengganggunya atau akan aku hancurkan tempat tinggalmu," ucap Sai.


"Naga yang Agung mengancam siluman hanya karena seorang manusia, apa tidak salah," sahut siluman air yang perlahan menampakan wujudnya.


"Siluman air, ternyata sesuai dengan dugaanku, jangan mengganggu anak muda ini," ucap Sai.


"Apa yang istimewa dari manusia ini kenapa kamu melindunginya?" tanya siluman air.


"Aku tidak akan memberitahumu, yang harus kamu ingat aku tidak akan melepaskanmu jika kamu..." sahut Sai yang tidak melanjutkan perkataannya karena Lingling berusaha kembali mengambil alih tubuhnya.


"Padahal aku sudah menyuruhmu untuk tidak mengambil alih tubuhku sesuka hatimu," ucap Lingling.


"Aku terpaksa, aku merasakan aura jahat yang mungkin saja bisa membunuhmu," sahut Sai.


"Naga yang Agung kalah berebutan tubuh dengan manusia, apa aku tidak salah lihat saat ini," ucap siluman air menyeringai mengejek Sai.


"Diamlah, aku tidak memiliki waktu untuk bermain denganmu," sahut Lingling yang langsung mengarahkan pedangnya ke arah siluman air di depannya.


Siluman air di depan Lingling mengangkat tangannya sambil berjalan mundur dan menghilang, pedang Lingling bukan sembarang pedang jika dirinya terkena tebasan pedang itu dirinya akan musnah seketika.


"Baiklah-baiklah aku tidak akan mengganggumu wahai manusia," ucap suara siluman air tanpa wujud.


"Cih, ternyata percuma saja aku mengkhawatirkan mu," ucap Sai.


"Hahahaha, itu karena kamu merasa yang paling hebat dan mengerti semuanya, padahal kamu sebenarnya takut kalau anak ini mati begitu saja bukan," sahut Naga ketiga.


"Diam, kamu jangan terus mencari masalah denganku," ucap Sai.


"Memangnya kenapa? Apa yang bisa kamu lakukan?" sahut Naga ketiga.


"Kenapa kalian terus saja bertengkar tidak jelas, sekarang bagaimana apa kamu jadi mau mengajarkanku cara mengendalikan air," ucap Lingling.


Lingling terkadang kesal sendiri mendengar kedua Naga di dalam tubuhnya yang terus bertengkar, padahal mereka semua bersaudara pikir Lingling.


"Tentu saja, sekarang kita mulai dari penyatuan," ucap Naga ketiga.

__ADS_1


"Penyatuan bagaimana maksudmu?" tanya Lingling tidak mengerti.


"Pertama coba masukan tanganmu ke dalam air itu, rasakan dengan baik apakah air sungai itu tenang atau malah bergejolak," sahut Naga ketiga.


"Sangat tenang," ucap Lingling.


"Bagaimana dengan perasaanmu?" tanya Naga ketiga.


"Aku juga merasa tenang," sahut Lingling.


"Bagus, karena kunci keberhasilan adalah ketenangan. Sekarang coba kamu rasakan dengan perlahan, apa ada sesuatu..." ucap Naga ketiga tidak melanjutkan perkataannya.


"Aku merasa energiku seperti menarik air naik ke atas," sahut Lingling.


"Itu bukan energi yang kamu keluarkan melainkan Mana, Mana mu terbentuk karena perasaanmu dan air yang sama-sama tenang dan saling mengikat," ucap Naga Ketiga.


Byuuuuuuurrrrr...


"Benar, ternyata aku tidak menggunakan energiku," sahut Lingling sambil menggerakkan tangannya memutar bola air yang ada di atas telapak tangannya.


"Aku belum selesai menjelaskan, bagaimana kamu sudah bisa berhasil," ucap Naga ketiga penuh takjub.


"Kelebihan utamanya dia bisa dengan mudah menguasai apa yang baru dipelajarinya, jadi jangan heran," ucap Naga kedua.


"Baguslah kalau begitu jadi aku tidak perlu membuang banyak waktu untuk mengajarinya," sahut Naga ketiga.


Lingling masih memutar bola air di atas tangannya dan berulang kali melemparnya, dalam hitungan detik Lingling bisa membuat bola air menjadi puluhan.


"Ini masih belum seberapa, sekarang coba bekukan air itu," ucap Naga Ketiga.


"Bagaimana caranya?" tanya Lingling.


"Gunakan Mana air mu dengan pikiranmu, kontrol air menggunakan pikiranmu untuk membekukannya" sahut Naga ketiga.


Lingling langsung menutup matanya mencoba tetap tenang, Lingling mencoba mengontrol pikirannya membentuk air di tangannya yang perlahan dibekukannya.


"Benar-benar sulit dipercaya," ucap Naga ketiga.

__ADS_1


"Apa ini sudah berhasil," sahut Lingling yang melihat air di tangannya berubah menjadi bongkahan es batu.


"Berhasil, aku mengaku kamu memang hebat, aku jadi percaya jika kamu bisa menyelamatkan Dunia Naga," ucap Naga ketiga.


"Kamu harus mengingat dua hal dengan kekuatanmu yang sekarang, Mana air mu belum bisa membentuk air yang sangat besar dan merubahnya menjadi senjata jadi kamu harus terus berlatih, untuk yang kedua pengendalian Mana setiap unsur berbeda-beda terutama api suatu saat kalau kamu mempelajari Mana api cobalah secara perlahan," sambung Naga ketiga.


"Aku akan mengingatnya," sahut Lingling.


"Baguslah aku jadi bisa istirahat dengan tenang sekarang, kalian berdua yang belum menyelesaikan mengajarinya jangan menyerah aku tidur dulu," ucap Naga ketiga.


"Hanya tidur kenapa seperti perpisahan saja," sahut Lingling.


"Bagi kami kaum Naga tidur itu sangat berharga, dan saat kami tidur kami tidak pernah terbangun dengan cepat seperti manusia pada umumnya, Naga ketiga yang sudah memutuskan untuk beristirahat tidak bisa diganggu terkecuali sesuatu yang sangat mendesak dan memerlukan bantuannya," ucap Naga kedua menjelaskan ke Lingling.


"Ternyata seperti itu, berarti mungkin saja dia terbangun setelah empat tahun lagi," sahut Lingling.


"Mungkin saja," ucap Naga Kedua lagi.


Suuuutttsss, suuuuuutttsss...


"Hei," panggil siluman air yang hanya menampakan kepalanya dari dalam air.


"Kamu memanggilku?" tanya Lingling menghampiri siluman air.


"Aku memiliki kabar penting untuk Naga yang ada di tubuhmu," sahut siluman air dengan suara pelan.


"Kabar apa?" tanya Lingling lagi.


"Di bagian barat, sebuah menara suci mengurung seekor Naga api. Dari yang aku dengar beberapa hari lagi menara suci itu akan di buka untuk umum, siapa saja yang bisa menjinakkan Naga itu akan diberi hadiah," sahut siluman air.


"Sudah itu saja yang ingin aku sampaikan, aku pergi dulu," sambung siluman air yang langsung menghilang tanpa jejak.


"Itu Naga Keempat sang Naga Api, Naga yang paling keras kepala diantara banyaknya Naga, saat ini dia mungkin tidak hanya keras kepala tapi menjadi liar, Naga tidak suka dikekang," ucap Sai.


"Dia tidak akan mendengarkanmu ataupun kami terkecuali diantara kamu dan dia ada yang terluka parah bahkan sampai mati, kemungkinan besar kamu tidak bisa mengalahkannya," sambung Naga kedua.


"Menurutku mungkin tidak seburuk itu, buktinya kamu dan Naga ketiga saja bisa menerimaku dengan mudah, aku percaya Naga api itu aku juga pasti bisa meyakinkannya," sahut Lingling santai.

__ADS_1


"Sudah aku bilang dia berbeda, jadi sebelum kamu ke sana lebih baik kamu membuat pil sebanyak-banyaknya, kali ini aku akan mengajarkanmu membuat pil yang berbeda dari sebelumnya," ucap Naga kedua.


"Aku tidak sabar untuk itu, tapi aku yakin aku bisa menaklukkannya," ucap Lingling.


__ADS_2