
Naga di depan Lingling masih terus menatap seorang wanita yang terdiam, andai dirinya tidak ceroboh ingin menelan wanita muda di depannya kekuatannya tidak akan menjadi lemah seperti saat ini.
"Sial," umpat sang Naga.
"Cepat katakan jangan membuang waktuku," ucap Naga itu sambil sesekali menghembuskan nafasnya.
"Aku adalah manusia yang ada di ramalan Naga, langsung saja aku mau kamu menyerahkan permata mu," sahut Lingling yang benar-benar terlalu santai.
"Hahahaha, jangan bercanda. Mana mungkin manusia sepertimu yang ada di ramalan Naga," ucap sang Naga meremehkan Lingling.
"Terserah mau percaya atau tidak tapi kedua saudaramu sudah mengakui ku," sahut Lingling membuat sang Naga menatapnya tajam.
"Sampai kapanpun aku tidak akan percaya, manusia lemah sepertimu pasti hanya ingin menipuku," ucap sang Naga.
"Tidak ada untungnya bagiku menipumu, berikan permata mu setelah itu kamu pastikan sendiri apakah aku menipumu atau tidak lagi pula belum terlambat Jika kamu ingin membunuhku lagi nanti Saat mengetahui aku berbohong," sahut Lingling.
"Baiklah, aku akan menyerahkannya tapi jika kamu menipuku akan aku bekukan organ tubuhmu," ucap sang Naga yang langsung melepas permata nya.
Permata sang Naga kembali masuk ke kepala Lingling, saat itu juga sang Naga langsung masuk ke dalam tubuh Lingling dan bergabung dengan kedua Naga lainnya.
"Pertama, Kedua. Ternyata anak ini tidak berbohong," ucap Naga ketiga.
"Sebenarnya aku ingin langsung keluar mengambil alih tubuh anak ini tapi dia tidak memperbolehkannya, aku tidak menyangka Naga yang sangat keras kepala sepertimu mempercayai anak ini," sahut Sing.
"Aku sudah menunggu sangat lama untuk kehadiran manusia yang ada diramalan penyihir Naga, mau tidak mau aku harus percaya padanya," ucap Naga ketiga.
"Aku juga meragukannya saat pertama bertemu, siapa yang menyangka ternyata benar anak inilah yang ada diramalan penyihir Naga," sahut Naga kedua.
Lingling yang bisa mendengar percakapan ketiganya hanya tersenyum, Lingling bergegas naik ke permukaan dan berenang ke arah kapal.
Semua mata menatap ke Lingling yang baru naik ke kapal, mereka semua terkejut melihat Lingling masih bisa kembali hidup-hidup dan tidak terluka sama sekali.
"Ini selimut untuk nona, terima kasih sudah menolong nona ku tadi maaf juga aku berteriak pada mu," ucap pelayan wanita yang ditolong Lingling.
Lingling langsung mengambil selimut untuk mengeringkan tubuhnya, semua orang masih menatap ke arahnya berharap Lingling akan berbicara bahwa mereka sudah boleh melanjutkan perjalanan.
"Apa yang kalian tunggu cepat pergi dari sini," ucap Lingling sambil berjalan ke tempatnya semula.
"Hore, akhirnya," sahut penumpang lainnya bersorak gembira.
__ADS_1
Lingling yang kedinginan meringkuk di dalam selimut, tubuhnya menggigil baju basahnya tidak di gantinya karena dari awal dirinya tidak membawa baju ganti. Perlahan mata Lingling menutup suara sorakan tidak lagi di dengarnya, sekuat apapun Lingking tetaplah manusia yang bisa merasakan sakit walau hanya karena kedinginan.
Lingling membuka matanya menatap langit-langit kamar, Lingling memperhatikan dirinya yang sedang berada di sebuah ruangan dengan selimut tebal menyelimutinya.
"Kamu sudah sadar," ucap wanita yang di selamatkan Lingling.
"Ini di kamarku, kita masih berada di atas kapal," sambung wanita itu yang mengetahui apa yang ingin ditanyakan Lingling dari ekspresinya.
"Berapa lama lagi sampai di daratan?" tanya Lingling.
"Sekitar 8 jam lagi," sahut sang wanita.
"Minumlah ini, sup ini bisa membantumu agar jauh lebih hangat," sambung wanita itu sambil mengarahkan sesendok sup ke mulut Lingling.
Lingling menatap wanita itu penuh keraguan, mereka tidak saling kenal untuk apa wanita itu baik padanya, mungkinkah kalau wanita itu ada maunya.
"Sudah minum saja, itu demi tubuhmu agar cepat membaik," ucap Sai.
"Tenang saja aku tidak meracuni mu," ucap wanita itu yang melihat Lingling hanya diam tidak membuka mulutnya.
Lingling membuka mulutnya sambil menutup matanya, tidak tahu kenapa dirinya merasa ada yang aneh dengan wajahnya secara tiba-tiba.
"Hahahaha, dasar anak muda polos," ucap Sai sambil terus tertawa.
"Tidak seperti yang kalian bayangkan, lagipula aku adalah wanita," sahut Lingling.
"Siluman Rubah juga wanita," ucap Sai.
"Cukup untuk itu, aku ingin bertanya padamu," sahut Naga ketiga.
"Tanyakan saja," ucap Lingling.
"Seberapa kuat kamu sekarang? dan alchemist tingkat apa kamu?" tanya Naga ketiga.
"Aku tingkat Bumi level 2, dan alchemist tingkat dasar," sahut Lingling.
"Apa!" ucap Naga ketiga.
"Kalian berdua apa tidak salah orang, dia masih sangat lemah, dia tidak mungkin bisa menguasai 8 keahlian kita" sambung Naga ketiga.
__ADS_1
"8 keahlian, apa maksudnya?" tanya Lingling.
"Aku belum menjelaskannya padamu, dari 88 Naga kamu harus menyatukan 8 Naga. Setiap Naga memiliki 1 keahlian masing-masing, seperti aku yang memiliki keahlian bela diri, Naga Kedua Alchemist pembuat pil dan obat-obatan, dan Ketiga sang pengendali Air," ucap Sai.
"Jadi maksudmu aku harus menguasai semua keahlian kalian para Naga," sahut Lingling.
"Benar, tidak hanya itu kamu juga harus menjadi yang terkuat dari setiap keahlian kami, tapi sepertinya itu tidak mungkin," ucap Naga ketiga kembali meremehkan Lingling.
"Kamu terlalu meremehkannya, masih ada 5 tahun lagi untuk itu dan aku percaya padanya," sahut Sai.
"Dia masih harus mencari saudara kita yang lainnya, dia belum menguasai keahlian kalian dengan sempurna, belum lagi bahaya yang akan dihadapinya, itu tidak memungkinkan untuknya?" ucap Naga ketiga.
"Tentu saja, kamu juga pasti akan berpikiran seperti itu jika bersamanya walau hanya sebentar," sahut Sai.
"Aku mungkin tetap akan disini, tapi jangan harap aku mengajarkannya keahlian ku sebelum dia bisa membuktikan bahwa dia benar-benar mampu membuktikannya," ucap Naga ketiga.
"Kamu pasti akan berubah pikiran seperti Kedua," ucap Sai.
Linglinh hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan perdebatan ketiga Naga di dalam tubuhnya, harus sampai kapan selalu ada perdebatan setiap ada Naga baru yang masuk tubuhnya.
Tok tok tok.
"Masuklah," ucap Lingling yang mendengar suara ketukan pintu.
Dari luar beberapa orang berjalan ke arah Lingling, setelah sampai di samping Lingling semua langsung berlutut tanpa berani bersuara.
"Ada apa ini?" tanya Lingling kebinggungan.
"Terima kasih sudah menyelamatkan kami," ucap semua serentak.
"Bangunlah, aku tidak melakukan apapun," sahut Lingling.
"Yang kami tahu kamu menyelamatkan kami, sekali lagi kami ucapkan terima kasih," ucap pria yang berlutut di depan.
"Baiklah-baiklah, aku terima ucapan terima kasih kalian sekarang pergilah," sahut Lingling.
Haaaaaaaaaah.
Lingling menghela nafas lega setelah semua orang keluar, padahal dirinya tidak berniat menyelamatkan siapapun jadi dirinya tidak membutuhkan ucapan terima kasih dari mereka.
__ADS_1