
Di Istana Kerajaan Gan Lingling beristirahat beberapa hari, permintaan langsung dari Pangeran Yan yang ingin membalas budi tentu saja tidak akan ditolak olehnya karena Lingling sendiri masih harus mencari informasi tentang Naga lainnya.
Di dalam kamar Lingling mencoba menyatukan aura nadinya yang menjadi berantakan karena memaksa menyerap batu jiwa tingkat tinggi, perlahan lautan spiritualnta kembali terbentuk dan terlihat lebih besar dari sebelumnya.
"Akhirnya, tubuhku terasa jauh lebih baik sekarang," ucap Lingling sambil menggerakkan tangan dan kakinya.
"Aku kira membutuhkan waktu lama untukmu menyatukan lautan aura nadi spiritual mu," sahut Sai yang seperti biasa terkejut dengan yang filihat dari Lingling.
"Aku juga berpikir begitu, tapi baguslah aku jadi bisa mencari informasi dengan cepat," ucap Lingling santai.
Tok tok tok.
Lingling bergegas berdiri setelah mendengar suara ketukan pintu dan langsung membukanya, melihat siapa yang datang Lingling hanya menatapnya.
"Apa aku mengganggu saudari Lingling?" tanya Pangeran Yan yang wajahnya memerah.
"Tidak aku sudah selesai," sahut Lingling.
"Di Kota Chi akan mengadakan pelelangan, apa saudari Lingling mau ikut?" tanya Pangeran Yan.
"Ikut saja, siapa tahu ada barang bagus yang bisa kamu gunakan untuk membuat pil tingkat dasar," ucap Naga kedua.
"Sebenarnya aku tidak tertarik, karena walau aku ikut dan tertarik aku tidak mungkin bisa membeli barang yang dilelang," sahut Lingling menjawab perkataan Pangeran Yan.
"Kalau itu tenang saja, aku yang akan membayarnya, apa yang tidak untuk saudaru Lingling," ucap Pangeran Yan tersenyum sendiri.
"Tunggu apa lagi, kita berangkat sekarang," sahut Lingling sambil tersenyum, Lingling berpikir ternyata pesonanya masih sama seperti sebelumnya.
"Anak yang sulit ditebak," ucap Naga kedua menggelengkan kepalanya.
Lingling yang menaiki kereta kuda bersama Pangeran Yan tidak berhenti terkagum, di kehidupannya yang dulu kereta kuda tidak ada sehari-hari dirinya menyelesaikan misi menggunakan kendaraan tergantung situasi yang dibutuhkan seperti mobil sport bahkan mobil sedan yang terparah naik sepeda kayuh.
Pangeran Yan hanya tersenyum sambil terus memperhatikan Lingling, dirinya masih tidak menyangka anak yang lebih muda darinya ini sudah berada ditingkat yang sama dengannya perasaannya juga langsung tertuju padanya.
"Tempatnya sangat besar, lebih besar dari perkiraanku," dalam hati Lingling saat memasuki tempat lelang.
Lingling menatap ribuan kursi kosong yang berjejer mengelilingi sebuah panggung, hanya berselang beberapa menit ribuan kursi terisi penuh dengan hadirnya para bangsawan.
Teng teng teng.
Suara Lonceng berbunyi tanda pelelangan akan dimulai, satu persatu barang yang akan dilelang disusun berbaris lengkap dengan kain penutupnya.
"Terima kasih kami ucapkan sebagai panitia penyelenggara lelang kali ini atas kehadiran para bangsawan, tanpa menunggu lebih lama lagi barang pertama yang akan kami lelang adalah," ucap penyelenggara lelang yang langsung membuka kain penutup di depannya.
__ADS_1
"Ini dia," sambungnya lagi.
"Pria Elf yang tampan, aku ingin menjadikannya budak nafsu mu," sahut bangsawan wanita saling berebut.
"Elf pria anak dari Ratu Elf, tidak hanya tampan darah yang dimilikinya bisa digunakan membuat aneka racun, Kita buka harga 25 keping emas," teriak penyelenggara lelang.
"26"
"30."
Sahut-sahutan harga yang semakin tinggi membuat Lingling kesal, bangsa Elf juga makhluk hidup kenapa mereka sampai seperti ini bahkan mengalahkan dirinya yang seorang pembunuh bayaran.
"Aku mau dia," ucap Lingling.
Pangeran Yan melotot kaget tidak percaya, wanita muda di depannya ingin membeli bangsa Elf pria apa yang akan dilakukannya, Pangeran Yan juga berpikir apa dirinya tidak kalah tampan dari pria Elf itu.
"100 keping emas," teriak Pangeran Yan.
Semua bangsawan menatap ke arah Pangeran Yan, mereka semua terdiam bukan karena tidak bisa menambah harga lagi tapi lawan mereka adalah anggota Kerajaan, berurusan dengan anggota Kerajaan tidak baik untuk mereka semua.
"100 keping emas pertama, 100 keping emas kedua, tidak ada tawaran lagi, pria Elf menjadi milik Pangeran Yan." ucap penyelenggara lelang.
Pelelangan terus berlanjut, satu persatu barang lelang terjual. Lingling yang merasa bosan ingin segera beristirahat, dan bertanya pada Pangeran Yan tentang Naga lainnya.
"Kamu harus bisa mendapatkan itu," ucap Naga kedua.
"Apa bagusnya itu?" tanya Lingling penasaran.
"Nanti saja ku jelaskan, berapapun kamu harus mendapatkan tungku itu," sahut Naga kedua.
"Kita mulai dengan 40 keping emas," ucap penyelenggara lelang.
"Apa Pangeran Yan bisa mendapatkannya untukku," ucap Lingling.
"Tentu saja bisa, tapi untuk apa tungku itu?" tanya Pangeran Yan.
"Nanti akan ku jelaskan saat di jalan," sahut Lingling.
"Baiklah," ucap Pangeran Yan.
"150" teriak Pangeran Yan Su.
"150 pertama, 150 kedua, tidak ada penawar lagi. Tungku 2 jari menjadi milik Pangeran Yan," ucap penyelenggara lelang.
__ADS_1
Pelelangan berakhir, Long Xu membawa pria bangsa Elf dan tungku 5 jari kembali ke Istana Gan.
Di dalam kereta Lingling menatap luka yang ada di lengan pria Elf, kata menyedihkan tiba-tiba terucap dari mulut Lingling dengan sendirinya.
"Bukannya bangsa Elf bisa menggunakan sihir, kenapa para Elf malah tertangkap dengan mudah oleh manusia," ucap Lingling
"Tidak perlu banyak bicara, kamu membeli tungku itu dan aku pasti karena mau membuat racun, manusia seperti kalian mana tahu penderitaan yang kami rasakan, tapi jangan berharap aku akan mau menjadi budak nafsu mu," sahut pria Elf.
"Diselamatkan tidak berterima kasih," ucap Sai.
"Dia tidak tahu aku hanya ingin menyelamatkannya, biarkan saja tapi Siapa juga yang ingin menjadikannya budak nafsu aku masih suci," sahut Lingling.
"Jadi apa saudari Lingling benar akan membuat racun?" tanya Pangeran Yan sambil menatap Lingling yang sama sekali tidak marah walau mendengar perkataan pria Elf itu.
"Tidak, aku membutuhkan tungku ini untuk pembuatan pil," ucap Lingling.
"Bagaimana dengannya?" sahut Pangeran Yan menunjuk pria Elf.
"Kita bicarakan itu di kamarku saja" ucap Lingling.
Pangeran Yan terdiam sambil menganggukkan kepala, Lingling sangat tidak bisa ditebak dirinya menjadi semakin penasaran siapa Lingling sebenarnya.
Sampai di Istana Gan Lingling membawa pria Elf ke kamarnya, Lingling sengaja membiarkan tali pengikat tetap mengikat tangan Elf itu agar tidak bisa menggunakan sihir sebelum dirinya selesai menjelaskan.
"Ahhhhhh, kenapa aku terus bertemu bangsa Elf, pertama Alang dan kedua pria Elf seperti mu," ucap Lingling.
"Alang, di mana dia sekarang?" sahut Pria Elf.
"Apa pedulimu," ucap Lingling sinis.
"Bagaimana keadaan Alang?" tanya pria Elf raut wajahnya terlihat mengkhawatirkan sesuatu.
"Haaaaaah, dia baik-baik saja tapi dia harus keluar masuk dunia manusia demi mencari makanan, cepat atau lambat dia akan tertangkap sama sepertimu dan Ibumu Ratu Elf," sahut Lingling.
"Semua karena kalian para manusia yang menghancurkan kehidupan kami, kalian menculik Ibuku, membuat bangsa Elf tidak memiliki pemimpin. Di saat aku ingin mencari Ibuku kalian memberikan informasi palsu dan menangkap ku," ucap Pria Elf yang terlihat sangat marah.
"Siapa yang menyuruhmu mempercayai manusia," sahut Lingling yang malah menyalahkan pria Elf.
"Benar karena memang dasarnya semua manusia sama, dan kamu pasti termasuk salah satunya," ucap pria Elf.
Lingling menyunggingkan bibirnya, itulah kelemahan bangsa Elf mereka sangat mudah terpancing emosi dan tidak bisa mengontrol kekuatan sihir mereka pikir Lingling.
"Sama seperti wanita itu," ucap Sai.
__ADS_1
"Benar," sahut Lingling dengan suara pelan.