Pendekar Naga Wanita

Pendekar Naga Wanita
Menara


__ADS_3

Di bawah ajaran Naga Kedua Lingling mulai meracik pil berbeda dari yang lain, selama tiga hari tiga malam Lingling terus membuat pil hingga semua bahan yang sudah dikeluarkannya habis tanpa sisa.


Bup bup.


Suara dari tungku dua jari yang tetdengar membuat Lingling tersenyum, saat ini pil terakhir yang dirinya buat Lingling berharap hasilnya memuaskan sama seperti sebelumnya.


"Semua sudah jadi," ucap Lingling yang baru menaruh pil terakhir ke dalam tempat.


"Apa kamu mengingat semua nama pil itu?" tanya Naga Kedua.


"12 butir pil mahkota, 12 butir pil elaksir penyembuh luka luar dalam dan 12 pil anti panas tingkat jadi," sahut Lingling.


"Sebenarnya bahan pil anti panas bisa saja kita gunakan untuk membuat pil lain tingkat murni, tapi saat ini kamu lebih membutuhkan pil anti api untuk melawan Naga keempat," ucap Naga Kedua.


"Karena semua sudah selesai sekarang saatnya pergi lagi," sahut Sai.


Lingling bergegas meninggalkan sungai menuju bagian barat. Setelah berjalan kaki selama dua belas hari Lingling tiba di kota Yuan, dari informasi yang Lingling dapat kota Yuan terkenal dengan menara sucinya sejak puluhan tahun lalu. Sambil berjalan Lingling terus berpikir apa mungkin terkenalnya menara suci itu dari awal karena Naga api yang di segel di dalamnya.


Lingling yang ingin mencari informasi lebih langsung memasuki sebuah tempat makan, Lingling langsung memesan beberapa hidangan tidak lupa dengan arak sebagai minuman penutupnya, karena dirinya wanita hampir semua orang memperhatikannya yang minum arak di siang hari.


Baru sesuap makanan masuk ke mulutnya Lingling mendengar informasi yang sangat penting, Lingling menghentikan makannya sambil memasang telinganya agar bisa mendengar dengan sangat jelas.


"Hari ini hari terakhir menara suci dibuka untuk semua, setelah ini tidak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya," ucap seorang murid perguruan yang berbicara di depan Lingling.


"Aku masih sayang dengan nyawa ku, sampai kapanpun aku tidak akan pergi ke menara itu.Tapi sebelum aku ke sini aku mendengar pengumuman jika menara suci akan ditutup satu jam lagi," sahut murid lainnya.


Tanpa memikirkan makanan yang tidak jadi di makannya Lingling langsung berlari meninggalkan tempat makan, Lingling lebih dulu meninggalkan 2 keping emas di atas meja walau belum memakan semua yang dipesannya.


Lingling terus berlari menuju menara suci, sampai di sana Lingling melihat dua penjaga berpenampilan serba hitam bersiap menutup pintu menara.


"Tunggu dulu," ucap Lingling.

__ADS_1


"Waktu yang ditentukan sudah habis silahkan pergi," sahut salah satu penjaga.


"Aku dari jauh, izinkan aku masuk ke dalam," ucap Lingling.


"Heeeeh, walau kami mengizinkanmu memangnya apa yang bisa kamu lakukan," sahut penjaga lainnya meremehkan Lingling.


"Akan aku berikan beberapa keping emas asal kalian mengizinkanku untuk masuk ke dalam," ucap Lingling.


"Aduh aduh, hanya beberapa itu tidak akan cukup untuk kami, bagaimana jika kamu memberikan semua kepingan emas yang kamu punya," sahut penjaga pertama disambut tawa penjaga lainnya.


"Hahahaha."


"Kalian yang memaksa," ucap Lingling sambil berjalan menghampiri keduanya.


Buuuuuuuuuug.


Baaaaaaaaam.


"Tidak masalah, aku hanya tinggal membunuh kalian semua setelah itu aku bisa masuk dengan tenang," sahut Lingling yang langsung menarik pedangnya.


"Ada apa ini?" tanya seorang wanita berjalan menghampiri Lingling dan para penjaga, mata wanita itu terus menatap ke arah pedang milik Lingling.


"Salam Ketua Ayi kami hanya menjalankan perintah untuk menutup menara, tapi anak muda ini memaksa masuk ke dalam," sahut salah satu penjaga.


"Siapa namamu, kenapa kamu memaksa masuk ke dalam?" tanya ketua Ayi menatap Lingling tajam.


"Aku rasa aku tidak perlu berkenalan denganmu, kamu seharusnya tahu Naga itu makhluk abadi yang paling tidak suka dikekang, walau kamu mencari pendekar ke seluruh dunia tidak akan ada yang bisa menenangkannya," sahut Lingling.


"Tau apa kamu? pergilah sebelum habis kesabaranku," ucap Ayi.


"Hahahaha, tahun-tahun terakhir ini kamu pasti bisa merasakan Naga itu terus meluapkan amarahnya, semakin lama kamu mengurungnya semakin dia akan terus marah, dan setelah amarahnya tidak terkendali menara ini akan hancur seisi kota akan habis," teriak Lingling.

__ADS_1


"Dari mana kamu tau? siapa sebenarnya kamu?" tanya Ayi menatap Linling penuh heran.


"Aku tidak akan memperkenalkan diri, aku hanya ingin bilang keegoisanmu dan semua ketua lainnya akan membawa celaka bagi warga tidak berdosa," sahut Lingling.


"Biarkan dia masuk," ucap Ayi.


"Baik ketua," sahut dua penjaga yang langsung membuka pintu.


Lingling berjalan memasuki menara suci sambil tersenyum. Lingling berpikir dari awal para ketua yang membangun menara suci itu salah, tidak seharusnya mereka mengurung dan menyegel Naga di dalam menara, masih banyak cara agar menara bisa digunakan untuk meningkatkan pelatihan.


Didalam menara aturan sudah dibuat secara mutlak, siapa saja yang berusaha menenangkan sang Naga yang berada di bawah menara harus melewati empat tingkat yang sudah di sediakan. Baru masuk beberapa langkah Lingling kembali menghentikan langkahnya, Lingling merasa seperti ada sesuatu yang kurang dari dalam dirinya.


"Dari saat aku masuk aku tidak bisa mendengar suara Sai dan Naga Kedua, apa yang terjadi," dalam hati Lingling pelan.


"Anak muda karena kamu sudah masuk mulailah menaiki tingkat pertama untuk penebusan dosa," ucap suara tanpa wujud yang menggema.


"Sebenarnya apa itu penebusan dosa? kenapa aku tidak langsung saja ke bawah menara?" sahut Lingling sambil mencari asal suara.


"Menara ini bernama menara suci, setiap manusia pasti pernah melakukan dosa dan di tingkat pertama menara ini dari dosa terkecil hingga terbesar kamu harus mencoba menerima hukumannya," ucap suara yang kembali terdengar.


"Kamu bukan Dewa untuk apa aku harus menurutimu," sahut Lingling.


"Anak muda kamu tidak memiliki pilihan lain, jika kamu tidak mau kamu tidak akan bisa keluar dari sini selamanya," ucap suara yang langsung menghilang.


Dari pertama dihidupkan kembali Limgling seperti memiliki tugas yang harus dilakukannya, menurut Lingling Dewa sengaja menghidupkannya menggantikan pemilik tubuh sebelumnya untuk menyelesaikan tugas demi kehidupan para Naga ke depannya.


Sebenarnya dari awal bisa saja dirinya menjalani kehidupan normal tanpa harus mengikuti semua yang dikatakan Sa, detelah berdiam cukup lama penyesalan menjalani tugas yang bukan demi dirinya sendiri membuat Lingling seakan hilang dari kesadarannya.


"Apa ini, aku tidak seperti itu," ucap Lingling yang tiba-tiba dipenuhi keraguan.


"Lakukan semuanya jangan sampai gagal," sahut suara tanpa wujud.

__ADS_1


__ADS_2