Penentuan Arah

Penentuan Arah
kata maaf yang terucap


__ADS_3

cuaca dingin dalam keadaan mendung yang di iringi gerimis kini telah menjadi hujan yang deras rincik air hujan begitu lebat hingga menyamarkan suara-suara yang ada di sekitaran sana


Dan seolah alam tau akan perasaan sepasang suami istri ini yang telah menjadi orang tua dan sering di panggil Ayah dan Ibu oleh anaknya selama tujuh belas (17) tahun ini harus di kejutkan dengan kelahiran anak dari anak pertamanya


dengan perasaan yang tidak menentu Ayah Amir berjalan mendekat kepada Ibu Mia sambil menyodorkan air hangat yang di minta istrinya tadi dan tanpa di sadari air mata itu jatuh mengenai tangan istrinya


karena tidak sanggup mengangkat kepalanya Ibu Mia hanya menunduk menyibukkan diri saat mendengar suara pintu kamar di dorong.karena ia tau pasti suaminya sudah mendengar suara tangisan bayi dan yang paling membuat Ibu Mia bersedih ketika ia mendapatkan tetesan air dari mata suaminya


Ibu Mia memberanikan diri dengan mengangkat wajahnya dan menatap suaminya sambil menggelengkan kepala seolah memberi isyarat kepada suaminya kalau ini bukan waktunya untuk menghakimi anak mereka sehingga Ayah Amir memutuskan keluar dari kamar Kamila


sementara Kamila yang berada di sana hanya bisa menangis dan menangis.Menangisi segala kebodohannya karena tidak pernah berpikir sejauh ini dan akan seperti ini, tapi inilah yang harus di hadapinya sekarang bukan hanya Ayah dan Ibunya saja tapi dunia yang siap tidak siap harus ia hadapi


setelah selesai membersihkan Kamila dan juga anak-anaknya Ibu Mia keluar untuk menemui suaminya sebelum keluar kamar Ibu sempat memeluk anaknya dan mengusap kepala cucu-cucunya lalu menciumnya seolah memberikan kekuatan kepada anaknya kalau dia harus berjuang menghadapi kenyataan


setelah Ibu pergi dari kamarnya dengan sisa tenaga dan kekuatan yang masih ia miliki Kamila mengeluarkan tas yang sudah ia persiapkan sejak lama yang isinya perlengkapan bayi dan sedikit bajunya yang di masukkan ke dalam satu tas yang sama


dengan perlahan Kamila mengangkat bayinya satu persatu dan untungnya dia sempat mempelajarinya dari ponsel pintarnya

__ADS_1


berjalan perlahan menuju pintu dengan perasaan takut yang teramat sangat ia rasakan saat ini


"insyaallah kita bisa ya nak, kita akan berjuang bersama-sama"sambil kembali meneteskan air matanya


dengan langkah yang bergetar penuh dengan keraguan Kamila ayunkan kakinya menuju Ayah dan Ibunya yang sedang menangis berpelukan seolah sedang menguatkan satu sama lainnya


"ayah"


Ayah dan Ibu pun melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air matanya ketika mendengar ada yang memanggilnya


Kamila mendekat kepada Ayah dan Ibunya lalu berlutut di depannya


Kamila menjeda ucapannya sebentar sambil membenarkan gendongannya


"Ayah,Ibu, maaf kan Milla yang telah menghinati kepercayaan yang telah kalian berikan, maaf kan Milla yang tidak bisa menjaga amanah dari kalian untuk menjadi perempuan yang bisa menjaga harga diri, kehormatan dan kesuciannya, maaf kan segala kebodohan yang telah Milla lakukan hingga berakhir dengan hamilnya Milla dan lahirnya si kembar. Milla tau kata maaf ini tidak bisa menutupi rasa malunya kalian dari cemoohan dan gunjingan orang-orang yang ada di sekitaran kalian, maka dari itu Milla memutuskan untuk segera pergi dari rumah kalian.tapi kalau boleh sebelum Milla pergi


Milla mau meminta sama Ayah dan Milla mohon dengan sangat agar Ayah mau menuruti keinginan Milla ini dan anggap saja ini permintaan Milla yang terakhir dari seorang anak kepada Ayahnya"

__ADS_1


setelah mengucapkan itu Milla merangkak dengan kedua bayinya yang berada di dalam gendongannya


"Ayah, bisa kan Ayah mengadzani anak-anak Milla, agar anak-anak Milla merasakan kalau mereka telah di terima oleh Ibunya ini. Milla tau mereka ada dan terlahir dari sebuah kesalahan, tapi bukan berarti mereka di perlakukan tidak layak karena yang salah disini adalah Milla yang tidak bisa menjaga diri sehingga terlahir mereka"


dengan tangan bergetar Kamila mengeluarkan bayinya satu persatu dan memberikannya kepada Ayah Amir


tida jauh berbeda dengan Kamila Ayah Amir pun sama dengan tangan yang bergetar hebat ia menerima cucu kembarnya sambil menangis


dengan khidmat dan khusus Ayah Amir adzan dan Iqamah di telinga kedua cucunya


setelah selesai Ayah Amir menangis sejadinya sambil memeluk kedua cucunya


"maaf kan Ayah, ternyata Ayah tidak bisa menjaga kamu dari peria yang tidak bertanggung jawab sehingga kamu harus mengalami semua ini sendirian"


Ayah Amir menangis pilu sambil memeluk erat tubuh cucunya


Dan di ruangan itu di penuh suara tangisan dan air mata tapi bukan air mata kebahagiaan melainkan air mata penyesalan, kepedihan, dan Kepiluan

__ADS_1


Ibu yang berada di samping Ayah Amir sejak tadi hanya bisa menyaksikan kepedihan yang sedang dialami oleh anaknya tanpa bisa melakukan apa pun karena dia tidak mau melangkahi suaminya biarlah Saga sesuatunya suaminya yang memutuskan karena dia tau suaminya tidak mungkin mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih dahulu


__ADS_2