Penentuan Arah

Penentuan Arah
mata batin Karisa


__ADS_3

orang yang beberapa bulan ini Ara hindari mau tida mau harus Ara temui setiap jam kosong di sekolah karena salah satu pelajaran yang mengharuskan dirinya berpasangan dengan orang tersebut


"maaf Bu boleh nggak kalau pasangan nya di tukar?"


"enggak ada tukar menukar Mutiara, ini ibu yang menentukan jadi tidak ada yang boleh tukar menukar pasangan kalian mengerti"


"mengerti Bu"


mau tidak mau Ara pasrah saja dengan apa yang sudah di tentukan


Ara menahan diri agar dirinya tetap fokus pada pelajaran tersebut dan tidak mencampur adukkan masalah peribadinya dengan pendidikannya


"apakah Kamu tidak mau berpasangan dengan saya untuk mengerjakan tugas ini?"


Ara melihat ke arah yang bertanya kepada dirinya lalu menganggukkan kepalanya


"terus kamu mau bagaimana sekarang?"


"yah kerjaan saja, lagian cuma seminggu ini"


"Kamu benar"


sebenarnya Kaisar merasa kecewa mendengar jawaban dari Ara


"aku percaya akan ada keajaiban untuk kita di seminggu ini"


Kaisar bicara dalam hatinya dan percaya dia akan bisa menaklukkan Ara dalam waktu seminggu


"Ra Lo sama si Kaisar mau ngerjain tugas di mana?"


Karisa kepo dengan temannya yang satu ini


"gue ngerjainnya di sekolah aja"


"hmmm ini bisa di kerjakan di rumah loh Ra"


"terus"


"yah kalo bisa di rumah ngapain mesti di sekolah sih,heran deh gue sama pemikiran otak cerdas bin encer Lo itu"


"mau di sekolah atau pun di rumah bagi gue sama saja kan yang penting ngerjain dan selesai tepat waktu, enggak ada aturannya dari Bu Ida kan"


"kita ngerjainnya di rumah Kamu aja gimana?"

__ADS_1


"enggak"


"atau di rumah saya"


"enggak juga"


"terus kita mau ngerjainnya di mana?"


"sekolah, gue duluan"


Ara langsung pergi menaiki angkutan umum meninggalkan teman-temannya dan juga Kaisar


"yang sabar ya, dia emang gitu orangnya,tak tersentuh"


Kaisar tidak menanggapi ucapannya Karisa Dia juga pergi begitu saja


"gue rasa kalian berdua cocok"


"cocok dari sebelah mananya?"


"sama-sama nyebelin"


Karisa dan Nana pun membubarkan diri untuk pulang sambil ngomel-ngomel


"aneh gimana maksud lo?"


"yah aneh, Tara judes, dingin, pendiam, acuh Kita semua tahu kalau dia memang seperti itu"


"terus"


"terus kalau sama Kaisar yang gue lihat dari mata batin gue nih yah, Tara kaya pernah tersakiti oleh kaisar"


"maksud lo"


"maksud gue sepertinya Tara sama Kaisar saling mengenal"


dan pembicaraan seru mereka pun harus berakhir karena jemputan mereka sudah datang


di tempat berbeda Kaisar sedang berusaha untuk membuntuti Ara dia ingin tahu dimana rumahnya


namun gagal karena Ara tau dia di ikuti oleh Kaisar sehingga dia menghilangkan jejaknya


"sial, padahal gue sudah pasang mata baik-baik, tetap saja gue kehilangan jejaknya"

__ADS_1


Kaisar begitu kesal kepada dirinya sendiri karena kehilangan jejak Ara dan memutuskan untuk pulang


waktu untuk menyelesaikan tugas pun tinggal beberapa hari lagi tapi Ara tidak menunjukkan kepanikannya


"tiga hari lagi ini harus sudah selesai"


Ara hanya menganggukkan kepalanya saja


"apa kamu tidak berniat untuk segera menyelesaikan ini?"


Ara melihat tugas kelompoknya dan benar saja mereka masih tertanggal jauh dari teman-temannya


"selesai jam pelajaran terakhir kita langsung kerjakan ini"


"tapi kita juga membutuhkan bahan-bahan untuk penelitiannya, sedangkan di sini kita hanya bisa menuliskan materinya saja"


"kita cari bahan-bahannya dulu"


"enggak perlu, saya sudah menyiapkan itu semua, kita tinggal memperkarakannya saja"


"bagus kalau begitu, gue yang mengerjakan materinya Lo yang membuat perakteknya, jadi kita kerjakan sendiri-sendiri"


"saya pernah mencobanya tapi kurang mengerti"


"di mana bahan-bahannya ?"


"di rumah"


"besok bawa ke sekolah"


"enggak bisa, selain karena terlalu banyak bahan-bahannya untuk di bawa, besok mata pelajaran kita juga padat jadi enggak memungkinkan kita bisa mengerjakannya"


apa yang di ucapkan Kaisar ada benarnya juga mereka tidak mungkin bisa menyelesaikannya tepat waktu jika seperti ini sedangkan waktu untuk menyelesaikannya tinggal sedikit


"pulang sekolah ikut aku"


Ara pun menyetujuinya dia tidak bisa menolak karena tugas ini penting untuk nilainya


jam pulang sekolah pun tiba sesuai perjanjian mereka Ara dan Kaisar akan mengerjakan tugas mereka, Ara di bonceng Kaisar menuju rumahnya


jantung Ara berdebar kencang dia merasakan getaran yang luar biasa begitu memasuki halaman rumahnya Kaisar


"ayo"

__ADS_1


Kaisar menggenggam tangan Ara sambil berjalan masuk kedalam rumahnya


__ADS_2