
Ayah dan Ibu yang mana tidak sedih, kecewa, dan juga malu jika mengetahui kenyataan bahwa anak yang selalu mereka sanjung dan banggakan telah mencoreng muka mereka dengan kotoran
malu sangat malu, sedih sangat sedih, kecewa sangat kecewa. Tapi Ayah Amir tidak bisa melakukan apa pun semua sudah kejadian.
jika dengan cara memukul,menampar,menyiksa anaknya bisa mengembalikan waktu mungkin Ayah Amir tidak perlu berpikir ulang dia akan langsung melakukannya.
Tapi ia tidak melakukan itu,karena dia sadar anaknya sudah cukup menerima hukumannya bahkan lebih dari cukup karena anaknya akan menanggung ini semua seumur hidupnya
akan jadi bahan gunjingan, dan cemoohan orang-orang yang ada di sekitarnya.Mungkin bukan cuma anaknya tapi juga cucu-cucunya yang akan ikut menanggung dosa yang sudah di perbuat anaknya
Ayah Amir bukannya tidak bisa marah tapi dia tidak ingin anaknya semakin ketakutan dan tertekan dan itu akan malah membuat kejiwaan anaknya memburuk dan jika itu terjadi bagaimana dengan nasib cucu-cucunya nanti.
sudah cukup cucu kembarnya tidak memiliki Ayah jangan sampai Ibunya pun ikut meninggalkannya.
"jika kamu ingin pergi, pergilah Ayah tidak akan melarangnya tapi Ayah tidak mengizinkan cucu-cucu Ayah kamu bawa keluar dari rumah ini.berikan mereka pada Ibu mu dan silahkan kamu pergi"
perkataan itu membuat Kamila semakin merasa bersalah,karena dia tau perkataan Ayahnya itu adalah kebalikannya
Kamila tau Ayah tidak mau dia pergi, dia melarangnya dengan alasan tidak mengizinkan cucu-cucunya di bawa pergi keluar dari rumahnya
__ADS_1
"Ayah"
"pergilah jika kamu ingin pergi Ayah tidak akan melarang mu, kamu sudah besar, sudah dewasa, sudah bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang salah dan mana yang benar.Termasuk ketika kamu memutuskan untuk berbuat yang tidak seharusnya kamu lakukan tapi kamu malah melakukannya"
saat Ayah Amir mengucapkan kata-kata mutiaranya yang sangat menusuk hati Kamila Ibu Mia mengambil satu persatu bayi yang berada di dalam gendong Kamila lalu menidurkannya di atas kursi
setelah lepas bayi kembarnya dari gendongannya, tubuh Kamila luruh kelantai dia menangis sambil menatap wajah Ayah dan Ibunya bergantian lalu beralih pada bayi kembarnya
"maaf kan kita karena kita terlalu sibuk mencari dunia, karena kita ingin kehidupan anak kita hidup layak seperti orang lain tidak kekurangan.Tapi terny...A"
Ibu tidak bisa meneruskan kalimatnya air yang sudah ia usahakan agar tidak terjun dari pelupuk matanya akhirnya jatuh juga dia malah menangis hingga perkataannya menjadi tidak jelas dan itu membuat Kamila bangun dan mendekat kepada orang tuanya
"Ayah, Ibu, maaf kan Milla, maaf kan Milla"
Hari berganti minggu dan minggu pun telah menjadi bulan
"Du...Du..duh cucunya nenek sudah harum"
"sini kakek yang jagain sikembar, kakek mau bawa mereka kedepan "
__ADS_1
Ayah Amir pun dengan senang membawa kedua cucunya untuk berjemur di depan rumahnya
berbeda dengan raut wajah tegang anaknya yang melihat bayi kembarnya di bawa keluar rumah oleh kakek si bayi
"sudah tidak apa-apa mereka akan baik-baik saja"
"tapi Bu "
"sudah tidak akan terjadi apa-apa "
Kamila tetap tinggal di rumah Ayah dan Ibunya, dia tidak bisa pergi meninggalkan kedua buah hatinya
dan setelah memutuskan untuk tetap tinggal di rumah orang tuanya , Kamila dan kedua orangtuanya pun di gunjing orang di sekitarnya
tapi Ayah dan Ibunya selalu memberikan nasehat agar dirinya tidak sakit hati atas perkataan, perlakukan dan sikap orang-orang kepadanya
karena yang mereka ucapkan itu benar jika dia hamil di luar nikah dan melahirkan tanpa suami, Anaknya tidak mempunyai Ayah
pedih, perih, sakit yang dia rasakan tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa
__ADS_1
jangankan membela anak-anaknya membela diri sendiri saja tidak bisa.Karena yang di ucapkan orang-orang benar adanya
setahun,Dua, Tiga , Empat, Lima, Enam tahun pun telah Kamila lalui dengan membesarkan anak kembarnya yang di bantu kedua orang tuanya