
Kamila kini telah di dewasakan oleh keadaan gadis remaja itu kini telah menjelma menjadi wonder woman, menjadi perempuan tangguh, kuat, hebat
Dari yang tadinya hanya tau main-main, jalanan-jalanan, kumpul-kumpul kini malah berbanding terbalik. sekarang yang ada di dalam otaknya hanya ada anak-anak dan anak-anak tidak ada yang lain
Kamila tidak bekerja Dia hanya menjadi reseller di rumahnya sambil menjaga
si sulung
mungkin tidak terlalu besar uang yang di hasilkan Kamila sebagai reseller tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya
"Ara punya hadiah untuk Aa"
Ara yang baru pulang dari sekolahnya langsung menghampiri kembarnya sambil menyodorkan sesuatu
"apa itu Ra? bagus sekali, dapat dari mana nak?"
"Ibu sama Aa tau nggak? tadi di sekolah ada tamu, terus tamunya itu bilang jika ada yang bisa menjawab pertanyaan yang dia berikan maka akan di kasih hadiah.
ta..Ra.. ini dia hadiahnya "
dengan penuh semangat Ara menceritakan tanya jawab dengan orang yang datang ke sekolahan dan dia jadi pemenang hadiah itu
"wah Ara hebat ya Bu "
"iya A , Ara memang hebat "
itu lah keseharian mereka tertawa bersama saat mendengar celotehan Ara yang tidak akan ada habisnya
"Mah,Ara di suruh membuat kerajinan tangan dan harus di kumpulan besok"
Ara memberi tahu Ibunya
"Ara bikin kemoceng aja dari tali rafia, nanti Aa bantuin"
"Ara mau,Ara mau. Tapi masalahnya Ara kan enggak tau tali rafia itu apa dan bagaimana cara membuatnya"
keluh Ara kepada kembarnya yang tidak tahu apa itu rafia
"walah kasian sekali cucunya nenek ini
sini, sini nanti nenek kasih tau apa itu tali rafia.emang buat apa Ara tali rafia nya?"
nenek nya Ara yaitu Ibu Mia.menanyakan untuk apa beda tersebut, lalu menjelaskan apa kegunaannya
"biar nanti Nenek suruh Kake beli talinya yang banyak dengan warna yang berbeda ya, agar terlihat lebih bagus "
"iya Nek"
keseruan terus berlanjut hingga Ayah Amir datang
"Kakeeek"
__ADS_1
teriakan Ara mengundang semua perhatian yang berada di dalam rumah.
saat melihat Ayah Amir turun dari kendaraannya sambil menjinjing kantong keresek hitam,Ara langsung berlari ke gendongannya.
"wah sepertinya cucunya Kake sudah sangat merindukan kakek ya?"
"sedikit heeehe"
anak-anak Kamila bisa merasakan kasih sayang dari seorang Ayah dari kakek Amir makanya mereka tidak pernah menanyakan Ayah mereka. Karena Ayah Amir memerankan dirinya bukan hanya seorang kakek tapi juga Ayah untuk cucu-cucunya
dia selalu ada dan mengerti apa yang di inginkan si kembar. Selalu jadi orang terdepan untuk melindungi mereka selalu menuruti kemauan si kembar terutama Ara
Karena Ara yang banyak berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya jadi Ayah Amir selalu berusaha untuk berada di dekatnya
Ayah Amir dan Ibu Mia seolah membagi tugas untuk membantu Kamila menjaga anak kembarnya
Ayah Amir menjadi bodyguard Ara jika dia sedang tidak ada kesibukan. Karena Ara tidak akan segan menyerang orang yang mengganggunya
sedangkan Ibu Mia dia akan selalu memasang telinganya baik-baik jika sewaktu-waktu Bima memerlukan sesuatu atau membutuhkan bantuannya jadi dia selalu siap siaga untuk membantu cucunya
sebenarnya Kamila tidak meminta itu bahkan lebih sering melarangnya, karena Kamila tidak mau banyak merepotkan orang tuanya
tapi Ayah Amir dan Ibu Mia akan marah jika cucu-cucunya tidak melibatkan mereka dalam kegiatannya, jadi dengan senang hati Aa dan Ara akan mengajak kakek neneknya itu untuk di repotkan
"gimana sudah siap?"
pertanyaan Kamila kepada kedua anaknya sambil mengecek bahan apa saja yang di butuhkan
yang menjawab ternyata kakek Amir dan nenek Mia mereka menjawab dengan kompak dan semangat seolah mereka yang mendapatkan tugas tersebut
Kamila,Aa dan Ara saling lirik lalu tertawa dengan kerasnya, karena melihat betapa semangatnya pasangan suami istri itu
"kan Ara yang punya tugas sekolahnya, kenapa jadi nenek dan kakek yang semangatnya?"
"hehehe iya juga ya? kenapa ya? jadi malah kita yang semangatnya harusnya kan Ara bukan kita ya Nek"
"tapi nenek mau bantuin Ara "
"kakek juga "
melihat Ayah dan Ibunya yang kekeh ingin membantu anak-anaknya, Kamila pun mengambil jalur aman.
karena jika Ayah dan Ibunya di biarkan bergabung dengan anak-anak nya yang ada bukan jadi kemoceng tapi rambut palsu warna warni
"yah udah deh biar adil gimana kalo kita bikin kemocengnya dua aja. Ara sama Aa, kakek sama nenek adil kan "
"yah kok gitu sih Mill kita kan maunya bergabung biar rame dan seru"
Ibu Mia kekeh ingin bergabung dengan cucu-cucunya dia sangat kesal atas keputusan Kamila
"ya udah.gimana kalau begini saja, kita melihat Ara sama Aa membuatnya terlebih dahulu hingga selesai.Terus nanti kita bikin lagi yang membuatnya berlima langsung. gimana?"
__ADS_1
"SETUJU"
singkat,padat dan jelas Ayah dan Ibu menjawab dengan kompak
dengan berbagai macam derama yang di lakukan Ara kepada kakaknya dengan alasan susah lah, tidak bisa lah dan lainnya
dengan sabar Bima mengajarkan adiknya hingga selesai
dan benar dugaan Kamila yang curiga kepada Ayah dan Ibunya
ternyata mereka berempat tidak membuat kemoceng malah membuat rambut pelangi dengan ukuran yang panjang sambil tertawa
melihat itu Kamila mengabadikan momen tersebut
Kamila sangat bersyukur memiliki Ayah dan Ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya
Kamila tidak pernah berpikir jika anak-anaknya akan mendapatkan perlakuan seperti ini
karena terlalu lelah bermain sambil belajar si kembar pun tertidur dengan kondisi berantakan
Kamila pun berniat memindahkan anak-anaknya ke dalam kamar
"kamu bereskan tempat tidurnya saja biar Ibu sama Ayah yang memindahkan mereka"
"tapi Bu mereka itu berat"
"Ibu tau"
Kamila pun mengalah dia tidak pernah melawan atau pun menolak yang Ayah dan Ibunya perintah kan semenjak kejadian itu
"terimakasih Ayah,Ibu aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kalian tidak mau menerima kami. Mungkin kami sudah Luntang Lantung di jalanan tanpa arah dan tujuan "
Kamila tidak pernah lupa untuk mengucapan terimakasih dan maaf kepada Ayah dan Ibunya, bagi manapun Kamila masih di hantui rasa bersalah dan malu ketika di hadapkan dengan kedua orang tuanya
Kamila masih belum berani memulai percakapan dengan kedua orang tuanya dia memilih menjadi pendiam terkecuali jika orang tuanya lebih dulu memulai obrolan
"Ayah, Ayah Ara sama Aa mau ikut Ayah"
ditengah sepinya malam tiba-tiba Ara teriak-teriak memanggil seorang Ayah dan teriakan itu membangunkan Kamila yang baru saja memejamkan matanya
"Ara sayang putrinya Ibu, kenapa nak "
Kamila memeluk Ara yang menangis dalam tidurnya
"Ara kenapa Bu?"
Bima membuka matanya dan menanyakan keadaan kembarannya
"tidak apa-apa nak,Ara cuma mimpi.
Ayo Aa tidur lagi "
__ADS_1