
waktu tidak akan pernah bisa di ulang
meskipun harus menangis darah sekali pun
yang tinggal hanya penyesalan
Dan tidak akan pernah berujung
itulah yang sedang di rasakan oleh Bima
"Kamu tau Bi bagaimana ke takutnya aku saat mereka sudah tidak sabar ingin melihat dunia,?
Kamu tau bagaimana ke takutnya aku saat Ayah dan Ibu ku melihat aku berbaring di lantai yang sedang memperjuangkan mereka?
dan apakah Kamu tau rasanya saat dunia menghujat ku?
apakah Kamu tau akan itu?
dan apakah Kamu juga bisa merasakan itu?
di waktu yang bersamaan aku bukan hanya ketakutan tidak bisa melihat dunia lagi, tapi juga ketakutan akan rasa bersalah ku terhadap kedua orang tua ku,
apakah Kamu bisa merasakan itu semua Bi?
apakah Kamu bisa menebus rasa bersalah ku yang begitu besar kepada Ayah, Ibu dan juga anak-anak ku Bi?
apakah Kamu bisa merasakan rasa bersalah ku kepada Bima yang harus terbaring tidak berdaya?"
"maaf, maaf, maafkan aku K yang tidak bisa mempertanggung jawabkan perbuatan ku dulu, tapi aku mohon padamu K jangan jauh kan aku dari anaku, karena dia juga berhak tau siapa aku untuk dirinya, dia juga berhak tau kalau aku adalah Ayahnya, Ayah kandungnya, jadi kumohon jangan kamu berikan aku jarak dengan anakku"
mendengar Bima meminta dan memohon kepada dirinya agar tidak memberikan jarak membuat Kamila berdiri kembali dia tertawa keras di hadapan Bima, dia menertawakan permintaannya Bima
Kamila tertawa keras sambil tepuk tangan
__ADS_1
"lucu, kamu sungguh-sungguh lucu Bi dan amat sangat waaah lawakan mu ini, sehingga aku tidak sanggup untuk berkata-kata"
"K aku sedang tidak bercanda,aku sangat serius dengan ucapan ku ini"
Bima menekankan kata serius di dalam ucapannya dia tidak mau di anggap membuat lelucon oleh Kamila
"hahaha serius,SE RI YUS kenapa kamu hanya mengakuinya di hadapan ku saja?
kenapa kamu tidak mengakuinya di hadapan keluarga mu?
kenapa tidak kamu katakan di hadapan semua orang?
kenapa?
kenapa kamu tidak mengakuinya kepada Dunia bahwa anak perempuan yang bernama
Mutiara Putri Dirgantara adalah anak mu, anak dari hasil hubungan gelap mu, dengan seorang gadis desa yang kau tinggalkan saat dia ingin mempertahankan kandungannya dan meminta pertanggung jawaban dari mu
kenapa?
Kamila mempertanyakan kenapa Bima tidak mengakui Ara di hadapan semua orang, tapi dia menginginkan dirinya di akui sebagai ayah kandungnya Ara di hadapan Kamila saja
tanpa mereka sadari ada tiga pasangan mata yang sedang menyaksikan derama hebat ini
"beri aku waktu untuk mengenalkan Tiara kepada keluarga besar ku, aku janji padamu K,aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua"
"sampai kapan anak ku harus menunggu kepastian dari mu?"
"secepatnya, aku janji di tahun-tahun berikutnya kita akan merayakan ulang tahun anak kita, bersama Kamu, aku dan Tiara"
Bima tidak menyadari kalau dia sedang membuat janji yang dia sendiri tidak tau bisa menepatinya atau tidak
"Bu, Ibu"
__ADS_1
Ara datang menyusul Kamila yang tidak kunjung datang di taman sehingga dia memutuskan untuk menyusul Ibunya
"Tiara"
begitu melihat Ara Bima langsung memangku nya, dan Kamila sungguh merasa bersalah kepada kedua anaknya ternyata selama ini anak-anaknya begitu membutuhkan sosok seorang Ayah? meskipun sudah ada Ayah Amir
"Papih ada di sini ternyata, tadi Tiara lihat Kais mondar mandir di depan, ternyata lagi nungguin Papih ya?"
"Kai"
Bima begitu terkejut mendengar jika Kais menunggunya
Tiara berbincang sebentar dengan Bima sambil berpamitan untuk pulang
"Papih terimakasih untuk hari ini, Tiara sungguh senang sekali bisa merayakan ulang tahun Tiara kali ini bareng Papih"
"gimana kalau mulai dari sekarang setiap tahunnya kita akan merayakan ulang tahun bersama-sama di sini, di tempat ini, setuju enggak?"
Ara tidak langsung menjawab, dia melihat ke arah Ibunya yang menunduk
"Tiara mau Papih janji akan merayakan ulang tahun Tiara di setiap tahunnya bisa?"
"tentu sayang"
Kamila tidak menggangu interaksi antara Ayah dan Anak tersebut, dia memberikan waktu untuk Ara bercengkerama dengan wujud nyata Ayahnya
saat di rasa cukup waktu yang Kamila berikan untuk Bima dan Ara, Kamila pun mengajak Ara untuk pulang
Ara memberikan salam perpisahannya dengan memeluk Bima sambil membisikkan sesuatu
"Ayah Bima sakti dan dia pasti sangat menginginkan melihat wajah mu, kita menunggu kehadiran mu Ayah"
Bima tidak bisa membendung air matanya dia tidak sanggup melihat wajah anaknya yang begitu mirip dengan dirinya dan Kamila
__ADS_1