
keberuntungan yang sangat luar biasa bagi Kamila, karena di anugerah kan anak kembarnya yang begitu pengertian kepada dirinya
Kamila membawa mainan yang di bungkus dengan kertas kado yang unik
"ini hadiah buat Aa,dan yang ini buat Ara"
"ini untuk apa Bu?"
Bima dan Ara tidak menunjukkan kebahagiaan kepada Ibunya, mereka justru merasa bersalah Ibunya harus mengeluarkan uang untuk membelikan mereka hadiah
"ini adalah hadiah ulang tahun kalian"
"tapi ini kan bukan hari ulang tahun kita Bu"
" kan tinggal dua hari lagi Aa sama Ara ulang tahunnya, jadi enggak apa-apa kan Ibu kasihnya sekarang kan sama saja "
"maafin kita ya Bu "
"ko malah minta maaf,ayo sekarang kalian buka hadiahnya.Ibu mau lihat kalian suka atau tidak, tapi mudah-mudahan suka ya"
Bima dan Ara pun membuka bungkusan hadiah yang Kamila bawa, tapi saat semuanya sudah terlihat dengan jelas mereka malah mendiamkannya dan menatap wajah Ibunya
"kalian kenapa? apa Aa sama Ara tidak suka dengan mainan yang Ibu belikan ini? maaf ya kalo Ibu tidak tau keinginan kalian, tapi kata penjualnya, mainan ini lagi ngetrend loh sini Ibu ajarkan, tadi Ibu sempat belajar dulu sama penjualnya"
Kamila merasa bersalah karena hadiah yang dia berikan mungkin tidak sesuai dengan keinginan anak-anaknya.
Kamila mencoba menunjukkan cara menggunakan mainan yang sudah dia beli mungkin anak kembarnya akan jadi suka jika sudah melihatnya
__ADS_1
"kita tidak mau ini"
mendengar kalimat yang di ucapkan Bima menghentikan Kamila yang sedang membuka pelastik mainan tersebut
"Aa sama Ara tidak suka ya sama mainan yang Ibu bawa?ya sudah kalau begitu yang ini kita simpan saja ya.
sekarang coba katakan sama Ibu kalian mau mainan seperti apa? atau kita cari saja di ponselnya Ibu, kalian bisa pilih main seperti apa yang kalian mau"
Kamila menyerahkan ponselnya kepada Bima
"Bu kita tidak menginginkan hadiah apa pun, yang kita inginkan hanyalah Ibu saja, cukup ada Aa,Ara dan Ibu bukan mainan atau pun yang lainnya "
Kamila menatap dalam kedua anaknya dia terpaku dengan perkataan anaknya
"kita sudah punya Ibu dan itu sudah lebih dari cukup untuk kita berdua, iya nggak Ra?"
"Bima juga sudah enggak butuh mainan, yang Bima mau Ibu saja, hanya Ibu dan Ibu itu sudah lebih dari cukup "
mendengar anak-anaknya begitu menginginkan dirinya itu membuat Kamila sangat bahagia karena merasa di inginkan oleh anak-anaknya
"ohhh anak-anak Ibu, ternyata kalian sudah besar ya padahal baru kemarin Ibu menggantikan popok kalian.
Sini-sini Ibu mau di peluk kalian"
"jadi cuma Ibu aja yang dapat pelukan, kakeknya enggak nih"
kakek Amir yang sejak tadi berdiri menyaksikan anak dan cucunya pun
__ADS_1
ikut menghampiri mereka
"Tadi Ayah ketemu sama Alina dan suaminya, dia baru pulang dari kota katanya nanti dia mau kesini "
Alina sudah menikah dengan Alpin dan mereka menetap di ibukota mereka tidak melanjutkan ke perguruan tinggi mereka lebih memilih bekerja daripada menuntut ilmu yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit
"Tante Alina yang temen Ibu itu ya Bu?"
"iya mamahnya Pina"
"wah pasti akan seru nih"
Keesokan harinya Alina pun datang dengan suami dan anakn
"Pina ayo sini kita temui Aa "
Ara langsung menghampiri tamunya yang baru memasuki halaman dengan tersenyum senang melihat teman jauhnya datang
"hey Ara apa kabar"
"baik Om,Tante ayo masuk Ibu ada ko di dalam, ayo Pina ikut Ara"
temu kangen dengan teman lama membuat Kamila jadi nostalgia kembali ke masa-masa mereka dulu, dimana hanya ada canda tawa tidak ada beban yang mengikat
mengenang masa-masa itu semua membuat mereka tertawa
Kamila, Alina dan Alpin mengenang masa-masa mereka.
__ADS_1
Sementara si kembar mendengarkan keluhan Pina yang tidak memiliki teman bermain di rumah seperti Bima dan Ara