
saat sedang mencari-cari keberadaan Papih Bima, Kais melihat Kamila yang akan memasuki ruangan para pelayan
"Milla, Ara bilang kalau kalian mau pulang sekarang ya?"
"iya Al lagian semuanya sudah gue selesai kan jadi kalian tinggal menghidangkan saja "
"kenapa tidak nanti saja pulangnya ini baru setengah loh acaranya masih rame"
"iya, Tapi gue engga tega sama Bima karena terlalu lama meninggalkan nya sedirian"
"yah udah deh, makasih ya udah mau bantuin gue, hati-hati di jalan ya"
Kamila hanya menggunakan kepalanya saja Alina pun pergi meninggalkan Kamila
di pandangnya seluruh tempat yang sering dulunya dia datangin, walaupun sudah di rubah oleh wo sangat begitu indah, tapi Kamila tidak bisa melihat keindahan itu yang dia lihat hanyalah kenangan-kenangan kelamnya dulu
mungkin saat dulu sebelum tau apa artinya perjuangan untuk hidup, villa ini adalah tempat yang paling menyenangkan di mana dia bisa menyalurkan rasa cintanya kepada seseorang yang tidak memiliki ikatan dengannya
tapi berbeda dengan sekarang, jika melihat atau pun hanya mengingatnya saja, tempat ini adalah menjadi tempat penyesalan dirinya yang tidak akan bisa dia lupakan seumur hidupnya
dimana tempat ini juga yang menjadi saksi bisu penolakan seseorang kepada anaknya sehingga menjadikan Bima menderita seumur hidupnya,dia tidak akan bisa merasakan bagaimana indahnya menikmati dunia di luaran sana karena hanya bisa berbaring dan duduk saja
saat Kamila sedang hanyut dalam penyesalannya tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dan menariknya ke belakang
Kamila berusaha memberontak tapi sia-sia karena tenaganya tidak sebanding, tapi saat Kamila sudah mulai pasrah dia mencium bau yang tidak asing, bau yang beberapa tahun silam pernah menjadi favoritnya
Kamila membeku badannya terasa lemah dan tak terasa pipinya pun sudah di basahi air mata dan saat itu pula tangan itu terlepas dari mulutnya
Kamila terdiam dia hanya menunduk dalam,
__ADS_1
karena tidak ingin melihat wajah yang sudah menariknya ke kehidupan yang begitu rumit
"K"
orang itu memanggil Kamila dengan panggilan kesayangan mereka dulu dia mengangkat wajahnya Kamila untuk melihat kearahnya
"K, maaf kan aku"
tidak ada reaksi apapun yang diberikan oleh Kamila
"K,aku mohon jangan siksa aku dengan cara seperti ini"
Bima memegang tangan Kamila yang sedang menutupi wajahnya karena tidak ingin kembali memperlihatkan airmata nya kepada orang yang sudah membuang dirinya dan anak-anaknya
"saya menyiksa anda dengan cara seperti apa Tuan? "
di usapnya pipi yang sudah di banjiri oleh air matanya,lalu menatap tajam wajah orang yang pernah menolak dirinya dan juga anak-anaknya
tangisan Bima pecah saat mengatakan anak ku
"aku, menghukum MU dengan rasa bersalah mu, tidak Tuan bukan aku yang menghukum anda, tapi anda sendiri .
apa saya se berkuasa itu bisa menarik anda di lubang penyesalan? tidak Tuan saya tidak seberkuasa itu
bukan kah anda sendiri yang mengatakan jangan pernah berharap untuk menjadi bagian dari hidup Anda tuan? lalu saya bisa melakukan apa untuk menyakiti anda sedangkan saya saja tidak mampu menggapai Anda? jika tuan lupa mari saya akan ingatkan kembali
Anda bilang saya jangan bermimpi untuk menjadi seorang yang berarti dalam hidup Anda, dan jangan pernah berharap untuk bisa hidup bersama-sama dengan Anda, dan menjadi bagian dari keluarga besar Anda "
Bima ingin memeluk Kamila tapi Kamila menghindarinya Bima sungguh menyesali perbuatannya dulu , mengutuk kebodohannya yang sudah membiarkan Kamila berjuang menghadapi dunia sendirian
__ADS_1
"K apakah Mutiara Putri Dirgantara it"
"dia Putri ku, dia anakku, dan maaf jika saya memberikan nama itu kepada Putri saya karena saya tidak tau kalau itu nama ibu Anda , mungkin jika saya tau nama itu nama besar keluarga anda saya akan berpikir ribuan kali untuk memberikan nama itu kepada Putri saya "
mendengar kalimat ribuan kali membuat amarah Bima tidak terkontrol dan mendorong Kamila hingga Kedinding
"apa maksud dari perkataan mu ribuan kali? kenapa kamu seakan jijik dan menyesalinya karena memberikan nama itu kepada Putri ku? seharusnya kamu bersyukur karena dengan nama itu aku jadi bisa tau kalau dia Putri ku dan dunia bisa tau tanpa di beritahu kalau dia bagian dari keluarga Argantara, harusnya Kamu bersukur dan tau itu kalau dia Putri ku Putri tunggal ku"
seperti api yang di siram dengan bensin
amarah Kamila tidak bisa di kendalikan lagi dia begitu murka dengan rasa bangga yang di perlihatkan Bima sehingga tamparan keras yang tak terduga pun Kamila berikan
"apa yang harus aku banggakan?
apa yang harus aku banggakan ?jawab aku, jawab pertanyaan ku bagian yang mana yang harus aku banggakan?
apa aku harus mengatakan seperti ini kepada dunia
hey lihat ini, ini Putri ku, anak yang tidak di inginkan oleh ayahnya, dia dilahirkan tanpa di akui ayah kandungnya, bahkan memintanya untuk di lenyap kan sejak di dalam kandu"
"cukup K aku mohon cukup jangan teruskan lagi aku tidak sanggup aku mohon "
Bima berlutut memohon agar Kamila menghentikan ucapannya
"Anak h***m Kamu tau itu, itu adalah kata-kata yang keluar dari mulut penghuni dunia,mereka memberikan julukan itu kepada anak-anak ku, anak yang lahir tanpa di nikahi, anak yang lahir dari hasil dari perz***han
harusnya bukan mereka yang mendapatkan kata-kata menyakitkan itu, harusnya bukan mereka yang menerima caci dan makian itu,
karena mereka tidak tau apa-apa, karena mereka tidak mengerti apa-apa
__ADS_1
mereka tidak seharusnya menerima itu semua, mereka tidak seharusnya mendapatkan itu semua"
Kamila pun ambruk dari kuatnya benteng pertahanan yang dia bangun untuk melindungi anak-anaknya agar tidak terlihat lemah tapi dengan hadirnya Bima kembali membuat dia menjadi rapuh air mata yang selalu dia sembunyikan kini tumpah di hadapan Bima