
Sebuah mobil mewah berhenti di sebuah panti asuhan yang terletak di kota Busan. Seorang wanita setengah baya terlihat turun dari mobil kemudian masuk ke dalam tersebut. Kedatangannya disambut oleh seorang wanita yang di ketahui bernama Kim Marry.
"Nyonya Valerie, Anda sudah datang." Seru wanita itu menyambut kedatangan si tamu yang ternyata adalah ibu si kembar Jessica dan Jennie, Nyonya Valerie.
"Dimana, Aster. Aku ingin bertemu dengannya,"
"Dia ada di dalam, sedang bermain bersama teman-temannya. Mari, saya antar Anda untuk menemuinya." Nyonya Valerie mengangguk. Kemudian dia mengikuti perempuan itu dan keduanya berjalan menuju sebuah ruangan di lantai dua.
Tampak seorang gadis kecil berusia tiga tahun sedang bermain bersama anak-anak sebayanya. Gadis kecil itu memiliki kulit yang putih bak porselen, mata yang bulat, hidung mancung dan bibir tipis. Rambut hitam sebahunya dihiasi jepitan, dan wajah cantiknya tampak begitu ceria.
Nyonya Valerie tersenyum tipis ibu dua anak itu kemudian menghampiri gadis kecil bernama Aster tersebut. "Aster, Nenek datang." Seru Nyonya Valerie.
Mata gadis kecil itu berbinar-binar melihat kedatangan wanita berusia akhir empat puluhan itu. "Nenek." Serunya dan segera berlari menghampiri Nyonya Valerie.
"Nenek datang untuk membawamu jalan-jalan. Aster bersiap-siap dulu ya," gadis kecil itu mengangguk dengan semangat.
Selepas kepergian Aster, ibu pemilik panti menghampiri Nyonya Valerie. "Nyonya, bukankah ini saatnya Anda membawanya pulang ke keluarga Valerie, bagaimana pun juga Aster adalah cucu kandung Anda."
Nyonya Valerie menggeleng. "Ini belum saatnya, lagipula ibu kandungnya juga masih belum bisa merawat putrinya. Tunggu keadaannya sudah memungkinkan, baru aku akan membawanya pulang. Aster sudah datang, aku akan membawanya selama beberapa hari." Nyonya Valerie memakai kembali kaca mata hitamnya dan pergi begitu saja.
-
-
Acara yang Jessica dan Steven nanti-nanti sejak pagi akhirnya tiba juga. Dari lantai dua, mereka berdua melihat para tamu undangan yang sudah berdatangan dan saat ini sedang berbincang dengan tiga orang yang pastinya adalah Tuan Nero, Nyonya Mona dan Dante.
Jessica terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Kedua tangannya ia letakkan dipagar pembatas dan menjadi tumpuan dagunya.
"Lihatlah, betapa bahagianya mereka berdua. Dan dengan bangganya, ayahmu menggenggam tangan wanita itu sambil menatapnya penuh cinta. Sungguh pemandangan yang sangat menggelikan." Jessica berkomentar melihat kemesraan mereka berdua.
__ADS_1
"Jangan lupakan si anak tiri. Papa dengan begitu bangga memperkenalkan pada beberapa rekan bisnisnya. Aku geli sendiri melihatnya." Ucap Steven menyahuti.
Jessica menatap sang suami dengan seringai misterius. "Lalu kenapa kita hanya diam saja di sini? Bukankah seharusnya kita ikut serta dalam perayaan besar ini?"
"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita hampiri mereka." Jessica mengangguk. Kemudian dia berpindah kebelakang Steven dan mendorong kursi roda suaminya menuju lift, itu adalah akses Steven satu-satunya untuk naik-turun ke lantai dua.
Pintu lift terbuka. Perhatian semua orang kita tertuju pada Steven dan Jessica yang berjalan diantara para tamu undangan yang memberikan jalan pada keduanya. Sedangkan Tuan Nero dan Nyonya Mona terkejut melihat kedatangan mereka berdua, Steven terutama.
Ada yang mengenalnya, ada juga yang tidak. Hanya mereka yang menghadiri acara pernikahan Steven dan Jessica, itupun tak lebih dari 10 orang. Karena para tamu yang hadir hari itu kebanyakan adalah rekan bisnis dan orang terdekat Nyonya Valerie.
"Ayah mertua, Ibu mertua, maaf kami datang terlambat. Selamat atas pernikahan kalian yang sudah lebih dari sepuluh tahun. Semoga semakin langgeng dan saling mencintai." Jessica memberikan selamat pada mereka berdua, dan senyum yang dia tunjukkan bukan senyum tulus melainkan senyum meremehkan.
Nyonya Mona menarik lengan Jessica seolah-olah memeluknya. Padahal hal itu dia lakukan untuk meminta penjelasan padanya."Siapa yang mengijinkanmu dan si pecundang itu mengikuti acara ini? Cepat bawa dia pergi dari sini dan jangan mempermalukan kami!!"
Nyonya Mona hendak melepaskan pelukan itu, namun ditahan oleh Jessica. Perempuan itu menarik lengan Ibu mertuanya dan membalas ucapannya.
"Steven adalah Tuan Muda yang sebenarnya, dia tidak membutuhkan ijin dari siapapun untuk ikut merayakan ulang tahun pernikahan kalian berdua. Atau karena kau takut jika kedatangannya malah menjadi ancaman untukmu, yang sejak awal sudah mengincar seluruh harta milik keluarga ini?!"
"Lakukan saja, aku tidak takut. Karena rahasia besarmu ada di tanganku!!" Jessica menyeringai seraya melepaskan pelukannya.
Orang-orang yang melihat adegan itu tentu berpikir jika mereka berdua memiliki hubungan yang baik. Namun pada kenyataannya mereka saling memberikan ancaman dan peringatan.
Seorang tamu undangan menghampiri Jessica dan Steven. "Yo, bukankah ini adalah putra Anda yang tidak berguna itu, Tuan Nero. Ternyata Anda memiliki keberanian juga untuk menunjukkannya di depan umum, aku pikir kau lebih mementingkan harga dirimu yang setinggi langit itu. Dan kau, Nona cantik. Sungguh disayangkan, kau yang secantik ini malah menikahi seorang pecundang yang tidak bisa apa-apa!!"
Jessica mendekati pria itu lalu menamparnya dengan sangat keras. Dan apa yang dia lakukan tentu saja mengejutkan semua orang. Bukannya segera minta maaf dan merasa bersalah, Jessica malah menyeringai tajam.
"Ups, tanganku licin dan bergerak sendiri. Makanya kalau punya mulut itu dijaga dan jangan asal bicara!! Dan atas dasar apa kau menyebut suamiku sebagai pecundang?! Justru yang pecundang itu adalah kau, Choi Junsu!!" Jessica mendorong Junsu hingga lelaki itu terhuyung kebelakang.
Melihat apa yang dilakukan oleh Jessica membuat Tuan Nero terbakar emosi. "Sica, cukup!! Berani-beraninya kau mengacaukan pestaku, kau pikir kau itu siapa bisa bertindak sesuka hatimu!! Ingat posisimu di rumah ini, kau hanya menantu jadi jangan bersikap seolah-olah kau adalah penguasa!!"
__ADS_1
"Berani sekali kau bicara seperti itu pada istriku?!"
Sontak Tuan Nero menoleh pada Steven. Putranya itu menatapnya dengan tajam dan penuh permusuhan. "Chan!!" Seru Steven pada pengacara pribadinya. Park Chan, adalah orang yang dia tunjuk langsung sebagai pengacaranya. Orang yang dipanggil pun mendekati Steven. "Apa kau sudah mempersiapkan yang aku minta?" Dia menatap lelaki jangkung itu.
Chan mengangguk. "Ini dokumennya." Steven menerima dokumen tersebut lalu menyerahkannya pada sang ayah.
"Apa ini?!" Kedua mata Tuan Nero membelalak sempurna setelah membaca isi di dokumen tersebut. "Steven, jelaskan pada Papa, apa maksud ini semua?!"
"Apa masih belum jelas, semua harta kekayaan keluarga Nero adalah milikku. Termasuk perusahaan, mansion ini, termasuk Villa pribadi milik istri mudamu. Semua itu adalah milikku, karena aku adalah pewaris yang sebenarnya. Dan surat wasiat ini di tulis langsung oleh Kakek, kalian berdua memang bisa membunuh paman Park. Tapi kalian lupa, dia masih memiliki putra yang tak kalah hebatnya dari dia. Kalian, sudah tidak memiliki apa-apa!!"
"BOHONG!!" tuan Nero berteriak keras. "Itu tidak mungkin, aku adalah putranya dan kau hanya cucunya. Jadi mana mungkin papa menyerahkan semua hartanya padamu, bukan padaku!!"
"Surat wasiat ini sah Dimata hukum, dan kau tidak bisa merubahnya."
"Kau bajingan, Steven Nero!!" Tuan Nero yang terbakar emosi menyambar vas bunga yang ada diatas meja sampingnya berdiri lalu melemparkannya kearah Steven. Namun berhasil ditahan olehnya, Steven tiba-tiba bangkit dari kursi rodanya dan itu membuatnya terkejut bukan main.
"Ja..Jadi, selama ini kau itu tidak lumpuh?!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1
Visual Aster