
Cklekk...
Bertepatan dengan saat Jessica membuka pintu kamar, pintu kamar mandi juga terbuka dan sosok Steven keluar hanya dengan berbalut handuk yang melingkari pinggul sampai lututnya.
Aroma maskulin yang begitu khas menyeruak masuk kedalam hidungnya ketika sang suami keluar dari dalam sana. "Kau sudah pulang?" Tegur Steven yang hanya dibalas anggukan oleh Jessica.
Perempuan itu tak mengatakan apapun untuk menjawab pertanyaan suaminya. Kemudian Jessica menghempaskan tubuhnya pada tempat tidur. Dia benar-benar sangat lelah dan ingin segera tidur.
"Aku mendengar suara ribut-ribut diluar. Apa terjadi masalah?"
"Hm, apa lagi jika bukan kerjaan ibu tirimu. Dia mencoba menyerangku tapi malah tergelincir dan terjun bebas dari tangga. Entah bagaimana nasibnya sekarang, masih bernapas atau tidak. Selamat pun pasti dia mengalami patah tulang," jelas Jessica menuturkan.
"Aku pikir ada apa."
Jessica bangkit dari berbaringnya dan menatap Steven yang berdiri di depan cermin dengan serius. Membuat lelaki itu memicingkan mata dan membalas tatapan sang istri dari pantulan cermin di depannya. Tatapan Jessica seolah-olah dia hendak mengatakan sesuatu.
"Ada apa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" Tanya Steven, Jessica mengangguk."Sepertinya sangat penting," lelaki itu berbalik badan lalu menghampiri Jessica.
Perempuan itu membenarkan. "Ya, yang ingin aku katakan padamu memang sangat penting dan ini menyangkut masa laluku."
Steven pun semakin penasaran, belum pernah dia melihat Jessica yang seserius itu. Memangnya ada apa dengan masa lalunya, dan ceritanya seperti apa yang ingin dia sampaikan padanya? Steven benar-benar sangat penasaran.
"Memangnya ada apa dengan masa lalumu, dan sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan padaku?" Steven menautkan alisnya dan menatap Jessica penasaran.
"Aku pernah ternoda dan melahirkan seorang anak. Tapi sayangnya anak itu meninggal sesaat setelah dilahirkan, dan sebelum aku sempat melihatnya. Aku mengalami koma selama dua hari, dan saat aku sadar mama memberitahuku jika anak yang aku lahirkan tidak selamat. Dan alasanku kenapa memberitahumu supaya kau tidak menyesal ketika tahu jika aku sudah tidak perawan lagi!!" Jessica menatap langsung ke dalam mata Steven dan mengunci manik hitamnya.
Antara terkejut, terkesan dan tidak percaya. Terkejut karena ternyata Jessica sudah tidak perawan, terkesan karena dia berkata jujur tentang masa lalunya, dan tidak percaya jika perempuan itu akan membuka aibnya sendiri. Karena biasanya wanita akan menyembunyikan masa lalunya apalagi sebuah aib, tapi Jessica berbeda, dia justru membukanya secara terang-terangan.
"Kapan itu terjadi?" Tanya Steven penasaran.
"Tiga atau empat tahun yang lalu, disebuah hotel berbintang lima. Tiba-tiba ada pria gila yang sedang mabuk berat dan menyerangku dengan brutal. Malam paling mengerikan dan mencekam dalam hidupku, karena pria itu aku kehilangan mahkota paling berhargaku. Dan membuatku menyandang gelar ibu di usiaku yang masih sangat muda. Tapi sayangnya aku tidak pernah dipanggil ibu oleh anakku sendiri karena dia sudah di surga." Ujarnya.
__ADS_1
Steven terdiam. Mendengar cerita Jessica membuatnya teringat pada tragedi malam itu empat tahun yang lalu. Dimana dia menyerang seorang wanita asing dibawah pengaruh alkohol.
Awalnya Steven tak mengingat apapun tentang kejadian malam itu, tetapi suatu ketika dia tiba-tiba mengingat semuanya dan mulai mencari jejak perempuan itu. Tapi sayangnya dia tidak pernah menemukannya, bahkan hingga detik ini.
"Aku sudah memberitahumu. Terserah bagaimana kau akan bersikap padaku setelah mengetahui masa laluku, kau menceraikanku pun aku tidak peduli. Sekujur tubuhku terasa tidak nyaman, aku mandi dulu!!" Jessica bangkit dari posisinya dan melewati Steven begitu saja.
Lelaki itu berbalik badan dan menatap punggung Jessica yang kemudian menghilang dibalik pintu kamar mandi. Cerita Jessica tentang masa lalunya benar-benar sama persis dengan kejadian malam itu, empat tahun yang lalu.
Dan ada kemungkinan besar jika perempuan itu adalah Jessica. Dan jika benar memang dia orangnya, maka Steven tidak akan melepaskannya.
-
-
Jennie terbaring lemah disalah satu ruangan di rumah sakit bertaraf internasional tersebut. Dia kehilangan banyak darah pasca ab*rsi yang dilakukannya kemarin, sehingga dokter menyarankan untuk menjalani rawat inap sampai kondisinya benar-benar membaik.
Perhatian Jennie sedikit teralihkan oleh decitan suara pada pintu kamar inapnya. Seorang dokter muda nan tampan menghampirinya. Wajah tampannya semakin tampan ketika sudut bibirnya tertarik keatas.
"Seperti yang Dokter lihat, aku sudah lumayan baik. Kau terlihat seperti orang asia, apa kau berasal dari luar negeri?" Jennie memastikan.
Dokter muda nan tampan itu mengangguk."Ya, aku berasal dari Korea, dan kebetulan aku bekerja di negara ini." Jawabnya.
Jennie tersenyum. Dokter di depannya ini sangat tampan dan dia langsung terpesona padanya. Selain itu dia juga sangat ramah membuat Jennie semakin ingin mengenalnya lebih jauh.
"Dokter Gabriel, senang bertemu denganmu. Kebetulan aku disini tidak memiliki sanak saudara dan malah bertemu orang yang berasal dari rumpun yang sama. Rasanya aku seperti sedang berada di rumah,"
Dokter itu tersenyum. "Memang tidak nyaman tinggal sendirian di negeri orang. Tapi kita bisa menjadi teman jika kau mau. Baiklah kau istirahat saja, agar kondisimu segera pulih. Aku keluar dulu, masih banyak pasien yang harus kuperiksa." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Jennie.
"Baiklah, Dokter."
Dokter Gabriel sangat tampan dan itu membuat Jennie langsung tertarik padanya. Melihat ada mangsa di depan matanya, tentu saja tidak dia sia-siakan begitu saja. Jennie pasti akan mendapatkannya.
__ADS_1
-
-
Tragedi di tangga menyebabkan nyonya Mona mengalami patah tulang pada leher belakang dan tulang ekornya. Selain itu kepalanya juga mengalami geger otak ringan akibat benturan yang terlalu keras.
Meskipun keadaannya lumayan parah, namun Ibu satu anak itu menolak untuk dirawat di rumah sakit dia memilih pulang dan menjalani rawat jalan. Nyonya Mona sangat membenci rumah sakit, apalagi aromanya yang begitu menyengat. Berada di rumah sakit terlalu lama membuatnya merasa mual dan sakit kepala.
"Ibu mertua bagaimana kondisimu?" Jessica menghampiri Nyonya Mona di kamarnya dan memastikan bagaimana keadaannya.
Melihat kedatangan perempuan itu membuat emosi nyonya Mona langsung meledak. "Kau, mau apa kau datang kemari? Apa masih belum cukup melihatku seperti ini?"
"Ck, Ck, Ck. Mulutmu berpisah sekali ibu mertua, padahal niatku baik loh. Karena aku datang untuk melihat Apa kau sudah mati atau masih hidup? Ups, maksudku bagaimana kondisimu. Sudah membaik atau belum?"
"Dasar ular betina, Kau pikir aku tidak tahu apa maksudmu yang sebenarnya? Keluar kau dari sini, dan jangan pernah menunjukkan batang hidungmu di depanku lagi!!" Teriaknya marah.
Jessica tersenyum meremehkan. "Mudah saja jika kau tidak ingin melihatku lagi, kau tinggal pindah dan pergi ke kutub utara, beres kan!! Dan selamat menikmati hari-hari yang menyenangkan. Sampai jumpa, hahaha..."
"Dasar wanita iblis, enyah kau dari hadapanku!!"
"Hahaha!! Jangan terlalu kencang berteriaknya. Bisa-bisa rahangmu yang bermasalah. Bye, bye..."
"AARRRKKHHH!! Kenapa harus ada dua iblis di rumah ini?! Menyebalkan, sialan!!"
Jessica tersenyum di tengah langkahnya. Ingin menindasnya, tentu dia bukan lawannya. Dan bukan Jessica namanya jika tidak memiliki cara untuk memberi pelajaran pada wanita seperti Mona.
"Sungguh menggelikan!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.