Pengantin Pengganti Si Lumpuh

Pengantin Pengganti Si Lumpuh
Bab 23: Mantan Ketua Gangster


__ADS_3

"KETUA!!!"


"Omo.. Omo...!!! Kenapa aku mendengar suara bocah-bocah laknat itu. Tapi dimana mereka?"


Jessica kelimpungan mencari dari mana sumber suara itu berasal. Dia mengenali betul siapa pemilik suara itu, itu adalah suara Felix dan V. Mantan anak buahnya ketika dia masih menjadi ketua gangster semasa kuliah dulu. Sebelum tragedi malam itu terjadi, tragedi yang akhirnya membuat Aster terlahir ke dunia ini.


Steven memicingkan matanya dan menatap istrinya itu penuh tanya. Memangnya siapa yang dia cari, kenapa dia tampak kelimpungan? "Sebenarnya siapa yang kau cari?" Tanya Steven penasaran.


"Anak setan," jawabnya asal.


"Anak setan?" Steven mengulang ucapan Jessica. Perempuan itu mengangguk. "Kau berteman dengan anak-anak setan?" Dia memicingkan matanya.


"Hm, lebih tepatnya ketua mereka. Begini-begini aku ini mantan ketua gangster." Jawab Jessica dengan santainya.


"Kau mantan gangster?" Jessica mengangguk.


Steven menatap perempuan itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan rasanya Steven tak percaya mendengar pengakuan istrinya. Sosok sefeminin ini adalah mantan ketua gangster? Rasanya dia tidak percaya, tapi ketika mengingat bagaimana Jessica yang begitu berani dan sedikit bar-bar itu sangat masuk akal.


"KETUA!!"


Kembali perhatiannya teralihkan, Steven dan Jessica sama-sama menoleh. Terlihat dua pemuda berlari kearah Jessica dan langsung memeluknya. "HUAA... KETUA, KAMI MERINDUKANMU!!" Tubuh Jessica terhuyung kebelakang karena terjangan dua pemuda itu yang tiba-tiba menubruknya.


"Ketua. Kita pikir, kita tidak bisa bertemu lagi." Ucap salah satu dari mereka berdua.


Jessica melepaskan pelukan mereka dan menatap keduanya bergantian. "Sedang apa kalian disini? Dan bagaimana kabar kalian berdua?"

__ADS_1


"Seperti yang kau lihat, ketua. Kita berdua baik-baik saja. Lama tidak bertemu kau banyak berubah. Kau benar-benar sudah berubah total, dari segi penampilan. Intinya ketua semakin cantik dan dewasa."


Sebuah jitakan keras mendarat mulus pada kepala Felix, dia tidak pernah berubah, selalu saja menebar kata-kata manis yang malah membuatnya merasa mual. Dan bukan lagi rahasia umum jika Felix memanglah pengagum Jessica garis keras.


Lalu pandangan V bergulir pada Steven dan gadis kecil yang ada di gendongan Steven."Oya, ketua. Siapa mereka berdua? Apa dia seorang duda beranak satu yang sedang kencan denganmu? Oh astaga, kenapa aku malah merasa was-was sendiri ya,"


"Hyung, aku peringatkan padamu ya, sebaiknya kau hati-hati dan jangan sembarangan menitipkan apalagi meninggalkan anakmu berdua saja dengan ketua. Dia itu galak dan suka marah-marah tidak jelas. Bisa-bisa anakmu nanti kena mental jika memiliki ibu tiri seperti ketua." Ujar V panjang lebar.


Dan pemuda itu sedang dalam masalah besar. Karena si penguasa bumi mulai mengeluarkan taringnya. Tatapannya yang tajam seolah-olah ingin menerkam. Dengan kaku V menoleh kebelakang karena cengkraman pada leher belakangnya.


"Kau sudah bosan hidup ya?! Sekarang katakan, bagian mana dulu yang ingin kau tumbalkan? Kepala, tangan, atau kaki? Sekarang kau pilih salah satu." Jessica memberikan pilihan pada pemuda itu.


Buru-buru V menggeleng. "Aku tidak mau memilih. Ketua, aku hanya bercanda, tapi kenapa kau serius sekali? Jangan diambil hati ya, kau kan mengenalku dengan baik. Dan kau sendiri tau jika aku ini suka sekali bercanda." Ujarnya.


"Makanya jangan asal bicara. Jika saja tidak ada putriku disini, sudah habis kamu bocah!! Dan asal kau tau saja. Mereka berdua adalah keluarga kecilku, suami dan putriku."


"Ya, dan berhenti memanggilku ketua. Karena aku bukan lagi ketua kalian, paham!!"


Saat berusia 18 tahun, Jessica pernah menjadi sosok yang sangat ditakuti oleh sebagian orang. Dia tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengan mereka yang suka mencari masalah dan keributan di tempat umum, lagi sampai merugikan para pedagang kaki lima.


Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, Jessica pernah menjadi ketua sebuah geng anak-anak berandalan. Dan dia satu-satunya perempuan di dalam kelompoknya.


Dan kelompok yang Jessica ketua, sangat ditakuti dan bisa menjadi momok tersendiri bagi kelompok lain. Tak ada yang berani mencari masalah dengan kelompoknya. Karena mereka semua tahu, mencari masalah dengan Jessica sama saja dengan bunuh diri.


Cantik-cantik tetapi berbahaya. Begitulah mereka mengenal Jessica dimasa lalu. Secantik yang menjadi ketua geng dari para berandalan. Tapi itu dulu dan sudah menjadi masa lalu. Meskipun kegilaan dan sifat bar-barnya itu masih belum hilang sampai detik ini.

__ADS_1


"Sudah hampir waktunya makan siang. Ayo ke restoran, aku akan mentraktir kalian berdua." Jessica menatap keduanya bergantian. Dan mereka berdua mengangguk serasa berseru dengan kompak.


"Oke, Nunna."


-


-


Terlihat dua taksi berhenti di depan agar menjulang tinggi di sebuah Mansion mewah yang terletak cukup jauh dari keramaian kota. 500 meter, adalah jarak yang harus mereka tempuh dari pagar menuju bangunan mewah berlantai 3 tersebut.


Satu wanita dan tiga pria. Dan mereka adalah paman Steven dan keluarganya. Seperti yang sudah Steven sampaikan pada Jessica jika rumah mereka akan kedatangan tamu. Dan merekalah orang-orang yang Steven maksud.


"Woah!! Rumahnya besar dan mewah sekali, apa mulai sekarang kita akan tinggal di sini?" Tanya si bungsu pada ibu dan ayahnya.


Keduanya pun mengangguk. "Tentu saja, dan tak lama lagi semua yang ada di rumah ini akan menjadi milik kita." Jawab si ibu dengan penuh percaya diri. Mendengar hal itu, anak-anaknya pun langsung tersenyum lebar dan buat wajah Mereka tampak seminggu. Karena itu artinya mereka akan menjadi orang kaya.


"Ayo, ayo masuk. Jangan hanya berdiri di sini saja, Aku tidak ingin jika kulit kalian jadi hitam. Karena bagaimanapun juga kalian berdua adalah calon tuan muda, calon pewaris dari seluruh kekayaan Nero!!"


"Ya sudah tunggu apa lagi, ayo-ayo sebaiknya kita masuk."


Mereka berempat tanpa begitu bahagia saat berpikir jika mereka bisa menguasai rumah dan seluruh kekayaan keluarga Nero. Tanpa mereka sadari, jika bahaya terbesar sedang menunggu kedatangan mereka di rumah itu.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2