Pengantin Pengganti Si Lumpuh

Pengantin Pengganti Si Lumpuh
Bab 33: Malam Yang Panjang


__ADS_3

"Aduh, Suketi jatuh lagi!!"


"HUAAA!!! SETAN!!!"


"Omo, Omo, dimana setannya?!" Suketi celingukan mencari setan yang di maksud oleh V dan Felix. Dan dia tidak sadar jika setan yang dimaksud itu adalah dirinya sendiri.


Melihat reaksi Suketi, yang tadinya mereka berdua ketakutan justru menjadi geli sendiri. Jika diperhatikan dengan seksama, Suketi tidak ada seram-seramnya. Dia justru terlihat unik dan menggelikan. Bertubuh bantet dan pendek, gigi tongos dan muka tembem. Benar-benar hantu yang unik dan beda dari yang lain.


"Tampan-tampan, dimana setannya?"


"Dasar sinting. Setan tanya setan, jelas-jelas kau itu setannya!!" Jawab Felix menimpali.


Suketi menunjuk dirinya sendiri. "Oh, jadi setan yang kalian maksud itu adalah aku?" Mata Suketi membulat lebar. "Yakk!! Jangan menyebutku setan, begini-begini aku ini hantu paling cantik dan paling cetar membahana. Oya, bagaimana kalau kita foto dulu. Nanti aku upload di media sosial pribadi milikku. Supaya dunia perhantuan gonjang-ganjing melihat postingan terbaruku!!" Tutur Suketi.


Suketi mengangkat tinggi-tinggi ponsel miliknya dan... "Katakan Cheessss..." Suketi berpose dengan hebohnya, sedangkan Felix dan V hanya melongo. Dia heran sekaligus aneh dengan Modelan hantu satu ini. "Oke, sangat sempurna. Aku upload dulu ya,"


Felix dan V saling bertukar pandang. Keduanya sama-sama tidak mengerti dengan Suketi. Dengan kompak mereka berdua berkata. "Dasar hantu sinting!!"


-


-


Udara malam membekukan tulang. Kabut dingin merayap masuk melalui pori-pori kulit seperti racun. Wanita itu merapatkan kain tipis yang menjadi luaran gaun tidurnya. Namun apa yang dia lakukan tak mampu menghalau rasa dingin yang kian menjadi-jadi.


Waktu telah menunjuk angka 02.00 dini hari. Namun wanita itu masih tetap terjaga dan enggan untuk tidur, berkali-kali dia mencoba untuk menutup matanya yang sebenarnya sudah sangat berat namun tidak bisa. Sementara penghuni lain yang juga berada di dalam satu ruangan dengannya sudah terlelap sejak beberapa jam lalu.

__ADS_1


Wajahnya mendongak, pandangannya menerawang jauh menyelami galaksi hitam di atas sana. Bulan dan bintang tak ada satupun yang terlihat dan tertangkap biner matanya. Benar-benar malam yang sepi dan sunyi.


"Sica, apa yang sedang kau lakukan disana?" Perhatiannya teralihkan oleh teguran seseorang dari dalam kamar. Jessica menoleh dan mendapati Steven menghampirinya. "Ini sudah dini hari, kenapa tidak tidur dan malah berdiri disini."


"Aku tidak bisa tidur. Sebaiknya kau kembali ke dalam dan tidak usah menemaniku disini."


"Wanita bodoh!! Bagaimana aku bisa tidur sedangkan kau saja tiba-tiba hilang. Dan aku tidak bisa tidur lagi setelah bangun. Aku akan menemanimu disini,"


Pandangan Jessica kembali pada langit. "Hm, terserah kau saja."


Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Jessica maupun Steven. Keduanya diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Sesekali Steven melirik wanita yang berdiri disampingnya, dan wanita itu menatap lurus ke depan.


Steven mencoba untuk menyelami isi kepala Jessica supaya dia bisa membaca pikirannya, tapi tidak bisa. Steven benar-benar tidak tau apa yang sedang dipikirkan oleh Jessica saat ini. "Apa yang sedang kau pikirkan?" Dan Steven tak tahan untuk tidak bertanya.


Jessica menggeleng. "Tidak ada. Ayo masuk, disini semakin dingin." Jessica melewati Steven begitu saja dan masuk ke kamar. Namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah wanita itu.


Steven menyambar bibir wanitanya dan mel*matnya tanpa ampun. Meskipun awalnya Jessica terkejut oleh ciuman itu, namun pada akhirnya dia bisa menerimanya dengan baik.


Jelas-jelas ini bukan ciuman pertama mereka, namun Jessica tetap kewalahan mengimbangi ciuman panas suaminya.


Steven merengkuh tubuh Jessica dan semakin memperdalam ciumannya, tangan kanan wanita itu lalu merayap di atas lengan berotot Steven yang tak tertutup apa-apa karena singlet yang dia pakai, menyentuh lengan berobat itu dengan gerakan naik turun berulang-ulang.


Entah sebuah keberanian dari mana. Tiba-tiba tangan kirinya mencoba menggerayangi dada bidang Steven yang tersembunyi di balik singlet putihnya, hingga des*han dan geraman berkali-kali keluar dari bibir Steven. Steven terus menggeram menahan des*hannya, karna sentuhan-sentuhan seksual Jessica.


Steven tampak menguasai permainan lidah yang Ia ciptakan sendiri, tak lama bibirnya turun dan menjelajahi leher jenjang Jessica yang mulus. "Uuggghhh." Berkali-kali Jessica mengeluarkan lengkuhan panjang.

__ADS_1


"Hhmmm ,, Uggghhh,, Ahhhh ,, Uhgggghh." Jessica mend*sah panjang merasakan sensasi yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya. Ia memang pernah berpacaran tapi tak pernah berciuman apalagi sampai french kiss.


Dan ******* er*tis Jessica semakin membangkitkan libid* Steven untuk segera memakan wanitanya ini. "Sica, kau membuatku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Dan sepanjutnya akan ku buat kau tidak tidur dan terus mendes*hkan namaku hingga pagi, Sayang." Steven berbisik dengan seringai nakalnya.


Mata Jessica sontak terbelalak " APPAAA!! Tapi,~"


"Tapi apa, hm?" Steven menyela ucapan Jessica.


Seringai tipis masih belum hilang dari bibir lelaki itu, susah payah Jessica menelan ludahnya. Tubuhnya menegang karena perlakuan Steven padanya, dan pria itu tentu saja bisa menikmati berbagai ekspresi dari sosok jelita yang kini ada di bawah tubuhnya.


"Jangan takut, Sayang. Aku akan melakukannya dengan perlahan dan hati-hati. Kau hanya sekali merasakannya. Mungkin akan sedikit sakit. Dan ingat, aku tidak akan berhenti meskipun kau memohon." Ucapnya.


Steven kembali memagut bibir Jessica tanpa memberikan wanita itu kesempatan untuk membalas ucapannya, permainannya terus berlanjut. Entah sejak kapan, tubuh mereka sama-sama polos tanpa ada sehelai benang pun yang melekat di tubuh masing-masing,


Beberapa ruam merah tanda kepemilikan menghiasi tubuh wanita itu. Terutama di bagian dada dan leher putih jenjangnya, Jessica tidak melawan. Ia justru menikmati permainan panas suaminya yang penuh gaira*. Ya meskipun awalnya terasa sakit, namun rasa sakit itu tergantikan dengan kenikmatan yang tiada tara.


Decitan ranjang terdengar nyaring memecah heningnya malam, untung saja ruangan ini di buat kedap suara hingga tidak ada yang bisa mendengar apa yang terjadi antara mereka berdua.


Malam ini merupakan malam panas bagi kedua insan yang sedang memadu kasih itu. Tidak hanya d*sahan dan pekikan eroti* dari keberduanya, mereka tidak melewatkan satu inci pada diri pasangannya. Bagi Steven maupun Jessica, ini bukan pertama kalinya. Karena malam pertama mereka telah terenggut di hotel beberapa tahun lalu.


Steven adalah orang pertama yang memasuki dirinya. Begitupun dengan lelaki itu, Jessica adalah perempuan pertama dan satu-satunya yang pernah bercinta dengannya. Steven adalah tipe pria yang dingin dan cuek, dia sulit bersosialisasi dengan orang baru apalagi statusnya dulu sebagai pria lumpuh.


Dan malam ini mereka sama-sama menikmati waktu yang mereka miliki, dan keduanya sama-sama menghiraukan bagaimana hari esok akan terjadi. Yang ada di pikiran mereka saat ini adalah, melewati malam panjang ini yang penuh dengan gaira*.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2