Pengantin Pengganti Si Lumpuh

Pengantin Pengganti Si Lumpuh
Bab 31: Jangan Bermimpi


__ADS_3

"Ma, aku ingin menikah dengan Steven!!"


Gerakan tangan nyonya galeri terhenti setelah mendengar permintaan Jennie. Ibu anak itu lantas menoleh dan menatap Jennie dengan pandangan bertanya. "Apa maksudmu?"


"Apa masih kurang jelas? Aku bilang Aku ingin menikah dengan Steven, untuk itu Mama harus memisahkan dia dari Jessica!!"


Nyonya Valerie menatap Jennie dengan pandangan datar. "Atas dasar apa Mama harus membantumu? Bukankah dulu kau sendiri yang tidak mau menikah dengannya dan mintanya untuk menggantikanmu, lalu sekarang kau tiba-tiba datang dan meminta Mama memisahkan mereka berdua!! Jangan berharap Mama akan membantumu!!"


"Mama bilang atas dasar apa, tentu saja atas dasar jika akulah yang lebih berhak bersama Steven dibandingkan Jessica. Karena sejak awal yang seharusnya menikah dengannya adalah aku, bukan Jessica!!"


Nyonya Valerie menatap Jennie dengan senyum meremehkan. "Jennie, Jennie. Kenapa kau lucu sekali, dulu dirimu sendiri yang menolak pernikahan itu dan memilih kabur ke luar negeri bersama kekasihmu yang baik itu."


"Kau tidak mau mendengarkan Mama dan meminta supaya Jessica yang menggantikanmu menikah. Tapi sekarang kau malah memaksa untuk menikah dengannya, apa kau pikir Steven akan menerimamu dan membuang Jessica demi dirimu. Tidak, dia tidak akan melakukan kebodohan dengan membuang batu berlian demi batuk kerikil sepertimu!!" Ujar nyonya Valerie panjang lebar.


"Ma, kenapa kau malah membela sepihak?! Aku dan Jessica sama-sama putrimu, tapi kenapa kau malah lebih memihaknya? Selama ini dia selalu mempermalukan keluarga kita, membuat onar dimana-mana sampai hamil diluar nikah. Apa kau melupakan semua perbuatannya di masa lalu?!"


"Cukup Jennie!! Kau tidak perlu mengungkit masa lalu lagi. Itu tidak akan ada gunanya. Jessica dan Steven sudah bahagia, sebaiknya jangan ganggu apalagi mengusik rumah tangga mereka berdua atau Mama tidak akan tinggal diam!!"


"Mama, kau sangat keterlaluan!! Aku membencimu!!" Jennie menyambar tasnya dan pergi begitu saja.


Nyonya Valerie menghela nafas panjang, Jennie memang tidak pernah berubah. Keras kepala, egois dan selalu ingin menang sendiri.


-


-

__ADS_1


"Mama!!"


Jessica membuka lebar-lebar kedua tangannya dan menyambut Aster ke dalam pelukannya. "Mama pergi kemana saja? Kenapa lama sekali?" Aster melonggarkan pelukannya dan menatap Jessica penuh tanya.


"Mama menemani papa menghadiri sebuah acara di kota Busan, Sayang. Kenapa? Apa kau merasa kesepian tanpa Mama?" Gadis kecil itu mengangguk.


Jessica tak jadi menitipkan Aster pada ibunya setelah dia mendapatkan kabar jika Jennie akan pulang. Dia khawatir wanita gila itu akan melakukan sesuatu padanya jika dia tau bila Aster adalah putrinya.


Jadi Jessica mempercayakan Putri kecilnya diasuh oleh Felix dan V, karena mereka berdua lebih bisa dipercaya untuk menjaga dan melindungi Aster.


"Papa bawakan sesuatu untukmu." Ucapkan saya menghampiri keduanya. Kemudian Aster menoleh. Matanya berbinar-binar melihat boneka Barbie edisi terbaru yang ada di tangan ayahnya.


Gadis kecil itu menghampiri Steven yang langsung berlutut di depannya. "Untukku?" Steven mengangguk. Aster tersenyum lebar."Huaaa... Ini sangat cantik, dan aku menyukainya. Terimakasih, Pa."


"Lalu mana pelukan untuk, Papa?" Aster merentangkan kedua tangannya dan langsung memeluk Steven. Lelaki itu tersenyum, dia menarik sudut bibirnya kemudian membalas pelukan putri kecilnya.


"Kapan kau membeli boneka itu? Kenapa aku bisa tidak tahu?"


"Bukan aku sendiri yang membelinya, tapi Sean. Aku meminta bantuan padanya." Jelas Steven.


Jessica mengangguk mengerti. Pantas saja dia tidak tahu, karena hampir seharian ini Steven ada bersamanya dan dia tak terlihat membeli apapun, termasuk boneka.


Kemudian Aster melepaskan pelukannya dan menemukan sebuah plester melekat disalah satu tulang pipi ayahnya.


"Pa, ini kenapa? Apakah ini sakit?" Aster menatap Steven dengan sendu.

__ADS_1


Lelaki itu menggeleng, lalu Steven menggenggam jari-jari kecil Aster dengan lembut dan hangat. Bibirnya mengukir senyum tipis. "Sama sekali tidak, Sayang. Lagipula luka sekecil ini bukan apa-apa untuk papa, dua tiga hari juga sembuh. Bisakah Aster menciumnya supaya lebih cepat sembuhnya?" Aster mengangguk. Kemudian dia mencium tulang pipi Steven yang tertutup plester.


"Nah sudah, pasti besok langsung sembuh." Steven tersenyum lalu menganggukkan kepala.


Monik dan anak-anaknya terlihat tidak suka melihat kebahagiaan keluarga kecil itu. Wanita itu menatap sini pada ketiganya, terutama pada Jessica. Tatapannya penuh kebencian dan dendam, ingin sekali Monik memberinya pelajaran, tapi sayangnya ia tidak bisa melakukan apa-apa mengingat jika rahasia besarnya ada di tangan wanita itu.


"Ma, sampai kapan kau akan membiarkan mereka berdua terus berkuasa di rumah ini?! Bukankah kau bilang kita adalah pemilik yang sebenarnya, kenapa tetap mereka yang paling berkuasa?!!"


Monik menoleh dan menata tajam putra bungsunya. "Mama juga tidak tau, dan bukan Mama yang mengatakannya tapi papamu!! Bahkan Mama sendiri tidak tahu di mana papamu sekarang, si brengsek itu pasti kumat lagi penyakitnya!!"


Monik hapal betul dengan penyakit lama suaminya. Ketika dia memiliki uang, Dastan bisa tidak pulang sampai berhari-hari. Dan dia baru pulang ketika uangnya sudah habis, dan hal itu terjadi hampir setiap hari. Mereka jatuh miskin juga karena kebiasaan buruk suaminya yang suka berjudi dan menghambur-hamburkan uang.


"Sebaiknya kita pergi saja, pemandangan menjijikkan seperti itu tidak perlu dilihat lama-lama."


Monik meninggalkan kedua putranya dan pergi ke kamarnya. Dia paling muak melihat kebahagiaan orang lain. Setibanya disana, Monik kebingungan karena lampu kamarnya tiba-tiba tidak bisa dihidupkan. "Ada apa ini? Kenapa lampunya malah mati?"


Sentuhan pada bahunya membuat perhatian Monik teralihkan. Wanita itu sontak menoleh dan...."KYYYAAA!!! SETAN!!" seorang pria berdiri dihadapannya dengan kedua sudut bibirnya tertarik keatas. Wajahnya bercahaya karena sinar Flash ponselnya. Akibatnya Monik pun jatuh tak sadarkan diri.


Dan teriakan kerasnya mengejutkan kedua anaknya. Takut terjadi apa-apa dengan ibunya, Anak-anak Monik segera pergi ke kamar orang tuanya. Mereka mendapati ibunya tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Tapi bukan itu yang membuat mereka terkejut, melainkan dua sosok di kamar ibunya.


"Se...Se...Setan!!!" Mereka sama-sama tak sadarkan diri. Dan siapa lagi setan yang dimaksud jika bukan Felix dan V. Mereka berdua mengerjai ketiganya habis-habisan.


Keduanya saling bertos ria. Tak cuma membuat mereka ketakutan saja. Tapi mereka juga mengambil uang milik Monik yang ada di dompetnya. Mereka juga tidak kau rugi, toh itu juga bukan uang Monik sendiri melainkan uang milik keluarga Nero.


"Hehehe... Malam ini kita bisa pesta lagi."

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2