
"Aku, adalah pemimpin dan pendiri organisasi Black Phoenix!!"
Kedua mata Jessica membelalak sempurna setelah mendengar apa yang Steven katakan. Ia mengangkat wajahnya dan menatap lelaki itu tak percaya. "Apa?! Jadi itu artinya kau adalah orang yang dijuluki sebagai Titisan Iblis?!" Seru Jessica.
Alih-alih sebuah jawaban, malah sebuah jitakan yang Jessica dapatkan. "Ngaco!! Kenapa kau percaya begitu saja pada rumor. Mereka hanya terlalu melebih-lebihkan saja. Lagipula aku tidaklah sekejam yang mereka katakan."
"Mana mungkin, dimana-mana mafia itu kejam, apalagi pemimpinya. Bukan hanya kejam saja, tetapi mereka juga tak berhati dan berperasaan.Jadi mustahil jika kau itu bukanlah mafia yang kejam dan tak berhati!!" Ujar Jessica menimpali.
Bagaimana bisa Jessica mempercayai perkataan Steven begitu saja. Karena setahunya, dimana-mana mafia itu kejam. Sekelompok manusia yang tak memiliki hati nurani, begitulah mafia yang dia tahu selama ini.
"Hn, tidak semua mafia itu kejam dan jahat. Satu di antara mereka juga ada yang baik dan memiliki hati nurani, predikat kejam yang melekat pada diri mereka adalah atas penilaian orang lain. Meskipun aku tidak bisa memungkirinya, jika tak sedikit dari kami adalah iblis yang berkedok manusia." Tutur Steven panjang lebar.
Ya, benar juga apa yang Steven katakan. Jika tak semua mafia itu jahat, salah satunya adalah lelaki itu. Seorang lelaki paruh baya yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya pada anak-anak jalanan yang terlantar. Dia meninggalkan dunianya yang gelap dan penuh pertumpahan darah demi anak-anak yang hidupnya kurang beruntung.
Tapi sayangnya lelaki itu paruh baya itu telah tiada, dia meninggal akibat penyakit kronis yang telah lama dideritanya.
"Ya, kau benar. Memang tidak semua mafia itu kejam dan jahat. Aku sudah pernah bertemu langsung dengannya, tapi sayangnya dia sudah lama tiada. Dia adalah seorang mafia berhati malaikat, dan sangat sulit sekali ditemui orang-orang seperti itu di dunia ini." Tutur Jessica seraya tersenyum hambar.
"Karena apa yang terlihat baik, belum tentu baik. Dan yang terlihat buruk, belum tentu buruk. Untuk itu kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari cangkang luarnya saja. Kita sudah hampir terlambat, sebaiknya segera bersiap. Aku akan menunggumu di bawah." Steven menepuk kepala coklat Jessica dan pergi begitu saja.
Blusss..
Rona merah muncul di kedua pipi Jessica, rasanya dia ingin sekali mengutuk Steven karena membuatnya seperti orang bodoh. Jika begini terus, bisa-bisa dia yang kalah dalam taruhan itu. Steven selalu memiliki cara untuk membuatnya merona.
Jessica akui, Steven memang berbeda. Apa yang tidak dimiliki oleh orang lain justru ada pada diri Steven. Mungkin saja dia yang kalah nantinya.
-
-
"Ini untukku?"
__ADS_1
Lelaki paruh baya itu mengangguk. Dia memberikan sebuah perhiasan pada Jennie. Perempuan itu benar-benar dimanjakan olehnya. Apapun yang Jennie minta, pasti dia memberikannya. Dan hampir setiap hari pria itu memberinya barang-barang mewah dan bernilai harga tinggi.
"Tentu saja untukmu sayang, jika bukan untuk kekasihku yang cantik ini lalu untuk siapa lagi?" Lelaki itu menarik dagu Jennie lali mengecup bibirnya.
Jennie tersenyum lebar. Dia memeluk lelaki itu dengan mesra seraya menatapnya manja."Daddy, kau memang yang terbaik dan tiada duanya. Aku semakin mencintaimu, terima kasih."
"Sama-sama, Sayangnya Daddy. Ayo, katanya kau ingin pergi jalan-jalan." Jennie mengangguk dengan antusias.
Baru juga mereka berdua hendak masuk ke dalam mobil, seorang wanita dan beberapa pria berpakaian formal mirip bodyguard menghampiri keduanya. Lelaki yang bersama Jennie terkejut bukan main, sedangkan Jennie yang tidak tahu siapa wanita itu hanya menatap bingung pada lelaki di sampingnya.
Tanpa mengatakan apapun pada Jennie, lelaki paruh baya itu menghampiri wanita yang baru saja tiba tersebut.
"Sayang, kenapa kau bisa ada di sini? Jangan salah paham dulu, aku dan wanita ****** itu tidak ada hubungan apa-apa. Dia yang ngotot dan memaksaku lebih dulu," pria itu mencoba memberikan penjelasan pada istrinya. Meyakinkan padanya jika dia tidak bersalah.
Mendengar cerita bohong pria itu tentu saja Jennie tidak terima. Bagaimana bisa dia melemparkan semua kesalahan padanya, dan mengatakan pada istrinya jika dialah yang bersalah. Jelas-jelas pria itu yang mengajaknya berhubungan lebih dulu.
"Yakk!! Kenapa kau malah menyalahkanku dan menjadikanku sebagai umpan untuk melindungi dirimu sendiri. Itu tidak benar, bukan aku tapi dia duluan. Dia yang memaksaku untuk menjadi sugar baby-nya. Bahkan dia mengatakan jika kau sudah tua, banyak keriput dan baumu tidak enak. Intinya kau tidak enak lagi digunakan!!" Jelas Jennie.
Wanita itu menghampiri Jennie dan langsung menamparnya dengan keras. "Dasar pelacu*!!! Berani beraninya kau menggoda dan menjebak suamiku. Berikan pelajaran pada ****** ini. Terserah mau kalian apakan dia. Kalian perk*sa bergiliran juga tidak masalah!!"
Jennie menggeleng. Dia mundur beberapa langkah ke belakang ketika pria-pria itu mendekatinya. Tidak bisa, dia tidak boleh sampai tertangkap dan ternoda lagi lalu kemudian hamil lagi. Jennie sudah bosan jika harus bolak-balik ab*rsi. Dia harus bisa kabur sebelum nasib buruk menimpanya.
"Yakk!! Wanita ******, jangan lari kau!!"
-
-
"What!! Jadi Mama botak?!"
Kedua pemuda itu memekik keras setelah melihat berita yang sedang trending di media sosial. Awalnya mereka memang tidak tahu apa alasan ibunya tidak pernah mau keluar dari kamar, mereka pikir karena wanita itu sedang kurang enak badan. Tapi ternyata karena botak.
__ADS_1
"WANITA ******, KELUAR KAU!!"
Dan teriakan keras itu mengalihkan perhatian keduanya. Kedua kakak beradik itu mengangkat wajahnya dan mendapati sang ibu berteriak mencari seseorang yang pastinya adalah Jessica. Keduanya bergegas berdiri dan menghampiri sang ibu.
"Mama," panggil salah seorang dari kedua pemuda itu. "Ada apa, Ma? Kenapa kau teriak-teriak begitu?"
"Dimana wanita itu dan kedua antek-anteknya? Mama mau memberi pelajaran pada mereka berdua!!" Ucapnya.
"Maksud, Mama?!"
"Kau anak kecil memangnya tau apa? Wanita jal*ng, keluar kau!! Aku akan membunuhmu!!" Bentaknya emosi.
Dan yang dia cari pun akhirnya menunjukkan batang hidungnya. Kedua anak Monik sampai tidak berkedip melihat bagaimana cantik dan anggunnya perempuan itu dalam balutan dress hitam berbahan brokat yang kontras dengan warna kulitnya yang seputih susu.
Jessica menghampiri wanita itu. Dia terlihat santai dan tak tampak tegang sama sekali. Baru saja Monik hendak membuat perhitungan dengannya. Tapi segera dihalangi oleh kedua anaknya.
"Mau apa kalian berdua? Kenapa kalian menghalangi Mama? Minggir!!" Bentak Monik.
"Ma, jangan Ma. Jangan apa-apakan Bibi Sica, dia itu tidak tau apa-apa."
"Mama bilang jangan ikut campur!!"
Jessica mendekati Monik lali berbisik sesuatu di telinganya. Membuat kedua matanya membulat sempurna. Jessica memamerkan sebuah seringai tipis dibibir merah mudanya. Sepertinya dia mengetahui sesuatu tentang Monik.
"Jadi jangan macam-macam jika kau tidak ingin rahasiamu sampai terbongkar!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1