Pengantin Pengganti Si Lumpuh

Pengantin Pengganti Si Lumpuh
Bab 35: Aku Benci Kalian


__ADS_3

"Sica, disini!!"


Seorang perempuan bertubuh mungil terlihat melambaikan tangannya pada Jessica saat melihat kedatangan wanita itu. Dia adalah Sunny, sahabat Jessica dan mereka berdua berencana pergi ke mall bersama-sama.


Keduanya kemudian berpelukan selama beberapa detik untuk saling melepaskan rindu, ini adalah pertemuan pertama mereka semenjak Jessica menikah dengan Steven.


Sebelum pergi berbelanja, ada baiknya jika mereka berdua mengisi tenaga terlebih dulu. Ini sudah menjelang jam makan siang, jadi tidak salah jika perut Jessica maupun sudah mulai keroncongan.


"Bagaimana kabarmu, Jess?" tanya Sunny.


"Seperti yang kau lihat, aku sangat baik."


"Apakah suamimu yang memperlakukanmu dengan baik? Dia tidak menindasmu bukan?" Sunny menatap Jessica dengan cemas.


Jessica menggeleng. "Memangnya siapa yang bisa menindasku? Apa mereka sudah bosan hidup, dan kau tenang saja, suamiku pria yang baik kok. Dia selalu memperlakukanku dengan baik dan hangat." Ujarnya.


Persahabatan yang diawali dengan permusuhan. Dulu ketika masih sama-sama duduk di bangku sekolah menengah awal. Jessica dan Sunny bermusuhan, tak ada sehari pun tanpa pertengkaran. Sunny dan teman-temannya selalu mencari masalah dan gara-gara dengan Jessica.


Dan entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba mereka bisa bersahabat baik. Rasa benci yang dulu sama-sama mereka rasakan satu sama lain, berubah menjadi rada sayang layaknya saudara. Meskipun pada kenyataannya mereka tidak memiliki ikatan darah sama sekali.


"Bos besar ingin makan disini, jadi segera siapkan meja khusus untuknya!!"


Kedatangan beberapa pria mengalihkan perhatian semua yang ada di cafe termasuk Jessica dan Sunny. Dari sikap, perilaku dan penampilannya. Sangat terlihat jelas jika mereka bukan orang baik-baik. Dan kedatangan mereka tentu saja mengusik ketenangan pengunjung yang lain.


BRAKK...


"APA KAU TULI?! BOS KAMI INGIN MAKAN SIANG DISINI, JADI CEPAT SIAPKAN MAKANAN TERBAIK DI CAFE INI!!"


"Ba...Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar." Ucap pemilik cafe terbata-bata. Terlihat jelas jika dia sangat ketakutan.


"Tunggu!!" Seru Jessica dengan lantang. Membuat langkah lelaki itu terhenti. Wanita itu menghampiri si pemilik cafe yang tampak ketakutan itu. "Kau tidak perlu menuruti permintaan mereka, percuma juga kau menyiapkan makanan terbaik disini yang tidak sedikit pastinya, karena mereka belum tentu mau membayarnya. Kau bisa mengalami rugi besar." Ujarnya.


"Tapi, Nona~!!"


Jessica menarik pemilik cafe itu untuk berdiri dibelakangnya. Jessica menghadapi para perusuh itu yang lebih dari lima orang. Mereka saling berhadapan. Si bos dari para berandalan itu lalu mendekati Jessica. "Berani juga kau ya, aku menyukai wanita tangguh dan pemberani sepertimu!!"


Wanita itu menyentak tangan lelaki yang hendak berbuat kurang ajar padanya lalu memelintirnya hingga terdengar suara mirip tulang retak. Teriak kesakitan pun seketika keluar dari bibir pria tersebut. "Aaarrkkkhhh... Sakit!!"


"Yakk!! Wanita sialan, apa yang aku lakukan pada bos kami?" Seru salah satu anak buah pria itu.


"Mulut kotor, tangan kotor. Enaknya diapakan ya?" Jessica berpikir, lalu pandangannya bergulir pada Sunny. Seolah-olah meminta pendapat darinya. "Kau memiliki ide?"


"Tentu saja punya. Sudah lama sekali aku tidak mematahkan anggota tubuh, leher terutama. Sepertinya mereka akan menjadi comeback pertamaku setelah sekian tahun tidak mengirim orang masuk rumah sakit," Sunny menyeringai.


"Kedengarannya sangat menarik," Jessica menyeringai.


Mendengar perbincangan Jessica dan Sunny membuat nyali mereka menciut. Yang tadinya garang dan sok berkuasa, seketika berubah menjadi seekor cacing tanah yang lemah tak berdaya. "Ti..Tidak jadi, kami tidak lapar. Ayo pergi,"

__ADS_1


Keduanya terkekeh. Seharusnya ada adegan menyenangkan sekarang, tapi sayangnya para preman itu hanyalah kumpulan pengecut yang hanya bermulut besar.


Baru saja Jessica hendak kembali ke mejanya. Kedatangan seorang pria paruh baya dan wanita yang usianya dua tahun lebih muda dari ibunya membuat seluruh perhatiannya teralihkan. Kebencian terlihat jelas dari sepasang biner Hazel-nya ketika menatap kedua orang itu.


"Sunny, kita pindah ke cafe lain saja. Aku kehilangan selera makanku disini," ucapnya.


Jessica menyambar tasnya dan pergi begitu saja. Bukan hanya kehilangan selera makan saja, tapi juga keinginannya untuk berbelanja pun sudah tidak ada lagi. Lebih baik dia pulang, kedatangan kedua orang itu membuat moodnya buruk.


-


-


Steven tiba di kediamannya dan mendapati Mansion mewah itu dalam keadaan sepi. Tak terlihat batang hidung Felix dan V, Jessica serta Aster. Begitu pula dengan istri dan anak-anak Dastan.


"Tuan Muda, Anda terluka?!" Paman Park menghampiri Steven dan terkejut mendapati lelaki itu terluka.


"Kenapa rumah sangat sepi, kemana perginya semua orang?" Alih-alih menjawab, Steven malah balik bertanya.


"Nyonya sedang pergi berbelanja, Nona kecil pergi dengan kedua pemuda itu. Sedangkan Nyonya Monik dan anak-anaknya pergi ke psikiater. Tuan Dastan ingin memastikan jika istrinya tidak gila." Jelas paman Park.


Steven memicingkan matanya. "Memangnya apa yang terjadi pada wanita itu? Apa dia gila?" Tanya Steven memastikan.


Paman Park menggeleng. "Saya sendiri kurang tau, yang saya dengar dari Tuan Dastan. Istrinya itu sering kali berhalusinasi dan mengatakan jika dia melihat ada hantu di rumah ini." Jelas paman Park.


"Hn, sepertinya otaknya memang tidak beres." Steven beranjak dari hadapan Paman Park dan pergi begitu saja.


.


.


Selain luka di lengan kiri atasnya. Ada juga luka di bawa mata kirinya. Bukan luka yang parah, hanya goresan saja.


Setelah membersihkan darahnya, lalu Steven membebat luka di lengan kirinya dengan perban. Sedangkan luka ringan dibawa matanya hanya dia tutup dengan plester luka.


Steven tidak mengerti. Kenapa orang-orang itu tak pernah puas mencari masalah dengannya. Padahal mereka tidak pernah bisa menang darinya.


BRAKK...


Dobrakan keras pada pintu sedikit mengejutkannya. Jessica masuk ke dalam dengan ekspresi yang kurang bersahabat. Steven yang penasaran lalu menghampiri wanita itu.


"Ada apa? Kau terlihat sangat buruk, apa sesuatu terjadi?" Tanya Steven.


Jessica mengangguk. "Aku melihat ayahku dan istri mudanya. Mereka berdua sangat memuakkan dan aku membenci keduanya."


"Kau melihat ayahmu?" Jessica mengangguk.


Membahas tentang ayah Jessica. Jujur saja Steven penasaran bagaimana ayah dan ibunya bisa berpisah. Namun setelah mendengar apa yang Jessica katakan, Dia sangat yakin jika perpisahan itu ditengarai oleh perselingkuhan. Ayah Jessica berselingkuh dan menghianati istri serta putrinya.

__ADS_1


"Melihat kebahagiaan mereka berdua membuatku ingin muntah. Rasanya aku ingin sekali menghancurkan kebahagiaan mereka!!" Wanita itu mengepalkan tangannya.


Kebencian Jessica pada ayahnya memang sudah mendarah daging. Apapun alasannya Jessica tidak akan pernah memaafkan kesalahan ayahnya, dia tidak mentoleransi namanya perselingkuhan.


"Ngomong-ngomong apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa terluka begini? Kau berkelahi?" Tanya Jessica memastikan.


"Hn,"


"Berhentilah menggunakan bahasa planet yang tidak aku mengerti!! Dan berbicara denganmu kadang kala membutuhkan mental dan kesabaran ekstra. Kau membuat moodku semakin buruk saja. Lebih baik aku tidur saja!!"


Steven mendengus geli. Wanitanya ini memang sangat unik, dia berbeda dengan kebanyakan wanita di luaran sana. Dan itulah yang membuat Steven jatuh cinta padanya. Jessica sangat unik dan juga Special.


-


-


"A..Ayang Titi, kau dimana, A.. Ayang? A..Ayang Wowo, mencari-cari mu."


"Ayang Titiku tersayang. Ayang Poci merindukan dirimu."


"Ka..Kau kabur ke luar negeri, de..demi bertemu o..oppa-oppa Korea tanpa memikirkan ba.. bagaimana perasaanku ini!!"


"Ohhhh... Ayang Titi, datanglah-datanglah. Ayang Poci merindukanmu."


Dua suami tampan Suketi alias Mr.Wowo dan Mr.Poci sedang frustasi mencari keberadaannya. Suketi tiba-tiba menghilang dan pergi meninggalkan mereka berdua. Hubungan yang sudah jatuh bangun, cerai-rujuk, cerai-rujuk kembali tak baik-baik saja. Karena Suketi kesal dan ngambek pada kedua suaminya itu.


Mata Mr.Wowo membulat sempurna saat tanpa sengaja dia melihat sosok yang sedang dia cari-cari itu sedang bersama dua pemuda yang sangat tampan.


"Ayang Titi!!" Seru Mr.Wowo.


Mendengar ada yang memanggilnya, lantas Suketi menoleh dan mendapati kedua suaminya sedang melambaikan tangan kearahnya. Bukannya menghampiri kedua suaminya, Suketi malah melengos pergi. Mr.Wowo dan Mr.Poci pun seger mengejarnya.


"Ayang Titi, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau kabur dan meninggalkan kita Berdua?" Tanya Mr.Poci.


"Aku sedang kesal pada kalian berdua. Ada gunanya memiliki suami yang tidak berguna, memiliki dua suami bukannya bisa diandalkan malah selalu bikin kesal. Aku minta skincare tapi kalian tidak mau membelikannya. Aku minta pelurus rambut, kalian juga tidak mau membelikan. Aku minta pemutih tubuh kalian malah membawakanku tanah liat, apa kalian pikir tubuhku perlu dipahat?!"


"Bu..Bukannya begitu, Sayang. Bukannya kami berdua tidak mau membelikannya untukmu. Tapi kami memang belum kerja, si tuyul disuruh ke bank juga tidak berangkat berangkat. Padahal bapaknya sedang membutuhkan uang."


"Alasan, aku marah sama kalian. Aku kesal sama kalian, aku keki sama kalian. Untuk itu jangan mencariku lagi, Aku benci kalian berdua!!"


"HUAAA... Ayang Titi jangan pergi!!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2