
Ibu dan anak itu tak berkutik sama sekali ketika polisi datang dan menggiring mereka ke kantor polisi. Pihak kepolisian menerima beberapa laporan dari para donatur yang memberikan sumbangan pada panti asuhan yang mereka kelola.
Keduanya menyalahgunakan uang yang diberikan oleh para donatur untuk anak-anak panti, dan uang-uang itu masuk ke dalam kantong pribadi mereka berdua.
"Kami tidak bersalah!! Kami hanya difitnah, jadi cepat lepaskan kami berdua!!"
"Diamlah, dan jelaskan nanti di kantor saja!!"
Keadaan anak-anak panti benar-benar miris. Beberapa diantaranya ada yang sampai mengalami gizi buruk.
Mereka tak terurus dan terawat karena semua uang yang diberikan oleh donatur mereka gunakan untuk berfoya-foya, bukan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak panti. Dan keberadaan mereka hanya sebagai kedok untuk ibu dan anak itu mendapatkan keuntungan.
Dan sekarang anak-anak itu berada di tempat yang tepat. Yakni disebuah pantai asuhan milik salah seorang konglomerat kota Busan, dan disana mereka akan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari panti asuhan yang sebelumnya.
-
Sebuah mobil mewah berhenti di halaman sebuah Mansion mewah yang memiliki tiga lantai. Terlihat sepasang suami-istri serta seorang gadis kecil keluar dari mobil tersebut.
Gadis kecil itu menatap bangunan megah yang berdiri kokoh dihadapannya dengan pandangan terkagum-kagum. Ini pertama kalinya dia melihat rumah sebesar dan sebagus itu. Si perempuan kemudian berlutut di depan gadis kecil tersebut.
"Sayang, mulai hari ini dan seterusnya kau akan tinggal disini bersama kami. Di rumah ini, Mama dan Papa akan selalu melindungimu. Tak akan kami biarkan siapa pun menyakiti dan melukai Aster lagi." Ucap wanita itu yang pastinya adalah Jessica.
Steven mendekati putrinya seraya tersenyum lembut. Kemudian lelaki itu membungkuk untuk menyesuaikan tingginya dengan Aster."Ayo kita masuk." Steven mengulurkan tangannya pada gadis kecil itu. Dan tanpa ragu, tangan mungil Aster menerima uluran tangan itu lalu Steven membawa putri kecilnya ke dalam gendongannya.
"Sungguh aku akan tinggal disini?" Aster menatap wajah sang ayah dengan tatapan bertanya. Memastikan jika yang Jessica katakan tadi bukanlah sebuah kebohongan.
__ADS_1
Steven mengangguk. "Tentu, Nak. Mulai hari ini sampai seterusnya kau akan tinggal dan tumbuh besar disini. Karena memang disinilah seharusnya kau berada,"
"Jadi benar aku akan tinggal disini?" Jessica dan Steven mengangguk serentak. Kemudian mereka berdua membawa Aster masuk ke rumah.
Sungguh tak pernah terpikirkan oleh Aster, jika sebenarnya dia memiliki orang tua yang kaya raya. Rumahnya bak istana seperti yang ada di negeri dongeng. Rumah yang selama ini hanya Aster lihat di televisi.
"Gembel dari mana yang kalian bawa pulang??!"
Langkah Steven dan Jessica terhenti mendengar seruan keras dari belakang. Terlihat Tuan Nero menghampiri keduanya. Melihat tatapan tajam lelaki paruh baya itu membuat Aster ketakutan. Bocah itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang ayah.
"Jaga mulut Anda!!" Jessica menyela cepat. Dia tidak terima putrinya disebut sebagai gembel oleh ayah mertuanya. "Dia adalah putriku dengan Steven, yang artinya adalah cucu kandung Anda!! Jadi jangan sembarangan menyebutnya!!"
"Apa? Anakmu dengan Steven? Bagaimana bisa kalian berdua memiliki anak sebesar ini, sementara kau dan dia menikah saja baru beberapa bulan. Oh... Atau jangan-jangan itu adalah anak harammu dengan pria lain, dan kau sengaja menggunakan si pecundang itu sebagai tumbalmu?!!" Sahut Nyonya Mona.
Jessica menghampiri ibu mertuanya itu dan langsung menamparnya dengan keras. Refleks, Steven membenamkan wajah Aster di pelukannya dia tidak melihat kekerasan yang dilakukan oleh Jessica. Tau jika pertengkaran tersebut akan berlanjut, Steven meminta salah seorang layan untuk membawa Aster pergi dari sana.
Jessica mencekik leger Nyonya Mona dan menghimpitnya di tembok. Membuat Tuan Nero seketika menjadi panik. "Jessica, apa yang kau lakukan?! Lepaskan tanganmu darinya!!" Pintanya menuntut.
Wanita itu menoleh dan menatap Tuan Nero dari ekor matanya. "Jangan ikut campur!! ini urusanku dan dia, sebaiknya Ayah tidak usah ikut campur!!" Jessica menyela ucapan ayah mertuanya.
Melihat tatapannya yang tajam, membuat nyali Tuan Nero langsung menciut. Bahkan dia tidak berani mengangkat wajahnya ketika melihat tatapan Jessica yang penuh intimidasi. Dia benar-benar seperti sedang uji nyali.
"Uhuk, uhuk!! Wanita gila, lepaskan aku!!" teriak Nyonya Mona menuntut. Namun tak dihiraukan oleh Jessica.
Tatapan wanita itu semakin tajam dan terlihat berbahaya. "Apa masih belum cukup pelajaran yang aku berikan padamu hari itu?! Atau kau memang ingin aku mematahkan seluruh anggota tubuhmu?! Dengar ya, dia memang anak yang lahir diluar nikah, tapi jangan pernah menyebutnya sebagai anak haram!! Karena anak itu adalah putri kandungku dengan Steven!!" ucapnya menegaskan.
__ADS_1
Memangnya Ibu mana yang terima anaknya disebut sebagai anak haram oleh orang lain. Dan sebagai seorang ibu, Jessica akan menjaga dan melindungi putrinya dengan nyawanya. Dan tak akan dia biarkan siapapun menyakiti dan menghinanya lagi, atau orang itu akan berhadapan langsung dengannya.
"Kau benar-benar iblis!!" nyonya Mona mengangkat tangan dan...
PLAKKK!!
Jessica menahan tangan Mona yang hendak menamparnya lalu mengembalikan tamparan itu padanya. Tak cukup satu kali saja, tetapi berkali-kali. Dan Dante yang melihat ibunya tengah disiksa oleh Jessica tak lantas diam begitu saja.
"Yakk!! Wanita gila, Apa yang kau lakukan pada ibuku?!" Dia hendak menghampiri Jessica namun di hentikan oleh Steven.
Steven mencengkram bahu Dante hingga dia tidak bisa bergerak sama sekali. "Jangan ikut campur, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Dan jika tidak ingin mendapatkan masalah, suruh ibumu menjaga mulutnya!!" ucapnya memperingatkan.
Diam saja bukan berarti Steven tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi melindungi istrinya. Dia tahu bila Jessica mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Selama itu tidak membahayakan nyawanya, Steven tidak perlu sampai turun tangan. Lagipula yang dihadapi hanyalah ibu tirinya yang licik. Yang jelas-jelas bukan lawan Jessica.
"Bagaimana aku tidak ikut campur!! Perempuan gila itu ingin membunuh ibuku, dan sebagai anak bagaimana aku bisa diam saja!!" Bentak Dante penuh emosi.
Tuan Nero pun segera mengambil tindakan. Dia mendekati Jessica dan langsung berlutut di depan kakinya. "Sica, Ayah mohon padamu. Lepaskan ibu mertuamu. Ayah tahu dia memang bersalah, tapi kau tidak perlu sampai membunuhnya!!"
Jessica menyeringai, entah ide gila apa yang dia miliki kali ini. "Oke, tapi aku punya satu syarat. Ceriakan dia dan usir wanita ular ini dari sini!!"
Sontak kedua mata Tuan Nero membulat sempurna mendengar permintaan gila menantunya. "APA?!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.