
"Surat wasiat ini sah Dimata hukum, dan kau tidak bisa merubahnya."
"Kau bajingan, Steven Nero!!" Tuan Nero yang terbakar emosi menyambar vas bunga yang ada diatas meja sampingnya berdiri lalu melemparkannya kearah Steven. Namun sayangnya vas itu berhasil ditahan olehnya, Steven tiba-tiba bangkit dari kursi rodanya dan itu membuatnya terkejut bukan main.
"Ja..Jadi, selama ini kau itu tidak lumpuh?!"
Steven menghampiri ayah dan ibu tirinya yang tampak syok setelah melihatnya bisa berdiri dan berjalan layaknya pria normal. "Bukankah ini adalah kejutan dan hadiah yang luar biasa, Papa? Sebagai seorang ayah, bukankah seharusnya kau merasa senang saat mengetahui jika ternyata putramu tidak lumpuh!!" Steven menyeringai.
Tuan Nero kemudian menghampiri Steven. Dengan gugup dia memegang bahu putranya tersebut. "St..Steven, ja..jadi kau sudah sembuh, Nak? Ka..Kau tidak lumpuh lagi?" Ia memastikan. "Hahaha... Papa bahagia sekali, Nak. Papa senang sekali akhirnya kau bisa berjalan lagi," Tuan Nero menambahkan.
Steven menatap sang ayah dengan pandangan meremehkan. Begitu hebat aktingnya, Tuan Nero bersikap seolah-olah dia sangat gembira setelah melihatnya bisa berdiri dan berjalan lagi.
"Sejak kapan? Sejak kapan kau bisa berjalan kembali?" Tanya Nyonya Mona.
Lalu pandangan Steven bergulir pada ibu tirinya. Dia menyeringai melihat wajah pucat si ibu tiri. "Sejak ibuku mati di tangan orang-orang yang tidak berhati!!" Jawab Steven menimpali.
Nyonya Mona terhuyung kebelakang setelah mendengar jawaban Steven. Itu artinya anak tirinya itu tidak pernah mengalami kelumpuhan, dan ada kemungkinan besar yang dia lihat malam itu benar-benar Steven. Saksi mata yang melihatnya menyingkirkan Kakek Nero, lima tahun yang lalu.
Wanita itu memang tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena suasana saat itu sangat gelap. Namun dia ingat betul dengan seringai dan kata-kata pria misterius itu. Tiba-tiba Steven menyeringai kearahnya, itu dia.. seringai itulah yang dia lihat malam itu.
Nyonya Mona terhuyung kebelakang sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Pura-pura pingsan lebih tepatnya. Ya, dia sedang cari aman, setidaknya untuk saat ini.
Dan pesta yang semula berjalan lancar tanpa ada hambatan, berakhir begitu saja setelah terjadi insiden kecil tersebut. Steven membubarkan pesta dan mengusir orang-orang itu untuk pergi dari rumahnya.
"Apakah pestanya sudah berakhir?" Steven mengangguk. "Huft, padahal aku masih belum puas sama sekali." Jessica mendesah kecewa.
"Tidak perlu bekecil hati. Masih ada hari esok, esoknya lagi dan seterusnya. Aku ada urusan penting, kau pergilah istirahat." Pinta Steven pada istrinya, Jessica mengangguk.
Kebetulan sekali dia memang lelah, kemana pun Steven pergi. Itu bukan urusannya. Jessica tidak peduli dan tidak mau tau dengan urusan suaminya itu.
__ADS_1
-
-
Seorang wanita terlihat memasuki sebuah rumah sakit umum yang terletak dipinggiran kota. Dia menghampiri seorang resepsionis lalu meletakkan sebuah tas yang isi di dalamnya penuh dengan uang.
"Nona, apa ini?"
"Aku ingin meng*gurkan janin di dalam perutku. Dan aku sudah membawa uangnya!!"
Resepsionis itu membulatkan matanya."Nona, apakah Anda yakin untuk melakukannya?! Kenapa Anda tidak mempertahankannya saja dan melahirkannya. Dan jika Anda tidak menginginkan bayi itu, Anda bisa memberikannya pada orang lain untuk diadopsi." Resepsionis itu memberi nasehat.
"Kau tidak usah menguruiku. Kau pikir dirimu siapa, cepat pertemukan aku dengan dokter yang bisa melakukannya!!" Pinta perempuan itu yang pastinya adalah Jennie. Jennie ingin mengg*gurkan janin di dalam perutnya.
Resepsionis itu menghela napas. "Baiklah, kalau begitu mari ikut saya." Dan dia pun tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan Jennie. Setidaknya ia sudah mengingatnya.
Dan jalan satu-satunya adalah dengan menggugurkan janin tersebut. Masa bodoh dengan dosa yang akan dia tanggung serta konsekuensi dari prosesi pengguguran itu sendiri, karena nyawanya yang menjadi taruhannya.
-
-
Steven mendatangi sebuah hotel dimana dia pernah melakukan sebuah kesalahan besar beberapa tahun yang lalu.
Masih belum ada kejelasan tentang siapa sebenarnya perempuan yang dia tiduri malam itu meskipun dia sudah menyelidiki dan mencarinya selama bertahun-tahun, dan dia ingin mencari tahunya sekali lagi
Saat itu Steven yang dalam pengaruh alkohol dan obat per*ngsang yang diberikan oleh teman-temannya membuatnya hilang kendali. Dia langsung menyerang seorang perempuan yang pada saat itu ada di tempat tidurnya, tanpa tau siapa perempuan itu sebenarnya.
"Bagaimana hasilnya, apa kalian sudah menemukan informasi yang aku minta?" Steven menemui salah satu pegawai hotel.
__ADS_1
Orang itu menggeleng. "Maaf, Tuan. Kami tidak bisa menemukan CCTV itu. Kejadiannya sudah lumayan lama dan kebetulan manager yang bekerja pada saat itu sudah berhenti. Dia berada di luar negeri dan kami tidak bisa menghubunginya."
Kenapa begitu sulit mengungkap misteri tiga tahun yang lalu. Bukan karena Steven ingin menikahi wanita itu sebagai bentuk pertanggungjawaban, tapi dia hanya ingin tau siapa perempuan itu agar bisa memberinya ganti rugi.
Tanpa sepatah kata pun. Steven meninggalkan hotel tersebut, dia sudah tidak memiliki urusan apapun lagi di sana. Karena Steven tidak bisa menemukan apa yang dia cari.
"Tuan Muda, Anda ingin kemana lagi setelah ini? Tanya Sopir yang mengantar Steven.
"Langsung pulang saja, aku lelah!!" Jawabnya dingin.
Sopir itu mengangguk paham. "Baik Tuan Muda."
-
-
Nyonya Valerie menatap Aster dengan sendu. Gadis kecil itu sedang tertidur pulas di tempat tidurnya. Dia membawa gadis kecil itu pulang ke rumahnya.
"Aster, maafkan Nenek karena belum bisa mempertemukanmu dengan ibumu. Nenek masih menunggu waktu yang tepat untuk mempertemukan kalian berdua. Karena saat ini ibumu sedang tidak ada disini,"
Aster adalah cucu kandungnya. Dulu dia yang memisahkan gadis kecil itu dengan ibunya sesaat setelah Aster dilahirkan. Dan Nyonya Valerie mengatakan pada putrinya jika bayi yang dia lahirkan tidak selamat. Tujuannya hanyalah satu, dia tidak ingin sang putri kehilangan masa depannya. Apalagi pada saat itu usianya masih belum genap 20 tahun.
"Tunggu sampai nenek benar-benar siap. Nenek pasti akan mempertemukanmu dengan ibu kandungmu."
-
-
Bersambung.
__ADS_1