Pengantin Pengganti Si Lumpuh

Pengantin Pengganti Si Lumpuh
Bab 12: Siapa Dia?


__ADS_3

Jessica melangkahkan kakinya memasuki area pemakaman, di tangannya menggenggam beberapa tangkai Lilly putih. Perempuan itu berhenti di sebuah makam mungil yang di nisannya tertulis nama 'Baby Valerie'


Perempuan itu terlihat berlutut kemudian meletakkan bunga yang ia bawa diatas pusara. Kedua mata Hazel-nya yang biasanya selalu terlihat dingin dan tegas tampak berkaca-kaca.


"Hai, Sweet heart. Bagaimana kabarmu hari ini, Nak? I'm sorry, karena mama baru sempat mengunjungimu." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Yang, itu adalah rumah peristirahatan putrinya yang meninggal sesaat setelah dia dilahirkan. Bahkan Jessica tidak pernah melihat seperti apa rupa dan paras bayinya, karena dia sempat mengalami koma selama dua hari pasca melahirkan.


Dan ketikan dia bangun, sang ibu memberitahunya jika bayinya telah tiada. Itu yang membuat dunia Jessica seakan runtuh pada saat itu juga.


"Nak, baik-baik ya di sana. Nanti mama akan datang lagi untuk mengunjungimu. Mama pergi dulu," Jessica mencium nisan itu sebelum melenggang pergi meninggalkan area pemakaman.


-


-


"Nenek, ini foto siapa? Kenapa mirip sekali denganku?"


Nyonya Valerie menghampiri Aster lalu melihat foto yang dia tunjukkan padanya. Ibu dua anak itu kemudian duduk dengan meletakkan gadis kecil bertubuh mungil itu dipangkuannya.


"Dia putri, Nenek. Namanya bibi Jessica. Ya, saat masih kecil dia memang sangat mirip dengan Aster." Jawab Nyonya Valerie.


"Lalu yang disebelahnya ini siapa? Dia juga sangat mirip dengan Bibi Jessica. Tapi lebih cantik bibi Sica,"


"Ini Bibi Jennie, saudara kembar bibi Sica."


"Lalu dimana dia sekarang?"


"Dia berada di luar negeri. Oya, Aster lapar tidak? Bagaimana jika Nenek membuatkan makanan special untukmu?" Usul Nyonya Valerie. Gadis kecil itu mengangguk antusias.


"Mau!!"


Nyonya Valerie tersenyum lebar. Dengan gemas dia menarik ujung hidung mancung Aster lalu mengangkat tubuh mungil gadis kecil itu.

__ADS_1


Dan ketika hendak meninggalkan kamarnya. Nyonya Valerie terkejut ketika berpapasan dengan Jessica di.depan kamarnya. Dia memang hendak menemui Nyonya Valerie.


"Ma, siapa dia? Aku tidak pernah ingat jika ada gadis kecil di rumah ini?" Tanya Jessica meminta penjelasan.


Dan ketika menatap wajah polos dan mata teduhnya, membuat perasaan Jessica seketika menghangat. Rasanya begitu familiar, padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya.


"Oh ini, namanya Aster. Dia anak yang berasal dari panti asuhan. Dan Mama membawanya mampir kemari setelah membawanya jalan-jalan." Jelas Nyonya Valerie, dia terlihat gugup.


"Begitukah? Sepertinya kau memperlakukannya dengan sangat istimewa, bahkan kau tak ragu membawanya memasuki area pribadimu yang sebenarnya sangat privasi," Jessica memicingkan matanya.


"Itu hanya perasaanmu saja. Sebelumnya Mama juga sudah pernah membawa anak dari panti asuhan lain ke rumah ini. Dan Mama juga memperlakukan mereka semua sama, tidak ada yang istimewa!!"


Jessica tak ingat jika ibunya pernah membawa pulang seorang anak dari panti asuhan ke rumah mereka. Tapi dia mengatakan ini bukan pertama kalinya. Sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakan oleh ibunya, dan Jessica perlu menyelidikinya.


"Sica, apa yang kau pikirkan?" Tegur Nyonya Valerie menyadarkan Jessica dari lamunannya.


Perempuan itu menggeleng. "Tidak ada, Ma. Oya, aku lapar. Aku rindu masakan mama makanya aku pulang hari ini,'


"Kebetulan sekali, Mama juga mau menyiapkan makan siang untuk Aster. Dan kebetulan sekali kalian berdua memiliki makanan kekuasaan yang sama."


Gadis kecil itu mengangguk setuju, kemudian ia menunjukkan foto masa kecil Jessica pada si empunya. "Bukankah wajah kita seperti pinang dibelah dua?" Jessica mengangguk membenarkan.


"Ya, kau betul sekali." Jessica tersenyum.


Dipandanginya wajah Aster cukup lama. Semakin dilihat semakin ia merasa begitu dekat dengan gadis kecil ini. Bahkan Jessica langsung menyayanginya. Dan jika saja putrinya masih hidup, pasti dia sudah usia Aster sekarang. Sayang sekali putrinya telah tiada.


"Sepertinya makan siangnya sudah siap, ayo kita turun."


Gadis kecil itu mengangguk. "Oke, Bibi."


-


-

__ADS_1


"ARRRKKHHHH..."


Jennie berteriak kencang ketika para tim medis mulai melakukan ab*rsi pada janin di dalam perutnya. Dia merasakan sakit yang teramat sangat luar biasa, sampai-sampai membuat Jennie ingin mati saja.


"AARRRKKHHH..."


Sekali lagi dia berteriak. Bahkan ketika tim medis sudah memberinya obat bius, namun rasa sakitnya masih begitu luar biasa. Tubuhnya dibanjiri keringat dan air mata mengalir dari pelupuknya.


Dan Jennie memilih merasakan sakit dari pada harus menanggung malu nantinya, apalagi jika sampai kehilangan masa depannya. Jennie tidak siapa dan tidak mau hal itu sampai terjadi. Dan disisi lain, karena dia belum siap menjadi seorang ibu.


-


-


"Kau darimana saja?"


Kepulangan Jessica di kediaman Nero di sambut oleh tatapan sinis ibu mertuanya. Bukannya menjawab pertanyaan Nyonya Mona, dia malah melewatinya begitu saja dan pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Dan sikap Jessica tentu saja memancing emosinya.


"Yakk!! Perempuan liar, aku sedang bertanya padamu dan kenapa kau malah mengabaikanku?! Dimana sopan santunmu pada orang yang lebih tua!!"


Tapp..


Jessica menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke belakang. Dia menatap ibu mertuanya itu dengan sinis. "Jadi kau tadi bertanya padaku, aku pikir kau bertanya pada tembok? Maaf, tapi aku tidak ada waktu untuk memberi penjelasan padamu. Selamat sore," Jessica melambaikan tangannya dan pergi begitu saja.


Sikap Jessica yang semakin hari semakin menjadi-jadi membuat Nyonya Mona terbakar emosi. Dia segera menyusul Jessica bermaksud untuk membuat perhitungan dengannya. Namun diluar dugaan, Jessica menarik kalung mutiaranya hingga benda berbentuk bulat itu meluncur bebas kebawah.


Kedua mata Mona membelalak sempurna, kakinya menginjak beberapa mutiara itu dan tergelincir turun. "Huaaaaa....!!!" Alhasil ia pun terjun bebas dari lantai dua. Tubuhnya menggelinding turun melewati setiap anak tangga.


Bukannya merasa kasihan, Jessica malah tertawa lebar. Perempuan itu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya di lantai dua.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2