Pengantin Pengganti Si Lumpuh

Pengantin Pengganti Si Lumpuh
Bab 24: Dalam Masalah Besar


__ADS_3

Kedua pemuda itu tak bisa menyembunyikan kekagumannya ketika melihat bagaimana megahnya bagian dalam Mansion milik mendiang kakeknya. Bagian dalamnya begitu mewah dan megah, bak Mansion di negeri dongeng.


Dengan tidak sabar, mereka berdua melihat setiap kamar dimension tersebut, begitu pula dengan pasangan suami istri yang merupakan paman Steven dan istrinya. Mereka mencari kamar mana yang nantinya akan ditempati.


Dan disaat mereka berempat sedang sibuk melihat di sana-sini, seorang kepala pelayan menghampiri keempatnya. Dia mengenali dua diantara keempatnya, itu adalah putra kedua mendiang tuan besar Nero dan istrinya.


"Tuan Dastan, Nyonya Monik. Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" Tegar lelaki yang telah beruban itu.


Sontak keempatnya menoleh. Salah satu dari putra Dastan dan Monik menghampiri Paman Park. "Yakkk!! Siapa kau?! Berani sekali kau berbicara tidak sopan pada calon pemilik baru Mansion ini!!" Teriak putra sulung pasangan tersebut.


"Benar, bersikaplah sopan pada Mama dan Papa. Karena dia adalah Nyonya dan Tuan besar di rumah ini. Dan kau!! Harus panggil kami berdua dengan sebutan Tuan Muda Yang Terhormat!!"


Paman Park menggeleng. "Maaf, tapi kalian tidak memiliki hak apapun disini. Rumah ini adalah milik Tuan Steven, dan dia adalah pewaris yang sah!!"


"Apa kau bilang? Milik si lumpuh itu?! Bagaimana bisa pria lumpuh dan pecundang seperti Steven menjadi pewaris dari seluruh kekayaan Nero yang tersisa. Aku adalah putranya, dan aku yang lebih berhak daripada bocah ingusan itu!!" Ucap Dastan menegaskan.


"Sudahlah suamiku, tidak perlu hiraukan dia. Ayo, sebaiknya kita cari kamar utamanya. Aku cuma mau kamar utama, dan kalian berdua... Kalian bisa memilih kamar manapun yang kalian inginkan. Dan kau!! Sebaiknya jangan banyak omong, kau itu hanya pelayan disini. Jadi jangan macam-macam dengan kami!!"


"Kalian berempat benar-benar dalam masalah besar. Sebelum terlambat dan kalian menyesal, sebaiknya segera tinggalkan rumah ini. Karena jika sesuatu yang buruk sampai menimpa kalian bertiga. Saya tidak bertanggungjawab. Karena saya sudah memberi kalian peringatan!!" Ucap Paman Park dan pergi begitu saja.


"Dasar pria tua menyebalkan. Memangnya siapa yang berani membuat kami dalam masalah, apa dia sudah bosan hidup?! Kami ini adalah penguasa!! Kak, ayo kita cari kamar kita." Ucap si bungsu.


Si sulung mengangguk. "Kau benar sekali, ayo." Begitu pula dengan pasangan Dastan dan Monik, mereka juga mencari kamar utama yang pastinya ada di lantai dua.


Tidak ada yang berhak atas kamar itu selain mereka berdua, karena mereka adalah pemilik Mansion yang sebenarnya. Begitulah yang mereka pikirkan, meskipun pada kenyataannya mereka semua tidak memiliki hak apapun atas Mansion tersebut.


-

__ADS_1


-


"Baiklah, aku akan segera pulang!!"


Steven memutuskan sambungan telfonnya. Dia baru saja dihubungi oleh paman Park. Paman Park memberitahunya tentang kedatangan pamannya dan keluarga kecilnya. Steven sudah tau jika mereka memang akan datang, tetapi dia tidak menduga jika mereka akan datang lebih cepat dari yang dia pikirkan.


Jessica menatap suaminya itu penuh tanya. Dia penasaran siapa yang menghubunginya."Siapa yang menghubungimu?" Tanya Jessica penasaran.


"Paman Park, dia bilang mereka sudah datang. Kita harus pulang sekarang,"


"Tunggu dulu!!" Seru Jessica. Lalu pandangannya bergulir pada Felix dan V."Kalian berdua bilang butuh tempat tinggal bukan? Banyak kamar kosong di rumah suamiku. Jika mau, kalian berdua boleh tinggal dan makan gratis disana. Tidak perlu meminta persetujuan darinya, Steven tidak akan keberatan. Dan kalian bisa mendapatkan mainan gratis disana!!" Jessica menyeringai.


Tetapi mereka tak langsung menyetujuinya. Felix dan V tidak berani mengatakan iya sebelum Steven dia mengijinkannya. Karena jika dia tidak menyetujuinya, bisa-bisa mereka berdua akan selalu merasakan hidup serasa di neraka setiap kali berhadapan dengan Steven nantinya. Dia terlalu mengerikan Dimata mereka berdua.


"Hn, turuti saja permintaannya." Ucapnya menimpali. Seolah mengerti apa yang mereka berdua pikirkan. Dan disisi lain, Steven tidak bisa menolak permintaan Jessica. Dia pasti akan menyetujuinya.


.


.


Kurang dari dua puluh menit, adalah waktu yang perlu ditempuh oleh Steven untuk tiba di kediamannya. Kedatangannya udah ditunggu-tunggu oleh paman Park yang sedari tadi berdiri di teras depan. Lelaki paruh baya itu menghampiri tuan mudanya.


"Tuan Muda, maafkan saya karena tidak bisa mengusir mereka keluar dari rumah ini. Tuan Dastan dan Nyonya Monik, mereka berdua mengambil alih kamar utama. Dan lagi-lagi saya tidak berhasil mencegahnya." Ucap pria itu penuh sesal.


"Paman tidak perlu minta maaf, masalah ini biar aku sendiri yang menyelesaikannya!! Orang-orang seperti mereka memang harus diberi peringatan keras!!"


Mana terima Jessica saat tau jika kamar utama yang sudah dia tempati bersama Steven selama berbulan-bulan direbut orang lain begitu saja. Kamar utama sudah menjadi hak paten miliknya, untuk itu dia tak membiarkan orang lain mengambilnya begitu saja.

__ADS_1


Sementara itu, keempat pria berbeda usia yang masih belum beranjak dari teras itu merasa was-was. Keempatnya sudah mengenal Jessica dengan sangat baik, terutama Felix dan V, karena tak hanya satu atau dua bulan saja mereka berdua menjadi anak buahnya.


"Gawat. Jika sang penguasa bumi sudah bereaksi, habis semua. Benar-benar akan terjadi masalah besar setelah ini," ucap V panik. Saking paniknya, sampai-sampai dia langsung terkenal pilek.


Mereka yakin sebentar lagi akan terjadi huru-hara di rumah ini. Dan peperangan antara dua penguasa bumi tak mungkin bisa terhindari lagi, yakni Jessica dan Monik.


BRAKKK...


Dobrakan keras pada pintu mengejutkan sepasang suami istri yang sedang berbaring di tempat tidur. Siapa lagi mereka berdua jika bukan Dastan dan Monik. "Yakkk!! Wanita lihat dari mana kau?! Berani sekali mengganggu kita berdua yang sedang istirahat!!"


Tak menghiraukan teriakan Monik. Jessica menghampiri pasangan suami istri itu lalu menarik mereka berdua turun dari tempat tidurnya.


"Keluar kalian dari sini, Siapa yang memberi ijin kalian untuk menempati kamar ini?! Kamar ini milikku dan Steven, jadi jangan sembarangan menempatinya tanpa ijin dariku!!"


"Kurang ajar, berani sekali kau berbicara tidak sopan padaku dan suamiku?!"


PLAKKK...


Jessica menahan pergelangan tangan Monik ketika dia hendak menamparnya lalu mengembalikan tamparan itu padanya sebanyak dua kali, hingga membuat pipi Monik memerah karena tamparan keras itu.


Melihat istrinya mengalami kekerasan dari orang asing, tak lantas membuat Dastan tinggal diam. Dia menghampiri Jessica dan hendak membalas Apa yang ia lakukan pada istrinya, namun kemunculan seseorang kamar itu menghentikan langkahnya. Kedua mata Dastan membulat setelah melihat siapa pria yang berjalan kearahnya tersebut.


"Se..Steven...?!!!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2