Pengantin Pengganti Si Lumpuh

Pengantin Pengganti Si Lumpuh
Bab 8: Hanya Menggoda


__ADS_3

Steven bangun di tengah malam dan kebingungan saat mendapati penerangan di kamarnya padam. Lalu pandangannya bergulir pada sebuah layar monitor yang menyala terang serta seorang gadis yang sedang duduk berhadapan dengan layar tersebut.


Lelaki berusia 25 tahun itu menyibak selimutnya kemudian menghampiri sosok perempuan itu yang terlihat begitu serius. Matanya memicing melihat layar monitor yang menyala itu dipenuhi tulisan-tulisan super kecil berwarna merah gelap.


Dan tanpa banyak penjelasan pun. Tentu saja dia tau apa yang sedang dilakukan si perempuan ini yang pastinya adalah Jessica. Dan yang menjadi pertanyaannya, sebenarnya apa yang sedang dilakukannya dan siapa target pembobolan tersebut.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Steven penasaran.


"Ini masih tengah malam. Kenapa kau bangun?" Bukannya sebuah jawaban. Jessica malah memberikan pertanyaan pada Steven.


"Aku terbangun karena haus, tapi malah mendapati penerangan di kamar ini malah mati. Sebenarnya perusahaan mana yang sedang kau bobol datanya?"


Jessica mengangkat wajahnya dan menatap Steven langsung ke dalam manik matanya. Gadis itu menyeringai, dan dengan entengnya dia menjawab...


"Perusahaan milik keluargamu. Bukankah kau bilang kau memiliki saham diatas 60%, aku hanya ingin memastikan itu benar atau tidak. Karena setahuku kau tidak pernah pergi ke kantor untuk bekerja, jadi sangat mustahil jika kau sampai memiliki saham sebesar itu di sana. Dan ternyata benar." Jawab Jessica dengan entengnya.


"Kau benar-benar mengerikan, Nona Valerie."


"Dan apa kau tau apa yang sudah aku dapatkan dari peretasan ini?!" Jessica mengangkat wajahnya dan menatap Steven yang berdiri tepat dibelakangnya. Lelaki itu menggeleng. "Penggelapan dana perusahaan yang tak sedikit jumlahnya. Dan dana-dana itu masuk ke dalam rekening pribadi milik ibu tirimu!!"


"Apa?!" Steven terkejut mendengar apa yang Jessica sampaikan. Gadis itu mengangguk lalu menunjukkan data-data tersebut pada Steven.


"Ini data-datanya, dan semua bukti penggelapan itu sudah aku salin. Kau bisa menggunakan ini sebagai senjata untuk menghancurkannya!!"


Steven menyeringai tajam. "Menarik, ternyata kau begitu luar biasa Nona. Kau benar-benar wanita yang tidak bisa diremehkan!"


Jessica bangkit dari duduknya lalu mendekati Steven. Dengan perlahan tapi pasti, Jessica menggerakkan jari-jarinya pada dada bidang Steven yang tersembunyi dibalik piyama tidurnya. "Kau masih belum mengenalku dengan baik, Tuan Muda Nero." Jessica menarik piyama Steven dan membuat hidung mereka saling bersentuhan.


Jessica menyeringai tipis melihat Steven mendekatkan wajahnya. Bukannya menyambut ciuman tersebut. Gadis itu malah meninggalkan Steven begitu saja, ternyata Jessica hanya ingin menggodanya saja. "Aku tidur dulu," ucapnya sambil melambaikan tangan.


Steven mendengus berat. Bagaimana bisa dia tertipu oleh perempuan ini. Semakin menarik dan semakin membuat Steven menginginkannya.

__ADS_1


-


-


"Dante!!"


Nyonya Mona memekik kencang saat membuka pintu kamarnya dan mendapati Dante tersungkur dibawah kakinya. Seharian penuh Dante tidak pulang, dan saat pulang dia malah dalam keadaan yang sangat mengenaskan.


"Dante, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau bisa jadi seperti ini?!" Tanya Nyonya Mona seraya membantu memapah Dante masuk ke kamarnya.


Nyonya Mona membaringkan Dante di sofa disudut kamar. Di dalam kamar itu tak ada orang lain karena Tuan Nero berada di luar kota. Nyonya Mona memberikan segelas air putih pada putranya tersebut.


"Sekarang cerita sama Mama. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kau bisa jadi seperti ini? Lalu pergi kemana saja kau sejak siang tadi?"


"Aku~!!"


Dante menggantung ucapannya saat teringat kata-kata Steven. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, maka artinya sama saja dengan bunuh diri. Nyawanya sedang diujung maut, jika dalam waktu dua hari dia tidak bisa mendapatkan penawar dari racun yang pasangan itu masukkan ke tubuhnya. Bisa-bisa Dante hanya tinggal nama.


Awalnya Dante ingin memberitahu ibunya melalui tulisan, namun tanpa sengaja dia menemukan sebuah camera kecil di sudut atas dilangit-langit kamar ini. Mereka berdua benar-benar mengawasinya secara penuh, hingga Dante tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya pada sang ibu.


"Aku bertemu dengan teman-teman lamaku, kami memutuskan untuk membuat pesta kecil-kecilan di bar milik temanku juga. Kemudian kami mabuk berat, setelah itu aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Tau-tau ketika aku bangun, sudah ada di dalam parit kering." Terpaksa Dante berbohong dan mengarang cerita, dia masih ingin hidup.


"Astaga!! Kau ini ya, apa kau tau di rumah Mama sangat mencemaskanmu. Ya sudah, sekarang istirahat saja."


Dante mengangguk. "Baiklah, Ma."


-


-


"Sepatu siapa ini?"

__ADS_1


Jennie yang baru kembali dan mini market kebingungan melihat sepasang sepatu milik perempuan ada di rak sepatu di depan pintu apartemen. Seingatnya itu bukan sepatu miliknya, dan ukurannya bahkan lebih kecil satu nomor dari miliknya.


Penasaran siapa yang datang ke apartemen milik kekasihnya, Jennie buru-buru masuk ke dalam. "Silvia, apa yang sedang kau lakukan disini?"


Pertanyaan itu mengalihkan perhatian perempuan bernama Silvia yang sedang duduk santai di depan televisi. Perempuan itu kemudian menoleh. "Oh, Jennie. Kau sudah pulang, kebetulan sekali. Ada yang ingin aku sampaikan padamu."


"Apa?" Tanya wanita itu penasaran.


"Aku dan Mike sudah jadian dan mulai hari ini kami akan tinggal bersama. Mike berpesan padaku supaya memberitahumu jika kau tidak dibutuhkan lagi olehnya, oleh karena itu dia memintamu untuk pergi dan angkat kaki dari apartemennya ini!!"


Mata Jennie lantas membulat sempurna. "Apa kau bilang?! Kalian sudah jadian dan Mike mengusirku keluar dari sini? JANGAN MENGATAKAN OMONG KOSONG!!" Jennie meninggikan suaranya diakhir kalimat. Wanita itu menatap Silvia dengan tajam. "Jangan mengatakan omong kosong!! Mike tidak mungkin mengkhianatiku. Dia itu mencintaiku!!"


Silvia mengangkat acuh bahunya. "Terserah kalau kau tidak percaya. Yang penting aku sudah memberitahumu yang sebabnya. Fine jika kau tidak mau pergi, biar Mike sendiri yang nanti menyeretmu keluar dari sini!!!"


-


-


Jessica mendorong kursi roda Steven menuju meja makan. Di sana sudah ada Dante dan Nyonya Mona. Tuan Nero sedang berada diluar kota sehingga tidak ikut sarapan bersama mereka berempat.


Tanpa menghiraukan dua orang yang sedang menyantap sarapannya. Jessica menempatkan Steven ditempat kepala keluarga, dan hal itu memancing emosi serta kemarahan Mona.


"Siapa yang memberimu ijin menempati kursi itu?! Itu adalah tempat kepala keluarga di rumah ini, dan tidak sembarangan orang bisa mendudukinya!!"


Jessica melipat tangannya dan menatap sang ibu mertua dengan sinis. "Ibu mertua, apa kau mulai amnesia ya? Steven adalah putra kandung Tuan Nero dan pewaris yang sah keluarga ini, jadi apa dia masih perlu ijin untuk duduk di tempat mana pun yang dia mau? Atau kau ingin supaya putramu yang duduk disini?! Jangan bermimpi!!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2