
Jessica membuka kelopak matanya yang masih terasa berat. Di luar sana sana sang surya telah merangkak naik menuju singgasananya. Burung-burung gereja yang bertengger di atas dahan pohon bercicit saling bersahutan menandakan pagi telah tiba.
Perempuan itu turun dari tempat tidurnya lalu berjalan keluar kearah balkon. Gaun tidurnya yang berwarna polos tertutup jubah lengan panjang bermotif bunga mawar merah menjuntai lembut ke lantai marmer berwarna hitam bercorak putih yang elegant.
Angin semilir membelai tubuh dan pakaiannya. Bayangan sinar mentari menerpa tubuhnya secara langsung tanpa terhalang oleh apapun. Ia nampak nyaman menikmati udara pagi sambil melihat orang-orang yang tampak sibuk dibawah sana.
"Cepatlah mandi, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu,"
Perhatian perempuan cantik itu teralihkan oleh suara dingin seseorang dari belakang. Jessica menoleh dan mendapati Steven yang sedang mengeringkan rambutnya sambil menatap kearahnya. Kemudian wanita itu beranjak dari balkon dan masuk ke kamarnya.
"Kau menyiapkan air hangat untukku?" Jessica menautkan alisnya dan menatap Steven tak percaya. "Hm, tumben kau baik. Apa pagi ini kau salah minum obat?"
"Kata-katamu terlalu menyakitkan, Nona. Seharusnya ucapan terima kasih yang aku terima, bukannya kalimat cibiran!!"
Jessica terkekeh. Dia tak merasa bersalah sama sekali meskipun telah menyinggung suaminya. Kemudian perempuan itu menghampiri Steven dan mencium singkat bibirnya Kiss Able-nya. "Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih dariku," ucapnya dan pergi begitu saja.
Steven mendengus dan menggelengkan kepalanya. Baru kali ini ada wanita yang berani bersikap kurang ajar padanya, dan anehnya dia tidak merasa tersinggung sama sekali. Bahkan ketika Jessica menyebutnya sebagai iblis. Sedikit banyak Steven mulai terbiasa dengan sikap bar-bar Jessica.
Setelah berpakaian lengkap, Steven melenggang meninggalkan kamarnya. Beberapa pelayan langsung membungkuk ketika berpapasan dengannya.
Mereka (para pelayan) yang dulu ikut membully dan bersikap semena-mena padanya. Kini menunduk takut setiap kali berpapasan atau melakukan kontak mata dengan Steven. Karena Steven yang sekarang bukan lagi si pecundang Lumpuh.
"Tuan Muda, ini teh Anda." Seorang pelayan menghampiri Steven sambil membawa secangkir teh untuknya.
"Tunggu!!" Pria itu berseru keras, membuat langkah pelayan itu terhenti di tempat. Kemudian dia menoleh namun tak berani membalas tatapan dingin Stevan. "Siapa yang memintamu menyiapkan teh hitam untukku?" Tanya lelaki itu.
"Tuan Besar, beliau bilang Anda menyukai kopi hitam. Jadi saya membuatkan teh hitam." Jawabnya.
Steven tersenyum meremehkan. "Benar-benar ayah yang baik. Ambil kembali teh itu, Aku alergi pada semua jenis teh."
__ADS_1
Pelayan itu membulatkan matanya. Dia terkejut mendengar ucapan Steven."Ma..Maaf, Tuan Muda. Saya sungguh-sungguh tidak tahu jika Anda alergi pada teh." Pelayan itu menunduk penuh sesal. Steven tak memberikan jawaban apa-apa, dia mengibaskan tangan kanannya mengisyaratkan supaya pelayan tersebut segera pergi.
"Berikan penawar racun itu padaku. Ini sudah lebih dari dua hari dan aku masih belum mendapatkannya!!" Dante tiba-tiba datang dan meminta penawar racun pada Steven.
Lantas lelaki itu mengangkat wajahnya dan menatap datar Dante yang sedang mengulurkan tangan padanya. Steven tersenyum meremehkan, Dante menautkan alisnya dan menatap Steven penuh tanya.
"Apa yang kau tertawakan? Apa kau pikir mempermainkan nyawa seseorang adalah hal yang menyenangkan? Aku tidak ingin berdebat denganmu, jadi cepat serahkan penawar racun itu padaku!!"
"Sejak awal tidak ada racun!!" Sahut seseorang dari belakang. Jessica menghampiri kedua lelaki itu lalu berdiri disamping Steven. "Yang disuntikkan padamu hari itu bukanlah racun, melainkan air teh. Dan jangan salahkan kami berdua, salahkan saja dirimu yang terlalu bodoh!!"
"Jadi kalian berdua hanya membohongiku saja?! Brengsek kalian, apa kalian sudah bosan hidup?!" Bentak Dante penuh emosi.
Steven menahan pergelangan tangan Dante yang hendak memukulnya. Mata hitamnya menatap lelaki itu dengan tajam penuh intimidasi. Membuat nyali Dante menciut seketika. Wajahnya menunjukkan kesakitan akibat cengkraman Steven pada pergelangan tangannya.
"Le..Lepaskan!!" Pintanya menuntut.
Steven melepaskan cengkramannya dan membiarkan Dante pergi begitu saja. Lagipula tak ada untungnya berurusan dengan biang onar seperti Dante. Lalu pandangan Steven bergulir pada Jessica. Menatap wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Steven mendengus berat. Dia malah ditinggalkan. Padahal Jessica yang mengajaknya, bukankah seharusnya mereka berdua harus jalan bersama?! Dan lagi-lagi Steven tidak bisa marah apalagi kesal pada perempuan itu, seolah-olah Jessica memiliki mantar untuk menekan emosinya.
"Kau sungguh tidak berhati, Nona. Kau yang mengajakku tapi kau juga yang meninggalkanku!!"
Jessica menatap Steven sekalian, dia memutar matanya malas. "Terserah!!" Tanpa menghiraukan Steven, Jessica masuk lebih dulu ke dalam mobil pria itu. Dan lagi-lagi Steven hanya bisa menghela napas seraya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.
-
-
"Apa?! Jessica sudah menikah?!"
__ADS_1
Pria itu menoleh dan menatap penuh selidik lelaki di depannya. Dia mendengar kabar bila Jessica sudah menikah. Satu tahun dia pergi ke luar negeri dan meninggalkan perempuan itu tanpa kabar, tapi saat dia kembali malah mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan.
"Itu benar, Sam. Jessica sudah menikah, dia menggantikan Jennie yang kabur ke luar negeri di hari pernikahannya sendiri. Intinya dia menikah bukan karena cinta, melainkan karena terpaksa."
"Kapan? Kapan dia menikah?"
"Sekitar dua Minggu yang lalu. Aku dengar jika suaminya adalah seorang yang lumpuh dan tak berguna. Orang-orang rumahnya selalu merundungnya dan menyebutnya pecundang. Dan karena alasan itulah Jennie membutuhkan kabur ke luar negeri."
Sammy menyeringai. "Jadi dia menikah tanpa cinta. Itu artinya aku masih memiliki peluang untuk kembali padanya. Lagipula kami dulu saling mencintai dan tak akan sulit untuk memulai kembali semuanya dari awal. Aku masih memiliki peluang besar." Ucapnya dengan penuh percaya diri.
"Cari tau dimana dia tinggal sekarang, maksudku rumah suaminya. Aku akan pergi kesana untuk menjemputnya!! Jessica, dia pasti akan sangat senang melihat kedatanganmu."
"Aku tidak menjaminnya, tapi kau boleh mencobanya!!"
"Baiklah, demi cinta aku pasti akan memperjuangkannya. Jessica, tunggu cintamu ini datang menjemputmu kembali!!"
-
-
Ting...
Pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya mengalihkan perhatian Steven. Dari Leon, dia mengirimkan sebuah pesan video. Tak ingin diselimuti rasa penasaran. Ia pun segera memutar video tersebut.
Kedua mata Steven membelalak sempurna setelah melihat video yang Leon kirim itu. Itu adalah potongan CCTV dari kejadian malam itu, empat tahun yang lalu. Namun bukan video itu yang membuatnya terkejut, melainkan wanita yang ada di dalamnya.
"Jadi benar, wanita yang aku perk*sa malam itu adalah Jessica!!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.