
Sepasang mata hitam itu membulat sempurna ketika melihat siapa orang yang berjalan menghampirinya. Orang itu 'Dastan' menunjuk Steven dengan telunjuknya, dengan kaku bibirnya berucap lirih memanggil nama lelaki tersebut
"Se...Steven~!!"
Yang dipanggil hanya menyeringai. Ketika jaraknya dan Dastan sudah semakin dekat, Steven mengangkat dan merentangkan kedua tangannya.
"Selamat datang, Paman. Maaf sekali, kami tidak menyambut kalian dengan baik. Karena kami memang tidak tahu jika kalian berencana pulang hari ini." Ucap Steven dengan seringai yang sama.
"Kau sungguh-sungguh Steven? Bukankah kau tidak bisa jalan dan hanya duduk di kursi roda? Lalu apa ini?" Tanya Dastan meminta penjelasan sambil menunjuk kaki Steven yang terlihat baik-baik saja.
"Benar sekali, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah bisa berjalan dengan normal lagi, bukankah ini hebat? Seorang lelaki yang telah lumpuh selama bertahun-tahun tiba-tiba bisa berjalan lagi dengan normal, bukankah ini adalah keajaiban Tuhan?"
"Hahaha...!! Benar sekali, benar apa yang kau katakan. Memang selalu memiliki rencana tersendiri untuk umatnya, dan jika Tuhan sudah berkehendak apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Termasuk aku yang akan menjadi seluruh pewaris dari kekayaan keluarga Nero!!" Ujar Dastan panjang lebar.
Steven tersenyum mendengar ucapan ayah dua anak itu. Entah apa yang sebenarnya dia rencanakan, sampai-sampai meskipun belum mengambil sikap apapun meskipun dia sudah tahu tujuan mereka datang ke rumahnya.
"Hm, begitu ya. Kenapa aku baru tau? Baiklah kalau begitu, silahkan kalian nikmati semua kemewahan di rumah ini. Dan untuk kamar ini, kalian bisa memilikinya. Aku tidak akan melarang kalian menempatinya apalagi mengambil kembali kamar ini." Ujar Steven.
Dastan dan Monik tersenyum mendengar ucapan Steven. Sudah mereka duga, jika Steven adalah seorang pecundang. Buktinya dia tidak melakukan perlawanan apapun meskipun tahu niat mereka tidak baik, bahkan dengan suka rela dia menyerahkan kamar utama pada Dastan San Mona.
Paman Park tampak terkejut mendengar ucapan Tuan mudanya, bagaimana bisa dia membiarkan mereka tempat untuk tinggal. Jelas-jelas Steven sudah tahu jika niat mereka tidak baik, Paman Park benar-benar tidak tahu apa yang sedang direncakan oleh Tuan mudanya.
Berbeda dengan paman Park, Jessica justru terlihat biasa-biasa saja. Dia tahu jika suaminya bukanlah orang yang bodoh, Steven pasti sudah memiliki rencana dan yang perlu dia lakukan hanyalah mengikuti rencana suaminya.
"Kalian istirahatlah, pasti kalian berdua lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Sayang, Kita juga harus istirahat." Objektif Steven, Jessica mengangguk. Keduanya kemudian meninggalkan kamar utama.
__ADS_1
Tiba-tiba Jessica menghentikan langkahnya dan menatap suaminya itu penuh tanya. "Apa yang sedang kau rencanakan sampai-sampai kau membiarkan mereka tinggal disini dan bersikap seenaknya. Dan jika kamar utama diambil oleh mereka, lalu kita berdua akan tidur di mana? Kamar tamu, rasanya itu tidak mungkin."
"Kau ini terlalu bawel, sebenarnya itu bukanlah kamar utama. Ayo, aku akan menunjukkan padamu kamar utama yang sebenarnya."
Jessica menawarkan alisnya. "Jadi Itu bukan kamar utama?" Steven mengangguk. "Tapi bagaimana bisa? Bukan sebelumnya kau mengatakan jika itu adalah kamar kita." Wanita itu menatap Steven penuh tanya. Dia membutuhkan penjelasan.
"Aku kan hanya mengatakan kamar kita, kamar utama. Dan aku jamin, kau akan jauh lebih menyukai kamar baru kita daripada kamar sebelumnya. Kamar itu ada di lantai 3, dan itu sangat spesial."
"Kalau begitu cepat tunjukkan padaku, jangan membuatku mati penasaran!!"
"Tentu, ayo ikut aku."
Steven membawa Jessica menaiki lift menuju lantai tiga. Dan wanita itu tak henti-hentinya Terkagum-kagum melihat kemewahan dan seberapa elegannya ruangan dilantai tiga. Ruangan itu memiliki dua kamar, mini bar dan ruang keluarga. Desainnya jauh lebih mewah dan elegan daripada lantai satu dan dua.
"Kenapa aku baru tahu jika di rumah ini ada ruangan semewah dan seelegan ini? Lalu dimana kamar utamanya?" Tanya Jessica penasaran.
"Lalu bagaimana dengan mereka berempat? Apa kau akan membiarkan mereka berkuasa dan bersikap semena-mena di rumah ini?"
Steven menggeleng. "Tentu saja tidak, kau tetap boleh bermain-main dengan mereka tetapi jangan langsung dieksekusi. Sejak kematian ibu dan anak itu sedikit banyak aku merasa bosan, karena tak ada lagi mainan yang bisa dipermainkan. Kau mengerti maksudku bukan?"
Jessica menyeringai tajam. "Ya, tentu saja aku mengerti. Memang tidak enak jika tidak menciptakan huru-hara dan membuat masalah dengan orang lain, lalu menciptakan perang dunia ketiga. Karena kau sudah memberiku ijin, maka aku tidak akan sungkan lagi."
-
-
__ADS_1
"Dastan, Dastan!! Cepat kemari!!"
Dastan berdecak sebal mendengar seruan keras istrinya. Dia sedang asyik menonton drama, tetapi wanita itu malah mengganggunya. "Ada apa, Sayang?" Tanya Dastan setibanya dia di kamar mandi.
"Aku sedang mandi dan mencuci rambutku, tetapi kenapa tidak ada air sama sekali? Bagaimana aku bisa membelah rambut dan tubuhku?" Seru Monik dengan kesal.
"Tunggu sebentar, aku akan bertanya pada orang-orang bodoh itu!!" Dastan meninggalkan kamarnya dan pergi keluar untuk meminta bantuan. Dan tanpa sengaja, dia melihat Jessica yang hendak menuruni tangga. Diapun langsung memanggilnya. "Hei kau, tunggu sebentar!!"
Jessica pun berhenti lalu berbalik badan. "Ada apa?" Tanya wanita itu tanpa basa-basi.
"Kran di kamar utama mati. Istriku sedang mandi, cepat tunjukkan bagaimana caranya supaya airnya bisa keluar!!"
"Oh jadi itu masalahnya. Sebenarnya itu masalah yang sangat gampang. Dan karena kalian mengambil kamar itu secara paksa, jadi mana kalian tau tentang kamar itu. Biar aku yang mengurusnya."kemudian Jessica melewati dan Dastan begitu saja dan masuk ke kamar lamanya.
Dastan menata punggung wanita itu yang semakin menjauh dengan tatapan tidak suka. Namun satu hal yang tidak biasa dari, bila Jessica mengukir senyum misterius disudut bibirnya. Entah apa yang sedang dia rencanakan sebenarnya.
Wanita itu tak masuk ke dalam kamar mandi dan hanya duduk cantik di bekas tempat tidurnya. Di tangannya menggenggam Sebuah alat kontrol berukuran dua jari orang dewasa. Jessica menekan salah satu tombol pada alat tersebut, dan dari dalam kamar mandi terdengar suara orang kesakitan dan terkejut.
"HUAAA...AAA...AAA!!!"
Mendengar teriakan istrinya, Dastan pun buru-buru masuk ke dalam. Dia melewati Jessica begitu saja dan mendobrak pintu kamar mandi. Setibanya disana, dia menemukan Monik yang terkapar tak sadarkan diri dengan rambut mengembang dan wajah gosong seperti terdengar listrik.
Dastan melirik ke luar, ke Jessica lebih tepatnya. Tangannya terkepal kuat, dengan lantang dia berteriak... "WANITA ******, APA YANG KAU LAKUKAN PADA ISTRIKU?!!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.