
Jessica menuruni tangga dengan langkah tertatih-tatih, ada rasa nyeri pada daerah kewanitaannya. Rasanya dia ingin sekali mengutuk Steven karena sudah membuatnya kesulitan berjalan pagi ini
"Ugghhh." Rintihan keluar dari sela-sela bibirnya.
Dari kejauhan tampak V dan Felix yang sedang berebut makanan di meja makan. Wanita itu mendengus berat. Tidak dulu, tidak sekarang, mereka berdua sama sekali tidak pernah berubah. Tetap saja seperti bocah dan kekanakan.
"Mona, dimana kau Sayang? Mona, jangan terus-terusan bersembunyi. Aku lelah jika harus terus-terusan mencari mu!!"
Perhatian Jessica, V dan Felix teralihkan oleh seruan keras itu. Ketiganya menoleh pada sumber suara dan mendapati seorang paruh baya berjalan seperti orang linglung seraya menyebut nama Mona berkali-kali. Dan siapa lagi pria itu jika bukan Tuan Nero. Ya, dia menjadi sakit jiwa setelah kepergian Mona.
Felix dan V menghampiri Jessica yang terus memperhatikan paruh baya itu. Keduanya sangat penasaran siapa pria itu sebenarnya."Nunna, siapa dia? Apa dia sakit jiwa?" Tanya V memastikan.
"Dia adalah ayah, Steven. Tuan Nero jadi seperti itu setelah Steven membunu* istri muda dan anak tirinya. Dia tidak bisa menerima kematian mereka berdua, lalu pikirannya terganggu dan akhirnya jadi seperti itu." Terang Jessica menuturkan.
"Tuan Muda Nero membunu* ibu tiri dan saudara tirinya? Bagaimana bisa dan karena apa?" Giliran Felix yang bertanya.
"Panjang ceritanya, dijelaskan pun kalian berdua juga tidak akan paham. Otak kalian kan lemot serta sulit menerima penjelasan yang rumit dan panjang lebar. Jadi lebih baik kalian tidak usah tau saja. Dan kau V, selamat atas kekalahanmu. Felix mendapatkan paha yang sedari tadi kalian rebutkan."
V membulatkan matanya. Benar, paha ayam. Kemudian dia menoleh dan mendapati Felix yang sedang menikmati paha ayam yang sedari tadi mereka perebutkan. V pun menjadi marah dan kesal.
"Yakk!! Kenapa kau malah memakan paha ayam itu sendirian dan tidak membaginya denganku?!" Seru V kesal.
Felix mengangkat bahunya acuh tak acuh."Hanya tersisa satu jadi untuk apa dibagi-bagi, lebih baik aku nikmati sendiri." Jawabnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"FELIX!!"
Jessica mendengus berat. Malas mendengar perdebatan mereka berdua yang tidak ada faedahnya sama sekali, lebih baik dia pergi ke dapur untuk menyeduh teh hangat. Dia bergumam di tengah langkahnya. "Dasar Upin-Ipin!!"
-
-
"Aku ingin kalian menculik wanita yang ada di dalam foto ini dan buang dia ke pulau terpencil!! Ini bayaran untuk kalian bertiga, sisanya setelah pekerjaan kalian selesai!!"
__ADS_1
Demi memisahkan Jessica dan Steven, Jennie sampai menghalalkan segala cara. Dia menyewa orang untuk menculik dan membuang wanita itu. Tujuannya tentu saja sangat jelas, yakin menggantikan posisinya.
Jennie tidak terima karena Jessica lebih beruntung darinya. Dia yang seharusnya bersanding dengan Steven dan menyandang status sebagai Nyonya Nero, bukan Jessica. Karena sejak awal dialah yang seharusnya menikah dengan Steven. Jessica hanyalah pengantin pengganti. Sudah seharusnya dia sadar diri. Begitulah yang Jennie pikirkan.
"Baiklah nona, kami akan segera memberimu kabar baiknya. Kalau begitu kami pergi dulu." Jennie mengibaskan tangannya mengisyaratkan supaya mereka segera pergi.
Di dalam mobil. Mereka bertiga membuka amplop coklat berisi uang dan beberapa lembar foto Jessica. Dan mata ketiganya membulat sempurna setelah mengetahui siapa orang yang menjadi targetnya.
"Omo!! Ini kan... Ketua!!!"
-
-
"Dimana , Tuan Mudamu? Kenapa dari pagi aku tidak melihatnya?"
Paman Park membungkuk melihat kedatangan Nyonyanya. "Tuan Muda sedang ada urusan di luar, dan kemungkinan beliau baru kembali sore nanti." Jessica mengangguk paham. Kemudian dia beranjak dan meninggalkan paman Park begitu saja.
Jujur saja dia merasa bosan sekali. Steven sedang tidak ada. Aster pergi jalan-jalan dengan Felix dan V. Monik yang bisa dikerjai malah mengalami gangguan mental setelah mengaku beberapa kali melihat hantu. Padahal di rumah ini tidak ada hantu sama sekali.
Tiba-tiba ponselnya berdering, mata Jessica memicing melihat nama orang yang menghubunginya. Penasaran kenapa orang itu menghubunginya. Jessica menerima panggilan tersebut. "Ada apa kau menghubungiku?"
"Ketua, gawat sekali!! Seseorang menemui kami dan meminta supaya kita bertiga menculikmu lalu membuangmu di pulau terpencil. Dan parahnya lagi kami sudah menerima bayarannya!!"
"Memangnya siapa yang menyewa kalian?" Tanya Jessica penasaran.
"Kami juga tidak tau. Tapi kami memiliki fotonya. Nanti kukirim fotonya padamu."
"Kirim sekarang!!" Pinta Jessica.
"Oke, Ketua. Sebentar,"
Tak lama berselang. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Jessica. Bukannya terkejut Jessica malah menyeringai tajam. "Ikuti saja rencananya. Manfaatkan dia dan ambil uangnya, kalau perlu kuras habis seluruh isi ATM-nya!! Aku memiliki rencana untuk menghadapi ular betina itu!!"
__ADS_1
Jessica akan mengikuti permainan Jennie. Bahkan dia sudah memiliki rencana yang sangat sempurna untuk membalas perbuatan saudari kembarnya tersebut. Jika Jennie bisa, lalu kenapa dia tidak?! Dan Jessica akan membuat wanita itu menyesal karena sudah mencari masalah dengan orang yang salah.
-
-
"Steven Nero. Apa yang bisa kau lakukan sekarang. Kau hanya sendirian, sebaiknya kau menyerah saja supaya proses pengeksekusianmu tidak terlalu menyakitkan!! Kau sudah terkepung!!"
Steven menyeringai sinis. "Memangnya atas dasar apa aku harus menyerah pada sampah?! Lagipula tak ada kata menyerah dalam kamusku. Dan kenapa kau begitu yakin sekali jika aku hanya sendirian saja? Lihatlah sekelilingmu, aku atau kalian yang terkepung?!"
Satu persatu anak buah Steven keluar dari persembunyiannya dan mereka semua bersenjata. Jumlah mereka bahkan lebih banyak dari orang-orang yang menghadang Steven.
"Sial, kau benar-benar licik!!"
"Banyak omong!!" Steven melepaskan tembakannya pada pria itu dan membungkam mulutnya untuk selamanya. "Habisi mereka semua dan jangan disahkan satu pun!!"
"Baik, Tuan!!"
Perkelahian pun tak bisa terhindari lagi. Anak buah Steven membant*i orang-orang itu dengan membabi-buta. Bahkan beberapa diantaranya kepal*nya hingga nyaris putus. Steven pun tak melewatkannya, dia juga ikut ambil bagian. Sedikitnya enak nyaw* yang melayang sia-sia di tangannya.
Berkecimpung di dunia gelap. Tentu bukanlah sebuah jalan hidup yang mudah. Hukum rimba begitu tegak berdiri dalam lingkup kehidupannya. Dia harus membunuh agar tidak terbunuh. Dan pertarungan pun berakhir, kemenangan berada di tangan Steven.
Maya*-maya* bergelimpangan dengan keadaan sangat mengenaskan. Bahkan beberapa diantaranya kepal*nya nyaris putus. Dan seorang pria dengan tatapan dinginnya berdiri di depan maya*-maya* tersebut
"Inilah akibatnya jika berani mencari masalah denganku!! Buang maya*-maya* ini ke jurang dan bakar hidup-hidup yang masih bernapas!!"
"Baik, Tuan!!"
Pria itu melenggang pergi. Teriakan memohon dari tiga orang yang tersisa itu pun tak dia hiraukan. Berani mencari masalah dengannya maka imbalannya adalah nyaw*!!!
-
-
__ADS_1
Bersambung.