Pengantin Pengganti Si Lumpuh

Pengantin Pengganti Si Lumpuh
Bab 7: Saat Kau Siap


__ADS_3

Dante terus meronta dan berusaha melepaskan ikatan pada kaki dan tangannya namun terlalu sulit. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat, suasana di dalam ruangan yang gelap dan pengap membuat Dante sangat-sangat ketakutan. Berbagai gambaran menyeramkan seolah-olah melintas di depan matanya.


Dengan menggunakan tubuhnya, Dante coba membuka pintu tersebut, namun tidak bisa. Pintu itu terkunci dari luar dan hanya bisa dibuka dari luar juga. Tak hanya ketakutan, tetapi Dante juga mulai kelaparan, sudah lebih dari 10 jam dia terkurung di tempat gelap ini tanpa makan dan minum.


Dalam hatinya, Danti terus memanggil ibunya agar datang menyelamatkannya, akan tetapi hal itu tentu tidak berguna sama sekali karena suara hatinya tak mungkin didengarkan oleh Nyonya Mona.


Dante tidak tahu mimpi buruk apa yang sedang menimpanya ini, sampai-sampai dia harus mengalami kesialan seperti ini. Berurusan dengan dua iblis langkah sembunyi di balik wajah malaikatnya.


Cklekkk...


Dan disaat Dante benar-benar sudah merasa frustasi, pintu tiba-tiba terbuka dan membuatnya seolah mendapatkan oasis di tengah gurun pasir yang tandus. sosok Jessica berdiri di hadapannya dengan tatapan dinginnya.


Kemudian Jessica mendekati Dante lalu membuka penutup mulutnya. "Aku akan melepaskanmu, tapi kau jangan macam-macam, apalagi berani mencari masalah denganku dan Steven. Jangan katakan apapun pada orang lain tentang yang kami lakukan ini, apalagi membocorkan pada orang lain jika sebenarnya Steven tidaklah lumpuh!!"


"Atas dasar apa kau melarangku memberitahu orang lain jika dia tidak lumpuh?" Dante menyela cepat.


Jessica memasukkan sebuah jarum suntik ke dalam sebuah botol kecil lalu memenuhi tabung suntik itu dengan cairan berwarna merah kehitaman lalu menyuntikkan pada lengan Dante.


Dante tidak bisa menolak apalagi menghalangi Jessica agar tidak menyuntikkan cairan yang tak dia ketahui itu ke tubuhnya karena tangan dan kakinya yang masih terikat.


"Kok bertanya atas dasar apa? Tentu saja atas dasar ini, aku baru saja memasukkan racun ke dalam tubuhmu. Dan racun ini akan bereaksi setelah dua hari. Jika dalam dua hari tapi kau tidak mendapatkan penawarnya, pasti kau ingin tahu apa yang akan terjadi? Kau akan gila, dan terparahnya kau akan mati!!" Jessica menyeringai lebar.


"Ka..Kau gila!! Cepat berikan penawar itu padamu!!" Pintanya menuntut.


"Tenang saja kau pasti akan mendapatkannya jika mau menurut padaku dan Jessica. Dan ketika kau sedang tidak sadarkan diri, aku memasang sebuah chip di pergelangan tanganmu. Dan chip itu terhubung langsung dengan ponselku, apapun yang kau lakukan dan apapun yang kau bicarakan,kami bisa mengetahuinya. Jadi jangan macam-macam pada kami!!"

__ADS_1


"Kalian berdua memang iblis, tunggu bagaimana aku nanti akan membalas kalian. Sekarang lepaskan aku dan biarkan aku keluar dari sini!!" Pinta Dante menuntut.


"Permintaanmu dikabulkan!!"


Jessica menarik Dante keluar dari ruangan tersebut lalu menyeretnya menuju balkon. Dante dipaksa naik keatas pagar balkon oleh Jessica namun dia menolaknya. Dante tidak ingin mati konyol.


"Bodoh, ini satu-satunya cara supaya kau bisa keluar dari sini tanpa diketahui. Ingat Dante Lim, jangan coba-coba membuat masalah denganku apalagi membuatku sampai marah. Kau tidak akan mati, mereka akan menangkapmu dan membantumu dibawah sana!!"


Kedua kaki Dante gemetar hebat. Jangankan untuk melompat kebawah sana, melihat sekilas saja sudah membuatnya mati kutu. Keringat dingin kembali mengucur, membasahi tubuhnya. Dante menggeleng, dia benar-benar tidak mau melompat.


"Keluarkan aku dari sini dengan cara lain, aku takut ketinggian. Aku mohon, hiks." Dia sampai menangis karena ketakutan.


Steven yang merasa muak segera menghampiri Dante dan mendorongnya. Tubuh Dante terjun bebas setelah mendapatkan dorongan dari Steven. Posisinya menghadap ke bawah. Dante menggeleng, dibawah sana beberapa pria mencoba menangkapnya yang masih diatas.


Gila, benar-benar gila. Steven mendorong Dante dari ketinggian 20 meter. Jika tangkapan mereka gagal, sudah bisa dipastikan Dante hanya tinggal nama.


Tubuh dan t mendarat dengan mulus di atas matras yang dipegang oleh empat orang pria. Dan ketika mereka hendak membantu Dante untuk turun, matras itu malah lepas dari pegangan salah satu dari mereka berempat. Alhasil tubuh Dante jatuh ketanah dengan pantat yang lebih dulu mendarat mulus.


Dan melihat Dante sudah mendarat dengan selamat, Jessica kembali ke dalam diikuti oleh Steven.


"Kau benar-benar gila, bagaimana jika tangkapan itu meleset atau mereka belum siap? Bisa-bisa Dante hanya tinggal nama!!"


"Sebenarnya aku ingin langsung membunuhnya, tapi aku rasa itu terlalu cepat dan kurang menyenangkan sama sekali. Lagipula aku muak mendengar ocehan-ocehannya yang tidak penting sama sekali. Dan dia selamat, apa yang perlu disesalkan? Kemarilah dan temani aku bersenang-senang,"


Steven mengulurkan tangannya pada Jessica. Pria itu terlihat membuka satu persatu kancing kemeja hitamnya, memperlihatkan singlet putih yang menjadi lapisan dalam kain berharga mahal tersebut.

__ADS_1


Jessica mendekati suaminya dengan membawa segelas anggur merah yang hanya tinggal seteguk. Tanpa ragu sedikit pun Jessica naik keatas pangkuan Steven. "Kau ingin permainan yang seperti apa? Hot, atau cool?" Jessica mengusap minumannya lalu membaginya pada Steven melalui bibirnya.


Melihat Jessica yang semakin berani membuat Steven semakin ingin mendapatkan lebih. Jari-jari besarnya dengan lihai membuka resleting pada dress hitam yang melekat pas di tubuh gadis itu. Bibirnya menyunggingkan seringai tipis.


"Aku ingin menikmatimu, Baby."


"Tapi ini tidak murah, kau harus memberikan 10% saham perusahaanmu padaku. Dan itu harus atas namaku!!" Bagaimana pun juga, Jessica tetap tidak mau rugi.


Steven mengangkat bahunya. "Bukan masalah. Aku memiliki 67%, dan akan kuberikan padamu yang 10%. Sepertinya kau benar-benar tidak mau rugi,"


"Tentu saja tidak, Aku tidak ingin melakukan apapun tanpa keuntungan. Kau mengerti bukan apa maksudku?"


Steven mengangkat dagu Jessica lalu mengecup singkat bibirnya. "Tentu saja aku tau. Tanpa kau meminta saham sebesar 10% padaku. Sebagian hartaku tetap akan jatuh ke tanganmu. Karena bagaimana pun juga kau adalah istriku yang sah. Berdirilah dan segera tidur."


Jessica menatap suaminya itu dengan bingung."Bukankah kau ingin bercocok tanam. Kenapa malah memintaku untuk tidur?"


"Aku tidak akan menuntut apapun darimu, apalagi itu masa depanmu. Sebangsat-bangsatnya diriku, aku tetap menghormati dan menghargai seorang wanita. Dan aku tidak akan menghancurkan masa depannya hanya demi nafsu sesaatku saja. Jika kau ingin melakukannya, nanti setelah kau merasa yakin untuk menyerahkannya padaku. Kau bisa datang padaku, dan saat itu aku akan menerimanya dengan senang hati."


Jessica terdiam mendengar ucapan lelaki di depannya ini. Meskipun berjuluk iblis, namun Steven masih memiliki sisi yang baik dalam dirinya. Dia begitu menghormati wanita, padahal ia dan dirinya sudah menikah dan sah dimata hukum. Akan tetapi Steven tetap tidak mau melakukannya karena dia tau jika dirinya masih belum siap.


"Tiba-tiba aku mengantuk, aku tidur duluan."


Buru-buru Jessica berbaring dengan posisi menyamping. Yang tertangkap oleh netra hitam Steven hanya punggung kecilnya. Steven tersenyum tipis, kemudian dia ikut berbaring disamping Jessica dan mulai menutup matanya. Dia lelah dan matanya tak bisa lagi diajak kompromi.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2