
"MONA!!!"
Steven mulai bosan mendengar teriakan keras itu. Sudah satu bulan pasca kepergian ibu tirinya, namun sang ayah masih belum juga bisa menerima kepergiannya. Bukannya merasa prihatin dengan keadaan ayahnya, Steven justru merasa puas. Karena memang itulah tujuannya membunuh Mona dan Dante.
Dia ingin agar ayahnya merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang-orang yang dia cintai. Dan selama bertahun-tahun, Tuan Nero membuatnya hidup dalam mimpi buruk yang tak berkesudahan. Karena Steven adalah satu-satunya selamat dalam kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
"Semakin hari dia semakin menjadi-jadi saja. Kenapa tidak kau masukkan saja dia ke dalam rumah sakit jiwa?"
Perhatian Steven teralihkan oleh kedatangan Jessica. Wanita itu terlihat memasuki kamar dengan membawa Aster yang terlelap dalam pelukannya. Jessica berjalan melewati Steven lalu membaringkan Aster di tempat tidur.
"Dia ketiduran?" Bukannya membalas ucapan Jessica, Steven malah mengalihkan pembicaraan.
"Ya, dia kelelahan ketika bermain dan ketiduran." Jawabnya menimpali. "Keadaan papamu semakin memburuk, Kenapa tidak kau bawa ke rumah sakit jiwa saja?" Jessica menoleh dan menatap suaminya.
Steven menutup bukunya lalu menggulirkan pandangannya pada Jessica. "Aku tidak ingin dia sembuh. Biarkan saja dia menjadi gila, karena memang itu yang aku inginkan. Membunuhnya tidak akan membuatnya tersiksa, bukankah lebih menyenangkan melihatnya tersiksa secara lahir dan batin?!"
"Kau memang gila, Tuan Muda Nero. Bukan, tapi benar-benar gila!!"
"Ya, kau benar. Dan dialah yang membuatku gila!! Sebaiknya persiapkan dirimu, dalam satu Minggu rumah ini akan kedatangan tamu yang tak diundang. Seperti Mona dan Dante, mereka juga suka membuat huru-hara dan keributan!"
Jessica memicingkan matanya dan menatap Steven penuh tanya. "Siapa?"
"Pamanku dan keluarganya. Mereka datang untuk meminta bagian dari semua aset kekayaan yang ditinggalkan oleh Kakek untukku!!"
"Apa mereka datang untuk menuntut haknya? Karena kau bilang semua harta milik kakekmu dia serahkan padamu?" Tanya Jessica penasaran.
Steven menggeleng. "Bukan, sebenarnya mereka juga sudah mendapatkan bagiannya. Tapi sayangnya semua warisan yang mereka dapatkan dari kakek telah habis untuk memenuhi gaya hidupnya. Mereka jatuh miskin, usaha yang dirintis bangkrut, rumah, mobil, dan seluruh kekayaan yang mereka miliki disita oleh bank karena tidak bisa melunasi hutang-hutangnya ketika sudah jatuh tempo." Jelas Steven menuturkan.
"Wah, kedengarannya sangat menarik. Rumah ini terasa hambar tanpa adanya orang-orang seperti itu, aku juga jadi tidak memiliki mainan untuk dipermainkan."
__ADS_1
"Wanita gila, tapi aksimu boleh juga dan aku merindukan saat-saat kau bertengkar dengan para pecundang tak berotak seperti Mona dan Dante."
Jessica terkekeh mendengar ucapan Steven. Bisa dikatakan jika mereka berdua adalah pasangan gila, sama-sama memiliki sifat Psycho dan tidak berhati. Kejam, dingin dan tak berperasaan. Begitulah sifat keduanya.
"Aster sedang tidur, aku mandi dulu."
Steven menarik lengan Jessica lalu menghimpit tubuhnya pada tembok. Seringai tipis tampak di sudut bibirnya. "Bagaimana jika kita mandi bersama? Bukankah sejak menikah kita tidak pernah melakukan hal-hal gila seperti pasangan suami istri pada umumnya, mandi bersama misalnya,"
Jessica mendorong Steven menjauh dan melepaskan diri dari kungkungan lelaki itu."Dalam Mimpimu!! Ingat Tuan Muda Nero, sejak awal hubungan kita tidaklah seintim itu. Kita menikah hanya untuk saling menguntungkan, jadi jangan berharap terlalu banyak dalam pernikahan ini. Meskipun sudah ada Aster diantara kita!!"
"Kau benar-benar wanita yang menarik, Nona Valerie. Semakin Kau menolakku, semakin besar keinginanku untuk memilikimu. 1000 kali kau menolakku, maka 1000 kali juga aku akan mengejarmu. Dan jangan panggil aku Steven Nero, jika tidak bisa menaklukanmu!!"
Jessica menghentikan langkahnya lalu menatap Steven dari ekor matanya, wanita itu menyeringati tipis. "Kita lihat saja nanti, aku atau kau yang akan kalah!!" Wanita itu melanjutkan langkahnya, dan sosoknya menghilang di balik pintu kamar mandi.
Sebuah tantangan yang sungguh menyenangkan. Dan Steven pasti akan memenangkan tantangan tersebut, karena dia bukankah tipe pria yang mudah menyerah. Dia akan memperjuangkan yang memang layak untuk diperjuangkan, Begitu pula dengan Jessica. Karena dia memang layak diperjuangkan.
-
-
Tak hanya apartemen yang Jenny dapatkan. Mobil mewah, perhiasan mahal, pakaian, tas dan sepatu bermerk. Kehidupannya benar-benar berubah 180°.
"Aku pikir Daddy tidak jadi datang," kedatangan pria itu disambut oleh sikap manja Jennie. Dia memeluk dan mencium bibir pria berusia akhir empat puluhan tersebut.
Pria itu memeluk tubuh ramping Jennie dan membalas ciumannya. Hanya ciuman singkat saja. "Bagaimana mungkin aku tidak datang ketika suka berjanji padamu, apalagi kau menjanjikan sebuah kenikmatan yang sangat luar biasa." Ucapnya.
"Malam ini Daddy akan menginap di sini?" Jennie menatapnya dengan penuh harap. Lelaki itu mengangguk. "Lalu bagaimana dengan istrimu? Apa dia mengijinkannya?"
Pria itu menggeleng. "Aku tidak peduli dengan wanita tua itu, dia sudah berkarat dan rasanya tidak enak lagi. Jadi siapa yang betah dengannya, apalagi bagian kenikmatannya tak pernah kering dan becek terus. Sangat-sangat menjijikkan!!"
__ADS_1
Jennie menyeringai. "Daddy sudah datang ke orang yang tepat. Hanya aku yang bisa membahagiakan Daddy, dan malam ini akan kuberikan surga dunia untukmu!!"
"Kau memang yang terbaik, Baby. Aku lapar, sekarang temani aku makan malam." Jennie mengangguk. Betulan sekali, dia juga sedang kelaparan.
-
-
Akhir pekan, adalah waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Seperti pergi jalan-jalan, berbelanja, apa hanya sekedar kumpul-kumpul saja di rumah.
Sesuai janjinya pada Aster, hari ini Jessica dan Steven mengajak gadis kecil itu pergi berbelanja ke mall. Jessica berencana membelikan putri kecilnya itu pakaian, sepatu, tas dan boneka.
"Ma, dimana Papa? Kenapa dia belum datang juga. Bukankah dia sudah berjanji akan menemani kita berbelanja hari ini?"
"Dia masih di dalam. Sebentar lagi juga keluar, Aster duduk dengan tenang disini ya. Mama akan masuk dan melihatnya," ucap Jessica dan kemudian dibalas anggukan oleh gadis kecil itu.
Belum sempat kamu buka pintu disamping kanannya. Orang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba juga, hari ini Steven terlihat berbeda dari biasanya. Dia memakai jeans hitam panjang, singlet putih yang dibalut vest V-neck berwarna mocca. Terlihat begitu cool dan err... Sexy.
Entah apa maksudnya Steven berpakaian seperti itu. Apakah ingin menarik perhatian Jessica atau karena hal lain. Yang jelas, style Steven pagi ini berhasil membuat pipi seorang Jessica Valerie memerah.
"Papa, kau sangat tampan. Aster menyukai style-mu ini." Ucap gadis kecil itu dengan polosnya.
Steven tersenyum tipis. Dia mengusap kepala Aster dengan lembut. "Terimakasih, Nak."
"Dan bisakah kita berangkat sekarang? Kau sudah membuat kami berdua menunggu terlalu lama, Tuan Muda Nero!!" Sahut Jessica menimpali.
Wanita itu membuang muka kearah lain, kemana saja asal jangan wajah tampan Steven. Dia tidak kau jika Steven sampai melihat wajahnya yang memerah. Bisa-bisa lelaki itu meledeknya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.