
"AARRRKKHHH..."
Jerit kesakitan menggema di dalam ruangan bernuansa putih-gold tersebut, tubuh lelaki itu dibanjiri keringat dan nafasnya tersengal-sengal. Rasa sakit yang luar biasa ia rasakan di bagian bawahnya, salah satu telornya pecah akibat ulah Jessica. Dengan sadisnya, gadis itu memecahkan telor milik Dante dan membuat senjata tempurnya layu seketika.
Tak cukup sampai disitu saja. Bahkan yang Steven lakukan tak kalah sadis dari apa yang Jessica lakukan. Pemuda itu mencekoki Dante dengan racun yang dapat mematikan syaraf pada lidahnya sehingga dia akan kehilangan kemampuan berbicaranya untuk sementara waktu.
Dante tak mampu berbicara dengan baik meskipun masih bisa berteriak dengan keras. "Da..Dasar Iblis!! Ka..Kalian berdua benar-benar pasangan iblis!!" Teriak Dante dengan suara terbata-bata, racun itu baru bekerja dan belum menunjukkan reaksinya.
"Berteriaklah sekuat yang kau mampu selagi kau masih bisa berbicara!!" Steven menyeringai sambil menepuk pipi Dante.
Semakin lama. Dante merasakan sesuatu yang tidak beres pada leher dan lidahnya, lidah dan lehernya serasa terbakar. Dan ketika dia hendak mengeluarkan suara, suaranya malah tidak mau keluar dan tenggorokannya terasa sakit seperti terbakar.
Bukannya merasa prihatin dengan kesakitan yang ditunjukkan oleh Dante. Steven dan Jessica justru menikmatinya, mereka begitu gembira melihat pria itu kesakitan, Steven terutama. Dia begitu menikmati ketika melihat Dante yang begitu tersiksa setelah racun itu bereaksi.
"Ada apa denganmu, Adik. Sepertinya kau memiliki masalah dengan tenggorokan dan lidahmu," Steven menyeringai.
Dante tak bisa menimpali apa yang Steven katakan. Jangankan untuk berbicara, bahkan ia tidak mampu untuk membuka mulut dan menggerakkan bibirnya. Racun yang Steven berikan benar-benar bereaksi dengan baik.
"Jangan hanya melotot saja, sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku? Atau mungkin kau ingin memakiku? Hahaha, ayo bicara jangan hanya menatapku saja!! Atau jangan-jangan kau mulai bisu ya?" Tanya Steven dengan seringai yang sama.
"Dasar pasangan Iblis!!" Pria itu berteriak dalam hati.
"Bagaimana jika kita membuat sedikit pertunjukan, bukannya dia sering mengunggah video ketika menyiksamu ke media sosial pribadi miliknya? Bagaimana jika kita lakukan hal yang sama, Tapi tentu dengan cara yang berbeda. Karena aku ingin semua orang menikmati dan menyaksikan keseruan ini!!" Jessica menyeringai tajam.
Steven memicingkan matanya. Sungguh dia tidak tau apa yang sedang direncakan oleh istrinya ini. Tapi kedengarannya lumayan juga, dan Steven penasaran dengan keseruan yang dimaksud oleh Jessica.
__ADS_1
"Tapi tentu saja kita tidak bisa pergi dengan keadaan seperti ini. Kau harus bertukar tempat dengan dia." Jessica menunjuk Dante."Dan supaya dia tidak bisa kabur. Kita perlu mematahkan salah satu kakinya!!"
Sontak kedua mata Dante membelalak sempurna mendengar ide gila Jessica. Apa dia benar-benar manusia atau bukan, bagaimana mungkin dia memiliki ide yang begitu gila?!
"Tidak perlu, caramu terlalu ekstrim. Cukup kurung dia di dalam ruangan gelap tanpa cahaya. Untuk saat ini, aku rasa itu lebih dari cukup!!"
Mendengar apa yang Steven katakan membuat keringat dingin mengucur deras dari kening Dante. Gelap adalah kelemahannya, dan mengurungnya di ruangan gelap sama saja dengan membunuhnya secara tidak langsung. Dibandingkan harus berada di tempat yang gelap tanpa cahaya, Dante lebih memilih dimasukkan ke dalam kubangan lumpur yang penuh dengan cacing tanah.
Steven melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Dante lalu mendorongnya masuk ke dalam sebuah ruangan tersembunyi yang berada dibalik sebuah lukisan. Ruangan yang memiliki luas 3X4 meter persegi, dan selama satu hari satu malam Steven akan mengurungnya di sana.
Brokk .. Brokk... Brokk...
Dante terus menggedor-gedor pintu dengan keras. Memohon supaya dia dikeluarkan dari ruangan gelap itu, namun sayangnya hal itu tidak dihiraukan oleh Steven dan Jessica. Tak ada yang bisa menolongnya, termasuk Mona dan Tuan Nero. Bahkan mereka tidak tahu dimana keberadaan Dante saat ini.
"Kenapa aku tidak pernah tahu jika ada ruangan tersembunyi di balik lukisan itu?!" Jessica menatap Steven dengan penuh rasa penasaran.
Pandangannya kembali pada Jessica."Kenapa hanya berdiri saja di sana? Kemarilah dan duduklah disini." Dia menepuk pahanya sendiri. Bukannya menuruti permintaan Steven, Jessica malah meninggalkannya begitu saja. Tak ada ketersinggungan meskipun Jessica menolaknya, Steven hanya terkekeh seraya menggelengkan kepala.
-
-
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif dan berada di~!!"
Mona memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Ponsel Dante tidak bisa dihubungi dan itu membuatnya cemas. Putranya itu menghilang sejak siang tadi dan belum juga kembali sampai sekarang, menjelang petang. Dan kepanikan Mona semakin meningkat karena ponsel Dante tak bisa dihubungi.
__ADS_1
Tuan Nero yang penasaran melihat kecemasan istrinya pun menghampiri Nyonya Mona dan bertanya apa yang terjadi. "Kenapa aku perhatikan dari tadi kau terlihat cemas dan gusar?" Tanya Tuan Nero.
"Dante menghilang dan belum kembali sampai sekarang. Ponselnya tidak bisa aku hubungi dan selalu berada di luar jangkauan." Jawab Mona menuturkan.
"Kenapa kau harus secemas ini? Bukankah sudah biasa dia pergi pagi dan pulang sampai pagi lagi?!" Tuan Nero memicingkan matanya.
"Memang, tapi biasanya tidak pernah sampai mematikan ponselnya. Dan sekarang ponselnya malah tidak aktif, bagaimana kalau terjadi apa-apa diluar sana. Atau mungkin ada orang-orang jahat dan membegalnya!!"
"Bisa jadi dia dihadang oleh orang-orang yang pernah di pandang sebelah mata olehnya lalu kepalanya di penggal dan jasadnya dibuang ke jurang!!" Sahut seseorang dari belakang.
Nyonya Mona menoleh dan menatap marah pada orang itu yang pastinya adalah Jessica. Sedangkan gadis itu menyeringai tajam."Bilang apa kau barusan?! Katakan sekali lagi biar kurobek mulutmu!!" Mona menghampiri Jessica dengan penuh emosi. Dia marah mendengar apa yang diucapkan oleh gadis itu.
"Ibu mertua, kenapa kau ini sensitif sekali? Yang aku katakan baru kemungkinan, kenapa reaksimu sangat berlebihan. Lagipula putramu itu kan memiliki mulut yang kotor dan berbisa, dia hobi menghina dan merendahkan orang lain. Bisa saja orang itu dendam lalu balas dendam dengan cara yang sadis,"
"Jangan menyebut putraku dengan kata-kata seperti itu. Kau tidak mengenal Dante dengan baik, dia adalah pemuda yang sangat baik dan selalu berbakti padaku dan ayah tirinya. Tidak seperti suamimu yang pecundang itu, bodoh dan tidak berguna!!"
Tangan Jessica terkepal kuat dan sorot matanya berubah tajam dan berbahaya. "Atas dasar apa kau menyebutnya bodoh dan tidak berguna?! Seperti kau yang tidak terima putramu disebut ini dan itu. Aku juga tidak terima jika suamiku dihina ini dan itu!!" Jessica mulai terpancing emosi.
Dan lagi-lagi Steven hanya melihat dan menikmati pertunjukan menyenangkan itu. Jessica berakting dengan sangat bagus, dia memerankan perannya begitu hebat. Dan mereka berdua bisa dijuluki sebagai pasangan iblis jika beraksi bersama-sama.
-
-
Bersambung.
__ADS_1