
Ckitttt...
Steven mengerem mendadak saat tiba-tiba seorang wanita muncul di depan mobilnya sambil merentangkan tangannya. Steven tidak tahu siapa wanita itu, dan apa maksud menghentikannya. Berbeda dengan Steven, Jessica mengenalnya, sangat-sangat mengenalnya malah.
"Apa wanita itu sudah gila?!"
"Dia tidak hanya gila, tapi benar-benar gila dan aku mengenalnya!!" Kemudian Jessica menoleh, tanya dan Steven saling bersirobok. Lelaki itu mengangkat alisnya dan menatap Jessica penuh tanya. "Dia adalah Jennie, wanita yang seharusnya kau nikahi!!"
"Dia saudara kembarmu?" Tanya Steven memastikan. Jessica mengangguk. "Tapi kenapa kalian terlihat berbeda? Bukankah kembar seharusnya memiliki wajah yang identik?"
Jessica mengangguk. "Ya, kau benar. Sebenarnya aku dan Jennie terlahir identik, tetapi lima tahun yang lalu dia melakukan operasi plastik karena tidak ingin memiliki paras yang serupa denganku. Sejak remaja hubungan kami memang tidak baik, bisa dikatakan aku dan dia seperti air dan api yang tidak pernah bisa bersatu." Ujarnya.
Di Mobil, mereka berdua asyik mengobrol. Sedangkan di luar, jennie terus mengetuk kaca di samping kiri Steven. Lelaki itu tak bereaksi sama sekali. Jangankan menurunkan kaca mobilnya, menoleh ke arah jenny pun tidak. Steven benar-benar mengacuhkannya.
Sementara itu, Jennie yang tidak terima diajukan pun tak tinggal diam. Dia mencari cara untuk mengalihkan perhatian mereka berdua. Wanita itu menyapukan pandangannya dan menemukan sebuah batu besar yang ada di tepi jalan lalu menghantamkan pada kaca mobil Steven.
Sontak keduanya pun menoleh, di luar Jennie sedang berteriak dan marah-marah. Bukan Steven yang keluar, melainkan Jessica. Jessica menghampiri Jennie dan langsung menamparnya.
"Yakk!!" Wanita itu berteriak sambil memegangi pipinya yang baru saja di tampar oleh Jessica. "Jessica, apa-apa kau~!!!"
Plakkk...
Sekali lagi Jessica menampar Jennie. Setiap kali Jennie hendak bicara, Jessica langsung menamparnya. Dan itu tak cukup hanya satu dua kali saja. "Apa kau sudah tidak memiliki etika lagi?! Membuat keributan dipinggir jalan apa menurutmu pantas?!"
"Diam kau, pelakor!! Masih memiliki muka untuk bicara kau rupanya setelah apa yang kau lakukan padaku?! Kau merebut calon suamiku lalu menikah dengannya. Aku tidak terima, sekarang kau harus mengembalikan dia padaku!!"
__ADS_1
Jessica memperhatikan sekelilingnya. Orang-orang yang ada di sana menatap sinis padanya dan saling berbisik-bisik. Sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Omong kosong apa yang kau katakan, kau menyebutku sebagai pelakor?! Kau sangat menyedihkan, Jennie. Dulu siapa yang menolak pernikahan itu dan memilih kabur ke luar negeri bersama pria lain. Lalu sekarang kau tiba-tiba datang dan menyebutku sebagai pelakor, aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu!!"
"Diam kau!! Justru kaulah yang mengatakan omong kosong, dia yang bersamamu dulunya adalah calon suamiku. Jadi dibandingkan dirimu tentu aku yang lebih berhak untuk bersamanya!!"
"Atas dasar apa kau mengatakan jika kau yang lebih berhak bersamaku dibandingkan Jessica?" Seru Steven. Terlihat pria itu keluar dari mobilnya dan menghampiri kakak beradik tersebut.
Melihat paras Steven yang tampan dan cantik, membuat Jennie tak berkedip sama sekali. Sungguh bodoh dirinya karena pernah menolak menikah dengannya. Mengabaikan Jessica, Jennie menghampiri Steven.
"Tuan Muda, Nero. Pernikahanmu dan Jessica tidak sah. Aku adalah mempelaimu yang sebenarnya, dan dia hanyalah pengganti. Jadi dibandingkan dia, aku yang lebih berhak dan lebih pantas bersanding denganmu!!"
Steven menyentak tangan Jennie dari lengannya dan menatapnya datar. "Boleh saja kau adalah calon mempelai yang sebenarnya. Akan tetapi aku tidak akan melepaskan sebuah berlian hanya demi batu kerikil, kau sendiri yang menolak pernikahan itu. Sudah tidak ada gunanya lagi kau mencoba kembali, semua sudah terjadi jadi terima saja kenyataannya. Sica, ayo pergi." Steven meraih pergelangan tangan Jessica dan membawanya meninggalkan Jennie.
Steven bukanlah orang bodoh yang akan melepaskan berlian hanya demi batu kerikil. Apalagi di hatinya sudah tersemat nama Jessica, jadi mana bisa dia melepaskannya dan bersama dengan Jennie.
Tubuh Jennie tersungkur ke trotoar jalan saat mencoba menghindar. Hampir saja dia dilindas oleh mobil Steven. Dia pun semakin marah dan Jennie benar-benar tidak bisa terima atas apa yang Steven dan Jessica lakukan padanya.
"Lihat saja, aku pasti akan memisahkan kalian berdua!!"
-
-
"Kenapa kita malah berhenti disini? Bukankah kau bilang ada acara yang harus kau hadiri?"
__ADS_1
Steven tak lantas menjawab pertanyaan Jessica, laki-laki itu turun dari mobilnya lalu duduk di kap depan yang kemudian diikuti Jessica dan wanita itu duduk disampingnya. Kemudian Steven mengeluarkan sebungkus rokok dan sebuah pematik dari saku celananya. Asap putih yang keluar dari sela-sela bibirnya mengudara kemudian hilang tersapu angin.
"Acara itu tidak begitu penting, aku berusaha datang hanya untuk menghargai orang yang telah mengundangku. Tapi setelah dipikir-pikir tidak ada gunanya juga berada di sana. Tidak ada yang istimewa, dan aku terlalu malas jika hanya berkeliling melihat lukisan-lukisan dari pelukis dunia yang terpajang didinding studio." Ujarnya panjang lebar.
"Kau sudah jauh-jauh kesini dan tidak jadi datang, lalu apa gunanya kita pergi kesini? Lagipula bukankah orang itu akan merasa kecewa karena kau tidak datang memenuhi undangannya?" Jessica menatap langsung ke dalam manik mata Steven.
Laki-laki itu menggeleng. "Tidak, karena dia sudah mengenalku dengan sangat baik. Dan dia juga tau jika aku bukanlah orang yang suka menghadiri acara semacam itu. Meskipun aku tidak pernah datang, tetapi dia selalu mengirimkan undangan setiap tahunnya." Ujarnya.
"Sepertinya kau dan dia memiliki hubungan yang sangat dekat. Apa dia seseorang dari masa lalumu? Hm, mantan kekasihmu misalnya." Jessica berkata dengan hati-hati. Dia takut jika perkataannya malam menyinggung perasaan Steven.
Steven menggeleng. "Bukan, tapi sahabatku. Satu-satunya orang yang mampu bertahan dengan pria dingin sepertiku. Aku belum pernah pacaran jadi mana mungkin memiliki mantan kekasih. Dan kau adalah wanita pertama dan satu-satunya yang datang dalam kehidupanku."
Blusss...
Rona merah muncul di kedua pipi Jessica setelah mendengar apa yang Steven katakan. Tak ingin Steven melihat wajahnya yang memerah, buru-buru Jessica membuang muka kearah lain.
Ucapan Steven membuat jantungnya berdebar tak karuan. Seorang pria dingin seperti Steven ternyata bisa menggombal juga, dan itu adalah sesuatu yang sangat langkah. "Omong kosong," Jessica menundukkan wajahnya.
Steven membuang puntung rokoknya yang hanya tinggal setengah lalu meraih tengkuk Jessica. Kedua mata wanita itu membulat saat merasakan sebuah benda lunak dan basah menyapu permukaannya. Matanya langsung bersirobok dengan mata Steven yang juga menatap padanya.
Perlahan tapi pasti Jessica menutup matanya begitu pula dengan Steven. Ciuman yang semula lembut berubah menjadi ciuman yang, sebelah tangan Steven berada di kepala belakang Jessica, sedangkan tangan satu lagi memeluk pinggang rampingnya dan membunuh jarak di antara mereka.
Sapuan lembut bibir Steven pada bibirnya membuat Jessica benar-benar terlena. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher Steven. Melihat usaha Stevan membuat Jessica akhirnya luluh, mungkin tidak ada salahnya memberikan kesempatan pada Steven.
-
__ADS_1
-
Bersambung.