Pengantin Pengganti Si Lumpuh

Pengantin Pengganti Si Lumpuh
Bab 36: Bahagia dan Sempurna


__ADS_3

"Sudah?"


Jessica melepas ikatan ditangan dan kakinya lalu bangkit dari posisinya. Ia dan ketiga anak buahnya telah sepakat untuk memberi pelajaran pada Jennie. Tentu saja mereka bertiga tidak terima karena Jennie ingin berbuat yang tidak baik pada Jessica.


"Sudah ketua, dan hasilnya sangat-sangat memuaskan." Leo menghampiri Jessica lalu menunjukkan hasil video dan foto yang dia ambil.


Jessica tersenyum puas. Dan dia sudah tidak sabar untuk mengetahui seperti apa reaksi Jennie setelah melihat foto dan video tersebut. Membiarkan dia bahagia sesaat sepertinya bukan hal yang buruk.


"Segera kirimkan foto dan video itu padanya. Jangan lupa minta sisa pembayaran kalian. Dan pastikan dia datang sendiri kemari mengantarkan uang itu. Aku ingin membuat kejutan kecil untuk kakak tercintaku."


"Baik, ketua!!"


-


-


"Baiklah, aku akan segera kesana!!"


Tanpa membuang waktu, Jennie bergegas pergi setelah mendapatkan telepon dari Leo. Leo mengatakan bila Jessica tak bergerak lagi, tapi dia dan kedua temannya tak berani memastikannya dan meminta Jennie memastikan sendiri.


Setelah dua jam berkendara, akhirnya Jennie tiba di sebuah pulau tak berpenghuni yang jarang sekali di kunjungi. Dan untuk tiba dipulau tersebut, Jennie masih harus menaiki kapal boat. Sepuluh menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai di pulau itu dari daratan.


Wanita itu sedikit merinding melihat bagaimana suasana di pulau yang hampir seluruh bagiannya hanyalah pohon-pohon rindang dan semak-semak belukar. Meskipun ini masih siang, tapi suasananya sangat-sangat menyeramkan karena cahaya gak bisa masuk terhalang oleh pohon-pohon tinggi menjulang.


Dan satu-satunya bangunan yang ada di pulau itu adalah bangunan tua yang berada di tengah hutan. Jennie tiba disana setelah berjalan kurang lebih dua puluh menit.


"Nona, kau sudah datang? Kami sudah menunggumu sedari tadi." Ucap Leo menyambut kedatangan Jennie.


"Ini sisa uang kalian. Dimana wanita itu?"


"Dia ada di dalam dan sedang dalam keadaan tak bergerak sama sekali. Kami takut memeriksanya."

__ADS_1


"Dasar penakut. Biar aku saja yang memeriksanya!!" Jennie meninggalkan ketiga pria itu dan masuk ke dalam . Namun setibanya di dalam dia tidak menemukan Jessica. Ruangan itu dalam keadaan kosong.


Cklekk..


Suara pintu ditutup mengalihkan perhatiannya. Jennie menoleh dan matanya membelalak melihat Jessica yang sedang melambaikan tangan. Wanita itu pergi bersama ketiga pria tersebut. Jennie berlari dan berusaha mengejar mereka, namun pintunya tidak bisa dikunci.


Tak kehabisan akal. Jennie keluar dari jendela. Dia tidak mau jika harus ditinggalkan di pulau sendirian. Namun sial, mereka meninggalkan Jennie sendirian di pulau itu. Boat yang dia pakai tadi pun dibawa pergi oleh mereka.


"Aaarrkkkhhh!! sial!! Kenapa malah aku sendiri yang terjebak disini?!" Jennie mengumpat marah.


Jennie mengeluarkan ponselnya dan mencoba mencari bantuan. Tapi sial, tidak ada sinyal sama sekali dan itu membuatnya frustasi. Wanita itu memperhatikan sekelilingnya, suasana dipulau itu benar-benar sangat menyeramkan. Jennie ketakutan setengah mati.


Samar-samar dia mendengar suara dan langkah yang mendekat kearahnya. Jennie menoleh. Kedua matanya lagi-lagi membelalak melihat seekor harimau mendekat kearahnya. Harimau itu membuka lebar-lebar mulutnya seraya melompat kearah Jennie dan..


"Aaahhhh... Tolong... Tolong..."


Dia menerka* Jennie dan mulai mencabik-cabik kulit dagingnya. Dia terus berontak dan berteriak. Sekujur tubuhnya penuh luka dan darah. Jennie terus berteriak sebelum akhirnya harima* itu menerka* di bagian lehernya. Jennie pun meregang nyawa dengan begitu mengenaskan.


Harimau itu lalu menyeretnya ke dalam hutan untuk kemudian dibagi pada anak-anaknya. Akhir hidup yang begitu mengenaskan, dan siapa yang tau akan takdir Tuhan. Dan mungkin saja itu adalah hukuman untuk semua perbuatannya selama ini.


-


-


Monik terus berteriak. Dia menolak untuk dibawa ke rumah sakit jiwa oleh suaminya. Dokter menyarankan supaya Monik di rawat saja. Dan Monik yang merasa jika dirinya tidak gila tentu saja menolak. Tapi Dastan tak menghiraukannya dan tetap membawa Istinya itu ke rumah sakita jiwa.


Bukan hanya Monik saja. Tapi Tuan Nero juga, dia sudah tidak tertolong lagi dan memang harus di rawat.


"Sepertinya kau sangat menikmati pemandangan dibawah sana." Sepasang tangan memeluk Jessica dari belakang. Wanita itu menoleh dan tersenyum lebar. Sebuah ciuman mendarat pada bibir ranum tipisnya.


"Ya, sekarang kita bisa hidup tenang tanpa gangguan lagi." Ia kemudian menyandarkan kepalanya pada dada bidang Steven.

__ADS_1


"Kau bahagia?"


"Tentu saja bahagia, akhirnya aku bisa menemukan ketenangan dalam hidupku. Tak ada gangguan dari orang-orang menyebalkan itu lagi, sekarang aku bisa merawat dan membesarkan putriku dengan tenang." Tuturnya.


Steven melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Jessica. Posisi mereka saling berhadapan. Steven membelai wajah cantik istrinya seraya tersenyum lembut. Lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Kau adalah sumber kebahagiaanku, Sica. Kau dan Aster adalah harta paling berharga yang aku miliki. Aku pasti akan selalu menjaga dan membahagiakan kalian berdua. Karena kalian adalah segala-galanya bagiku."


Jessica tersenyum lembut. Dia menangkup wajah Steven lalu mengecup singkat bibirnya."Kau juga, kau adalah orang yang paling penting dalam hidupku. Terimakasih telah mengajarkan apa makna cinta yang sebenarnya padaku. Aku bahagia memiliki suami sepertimu."


Steven menarik tengkuk Jessica dan mencium bibirnya. Baru juga akan melakukan French Kiss, tiba-tiba Aster datang dan membuat mereka berdua mengakhiri ciumannya. Buru-buru Jessica mendorong tubuh Steven menjauh lalu dia menghampiri putri kecilnya.


"Mama sama Papa sedang apa? Apa aku mengangguk kalian?" Gadis kecil itu menatap keduanya bergantian.


Jessica menggeleng. "Tidak, Sayang. Tidak sama sekali. Ada apa kau kemari?"


"Ini untuk Mama dan Papa. Nenek bilang Aster harus memberikan bunga ini pada kalian berdua dan memohon supaya kalian tidak membuat dedek bayi. Supaya kasih sayang kalian hanya tercurah padaku saja."


Jessica dan Steven saling bertukar pandang. Lalu keduanya sama-sama menatap pada gadis kecil itu. Jessica menggeleng, begitupun dengan Steven. "Tidak, Sayang. Memang belum saatnya kau memiliki adik. Dan kau saja sudah cukup bagi Mama dan Papa." Steven menepuk kepala putrinya.


Aster tersenyum lebar lalu berhambur ke pelukan ibu dan ayahnya. "Aku sayang sekali pada Mama dan Papa,"


"Kami juga sangat menyayangimu, Nak."


Dari bawa, Nyonya Valerie memperhatikan pasangan itu. Melihat kebahagiaan putri dan cucunya membuatnya ikut bahagia. Meskipun pertemuan mereka terlambat. Setidaknya Aster mendapatkan kebahagiaan dan tumbuh ditengah-tengah keluarga yang utuh dan sempurna.


Cukup putrinya saja yang merasakan pahitnya tumbuh di tengah keluarga yang tidak utuh lagi. Dan sesakit apapun dia karena penghianatan suaminya. Tapi Nyonya Valerie sudah menerimanya. Karena artinya ia dan mantan suaminya itu memang tidak ditakdirkan berjodoh.


Nyonya Valerie meninggalkan kediaman Nero. Hari ini dia akan terbang ke Eropa untuk berlibur. Selama satu bulan dia akan berada disana, melupakan sejenak semua masalahnya. Dia sudah semakin tua, menyenangkan diri sendiri sesekali tidak ada salahnya.


-

__ADS_1


-


The End


__ADS_2