
"Gabriel, siapa dia? Kenapa kau membawa pulang wanita asing ke rumah ini?"
Seorang wanita bertanya pada dokter Gabriel ketika melihatnya pulang dengan membawa wanita asing ke rumah mereka. Dokter Gabriel pun menjelaskan.
"Oh, ini. Namanya Jennie, dia adalah salah satu pasienku di rumah sakit. Dan untuk sementara waktu dia akan tinggal di sini bersama kita, setidaknya sampai dia mendapatkan tempat tinggal."
"Aku tidak setuju!! Apa kau pikir rumah ini adalah panti sosial?! Dia masih muda dan seharusnya bisa berusaha sendiri, bukannya malah mengandalkan bantuan dan belas kasihan dari orang lain!! Lagipula masih banyak tempat yang bisa dia jadikan tempat tinggal, Kenapa harus rumah ini??"
Dengan tegas, Istri dokter Gabriel menolak kedatangan Jennie di rumahnya. Dia tidak ingin orang asing masuk ke dalam rumahnya, apalagi dia seorang wanita. Karena Wanita itu tahu, perempuan seperti Jennie itu adalah tipe perusak rumah tangga orang.
Dan dia tidak ingin rumah tangganya yang sudah berjalan selama hampir 10 tahun, berakhir begitu saja karena orang ketiga. Sementara itu, Jennie yang mendapatkan penolakan dari istri dokter Gabriel merasa tidak terima dan tersinggung. Dokter Gabriel mengijinkannya tinggal di rumahnya, tetapi istrinya malah melarangnya.
"Jadi orang jangan ingin menang sendiri, suamimu saja mengijinkanku untuk tinggal di sini tapi kenapa kau malah menentangnya?! Jadi wanita harus sadar diri sedikit dong!!"
"Yang seharusnya sadar diri itu kau bukan aku!! Memangnya siapa kau sampai-sampai aku harus memberimu ijin untuk tinggal di sini?! Ini adalah rumahku, jadi terserah aku mengijinkanmu untuk tinggal ataupun tidak!! Cepat usir wanita ini pergi dari sini, aku tidak bisa menerima kedatangan orang asing di rumah ini!!"
Dokter Gabriel merasa tidak enak pada Jennie, dia yang memintanya untuk ikut tinggal bersamanya tapi ternyata istrinya malah melarangnya. Dan dokter Gabriel tidak bisa berbuat apa-apa, karena yang ia tempati adalah rumah istrinya.
"Maaf, Jennie. Aku tidak bisa mengijinkanmu tinggal di rumah ini, sebaiknya kau tinggal di tempat lain saja ya. Ini adalah rumah istriku, dan aku tidak bisa membantah ucapannya. Sebaiknya kau pergi saja."
"Tapi dokter, Gabriel~!!"
__ADS_1
"Apa kau tuli?! Gabriel sudah mengusirmu, jadi cepat pergi dari rumah ini!!"
Jennie menghentakan kakinya seraya menatap tajam ke arah istri Gabriel. Dengan membawa emosi dan amarah, Jennie meninggalkan kediaman dokter tampan itu. Bukan berarti Jennie telah kalah, tetapi dia hanya mengalah. Dan Jennie bersumpah akan merebut dokter Gabriel dari istrinya itu, apapun dan bagaimana pun caranya.
"Lihat dan tunggu saja gimana aku akan membalas perempuan itu. Aku pasti akan merebut dokter Gabriel darinya!!"
-
-
"Untuk apa kau membawaku kesini?"
Steven menatap Jessica penuh kebingungan ketika wanita itu membawanya ke sebuah makam dengan bertuliskan nama 'Baby Valerie'. Sepertinya Steven masih belum sadar jika yang ada di hadapannya itu adalah makam anaknya dengan Jessica.
Sontak Steven menoleh dan menatap wanita disampingnya itu dengan tatapan bertanya. Dia membutuhkan penjelasan.
"Apa kau masih ingat dengan ceritaku hari itu? Jika aku pernah ternoda dan melahirkan, tetapi anak yang aku lahirkan tidak selamat. Dan disinilah dia dimakamkan, dan anak itu adalah kecebong yang kau tanamkan di dalam perutku 4 tahun yang lalu!!" Tutur Jessica seolah-olah mengerti apa yang ada dipikiran Steven.
"Jadi bayi yang kau bahas hari itu adalah anakku?" Jessica mengangguk.
Lalu pandangan Steven bergulir pada makan kecil yang ada di depannya. Tatapannya berubah sendu dan berkaca-kaca. Kemudian Steven berlutut di depan makam tersebut. Dengan tangan gemetar, Steven mengusap nisan di depannya.
__ADS_1
Sementara itu. Jessica tak mampu berkata-kata melihat Steven yang tampak begitu terpukul setelah dia memberitahukan kebenaran itu padanya. Bagaimanapun juga Steven adalah ayah dari anaknya, dan dia berhak tahu jika anak mereka telah tiada.
Tiba-tiba datang seorang laki-laki paruh baya menghampiri mereka berdua. Jessica kebingungan kenapa lelaki paruh baya itu menghampirinya. Dan Jessica mengenal siapa laki-laki itu, dia adalah paman penjaga makam.
"Nona Valerie, kebetulan Anda datang. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Anda. Sebenarnya, tidak pernah ada bayi yang dimakamkan di sini. Dan makam yang sering Anda datangi ini kosong, saya sendiri yang membuatnya. Saat itu Nyonya datang menghampiri saya dan meminta dibuatkan makan, dia memberikan sejumlah uang pada saya sebagai imbalan dari apa yang dia minta."
Keterkejutan terlihat jelas kedua mata Jessica setelah mendengar apa yang disampaikan oleh paman penunggu makan. "Jadi maksud paman, makam ini palsu dan tidak pernah ada bayi yang dikuburkan disini?!" Jessica memastikan.
Paman penjaga makam itu mengangguk membenarkan. "Benar, Nona. Saya sendiri tidak tahu apa maksud Nyonya Valerie meminta saya membuatkan makam ini." Ucapnya.
"Aku sudah tau, sejak awal memang ada yang tidak beres. Aku tau jika selama ini Mama sudah menyembunyikan sebuah rahasia yang sangat besar dariku, dan aku akan mencari tahunya sekarang!!"
Tanpa menghiraukan Steven. Jessica pergi begitu saja. Dia harus segera menemui ibunya, Jessica membutuhkan sebuah penjelasan karena dia yakin sang ibu memang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Sica, tunggu!!" Seru Steven seraya mengejar Jessica yang semakin menjauh.
Di tengah langkahnya. Steven menghubungi Leon dan memintanya untuk segera mencari tahu dimana tempat Jessica melahirkan empat tahun yang lalu. Steven harus menyelidikinya karena dia yakin jika anaknya dengan Jessica masih hidup.
-
-
__ADS_1
Bersambung.