
Jessica mendekati Monik lali berbisik sesuatu di telinganya. Membuat kedua matanya membulat sempurna. Jessica memamerkan sebuah seringai tipis dibibir merah mudanya. Sepertinya dia mengetahui sesuatu tentang Monik.
"Jadi jangan macam-macam jika kau tidak ingin rahasiamu sampai terbongkar!!" wanita itu menepuk bahu Monik seraya tersenyum tipis.
Monik menatap Jessica penasaran. Dia menarik lengan Jessica dan mengunci langsung ke dalam matanya. "Katakan padaku, bagaimana kau bisa tahu tentang rahasiaku?" Tanya Monik.
Jessica menyentak tangan Monik dari lengannya, sudut bibirnya tertarik ke atas. Lali wanita itu mendekati Monik dan berbisik di telinga kanannya. "Apa kau sangat penasaran bagaimana aku bisa tahu jika kau memiliki bisul di pantat kirimu?" Bisik Jessica sambil menahan tawa.
"Jangan macam-macam apalagi mencoba menyebarkan aib itu pada orang lain, atau kau akan menanggung sendiri akibatnya!!" Ucap Monik memberi ancaman.
Jessica tersenyum lebar. "Kau mencoba mengancamku? Baiklah, aku bisa memastikan rahasiamu itu tetap aman di tanganku tapi dengan satu syarat. Kau harus memberiku imbalan, dan itu tidak murah."
"Katakan, apa yang sebenarnya kau inginkan? Coba memerasku?"
Jessica menggeleng. "Bukan menggeleng, lebih tepatnya membuat kesepakatan. Kau untung aku pun juga untung. Rahasiamu tetap aman, dan aku mendapatkan imbalan. Bukankah kita berdua sama-sama diuntungkan?"
"Jangan banyak basa-basi, cepat katakan apa yang kau inginkan sebenarnya?"
Jessica memainkan kuku-kuku jarinya yang terhiasi kutek merah dan hiasan kuku lainnya. Lalu pandangannya kembali pada Monik.
"Em, sebenarnya yang aku inginkan itu mudah kok. Layani aku selama satu Minggu, maka aku akan memastikan rahasiamu tetap aman di tanganku. Tapi jika kau tidak mau juga tidak apa-apa, itu artinya kau sudah siap dipermalukan untuk kedua kalinya. Apalagi ada panu juga di punggung dan paha kananmu. Jika foto-foto ini sampai tersebar, pasti akan menjadi trending topik hangat bulan ini!!"
"Berikan ponsel itu padaku!!" Monik hendak merebut ponsel Jessica, namun berhasil dicegah olehnya
Wanita itu tersenyum meremehkan. "Eit, tidak semudah itu Nyonya. Jadi pikirkan baik-baik tentang penawaranku. Aku akan memberimu waktu 6 jam untuk berpikir. Jika kau sudah menentukan keputusan, segera beritahu aku. Lewat 6 jam aku anggap kesepakatan kita batal. Suamiku sudah datang, kalau begitu aku pergi dulu, bye-bye."
"Tunggu!!" Seru Monik menghentikan langkah Jessica. Kemudian wanita itu berbalik dan menatap ibu dua anak tersebut. "Oke, aku setuju dengan syaratmu. Tapi ingat, jangan sebarkan foto-foto itu!!"
Jessica tersenyum lebar. "Nah begitu dong. Kenapa tidak dari tadi saja? Kau terlalu membuang banyak waktuku!!"
__ADS_1
Steven yang memang tidak tau apa-apa merasa penasaran setelah mendengar obrolan Jessica dan Monik. Entah apa lagi yang Jessica lakukan padanya sampai-sampai membuatnya begitu tertekan. Dan Steven sedikit terkejut melihat rambut Monik yang botak tanpa sehelai rambut pun.
-
-
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, nasib sial berkali-kali menimpa Jennie. Wanita itu akhirnya menyerah dan memutuskan untuk kembali ke Korea. Lebih baik dia kembali pada ibunya daripada harus terus-terusan terlunta-lunta di negeri orang.
Akan tetapi bukan perkara mudah untuk ia bisa kembali ke Korea. Jennie tidak memiliki paspor ataupun uang untuk membeli tiket pesawat, dia kehilangan paspornya sekitar satu bulan yang lalu. Dan Jennie tidak memiliki pilihan lain selain menghubungi ibunya. Hanya dia yang bisa membantunya pulang.
"Ma, sebenarnya kau ini sedang ngapain saja sih? Kenapa telfonku tidak kau angkat?"
Berkali-kali Jennie mencoba menghubungi nyonya Valerie, namun sayangnya tak ada jawaban. Panggilan itu tersambung tetapi Ibunya tak menjawabnya. Dan itu membuat Jennie sangat frustasi.
"Sial!! Kenapa nasibku harus berakhir seperti ini?! Jika saja aku tidak kabur dari pernikahan dan lebih memilih pergi bersama bajingan itu. Pasti hidupku tidak akan berakhir setragis ini!!" Jennie menyesali keputusannya hari itu.
"Jessica, dia yang sekarang menikmati hasilnya. Tidak bisa, aku tidak mungkin membiarkan dia bahagia dengan pernikahan itu. Sejak awal dia hanyalah seorang pengganti, dan tempat dia sejarang seharusnya adalah milikku sejak awal. Masa bodoh dengan si pecundang lumpuh itu, pokoknya aku harus mendapatkan posisiku kembali, harus!!"
-
-
"Hachu!!!"
Tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba Jessica bersin. Ada sebuah mitos, menurut orang-orang dari jaman kuno, jika bersin tiba-tiba itu artinya seseorang sedang membicarakan kita.
Steven sontak menoleh dan menatap Jessica penuh tanya. "Kenapa, apa kau sakit?" Tanyanya memastikan.
Jessica menggeleng. "Tidak, aku tidak apa-apa dan baik-baik saja. Mungkin saja saat ini ada yang sedang membicarakanku. Kata orang tua jaman dulu, bersin tiba-tiba berarti seseorang sedang membicarakan kita." Jawabnya.
__ADS_1
Alis Steven saling bertautan mendengar jawaban Jessica. Kenapa dia tidak pernah mendengarnya, jika bersin tiba-tiba itu artinya ada yang membicarakan kita. "Kenapa aku baru tau? Lalu apa yang tadi kau bicarakan dengan wanita itu? Kenapa dia terlihat sangat panik?" Mengatasi sikap penasaran.
Alih-alih menjawabnya. Jessica malah tertawa keras dan membuat Steven bingung. Memangnya apa yang salah dengan pertanyaannya, kenapa Jessica sampai tertawa sekeras itu?
"Oh itu, sebenarnya aku memiliki sebuah rahasia yang tidak boleh aku ceritakan ke siapa pun. Tapi sepertinya aku akan mengecualikan dirimu."
"Ck, jangan muter-muter dan langsung katakan saja!!"
"Aish, kenapa kau ini malah tidak sabaran sekali?! Baik-baik aku akan mengatakannya. Sebelum aku menyetrumnya pagi itu. Aku sempat melihat dia memiliki bisul dan panu. Aku memotretnya dan aku jadikan sebagai bahan ancaman untuk menekannya. Dia marah dan meminta aku untuk segera menghapusnya. Tapi aku memberikan sebuah syarat padanya!!"
Steven menautkan alisnya. "Syarat apa?" Tanyanya penasaran.
"Dia harus menjadi babuku selama satu Minggu jika mau rahasianya tetap aman. Dan dia menyetujuinya."
Steven mendengus. Dia pikir syarat yang seperti apa. Ternyata menjadikan wanita itu sebagai babu, tapi syarat Jessica memang oke juga. Benar-benar mampu memanfaatkan keadaan.
Ckittt...
Steven tiba-tiba mengerem mendadak karena hampir saja melindas tubuh orang yang terkapar di jalan. Jessica hendak turun untuk memastikannya tapi segera di tahan oleh Steven.
"Jangan keluar!! Ini jebakan, sepertinya ada oknum-oknum tak bertanggungjawab yang berusaha memanfaatkan pengguna jalan untuk mendapatkan keuntungan. Dia hanya berpura-pura dan tidak sendirian, tapi berkelompok. Lihat dibalik semak-semak itu, disanalah komplotannya bersembunyi."
Lalu Jessica mengikuti arah tunjuk Steven. Dan benar yang dia katakan. Beberapa pria bersembunyi di balik semak-semak itu. Jessica menatap suaminya ini tak percaya, benar-benar tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi. Benar-benar seorang pemimpin sejati. Tapi sayangnya Jessica tidak suka jika hanya diam dan tidak memberi sedikit pelajaran pada orang-orang itu.
Wanita itu menoleh dan mata mereka saling bersirobok. "Tapi bukan berarti kita harus membiarkannya!! Kita harus memberikan sedikit pelajaran pada mereka. Dan kebetulan sudah lama sekali aku tidak berilah raga." Ucapnya dengan seringai yang sama.
"Baiklah, aku ikuti rencanamu!!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.